Mari Sejenak Menertawakan Para Pembid’ah, Heheh

Dewasa ini, sering sekali kita mendengar kata-kata “bid’ah” meluncur mulus dari mulut-mulut manis yang pandai berdalil dan berdalih ketika memperdebatkan satu masalah. Di antara perdebatan tentang “bid’ah” yang banyak terjadi di tengah-tengah kita adalah soal perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Ada yang merayakannya dengan bangga dan suka cita, juga ada yang mengutuk dengan membid’ah-bid’ahkannya karena maulid dianggap tidak ada di zaman Nabi dan Nabi tidak melakukannya. Sebenarnya siapa yang benar ?? Dan salah kah mereka yang suka menyalahkan ?? Menarik untuk didiskusikan.

Maulid artinya kelahiran. Memperingati maulid Nabi Muhammad SAW berarti merayakan kelahiran baginda besar Nabi Muhammad SAW. Merayakannya pun bukan sembarang merayakan. Mulai dari membacakan biografi dan profil sang Nabi, sampai pembacaan perjalanan hidup beliau pun tak luput dari esensi maulid itu sendiri. Di samping itu, hidangan dan jamuan yang biasanya tersedia di acara maulid juga menjadi ladang pahala bagi mereka yang ingin bersedekah dan berbuat baik. Bahkan sebelum pembacaan maulid, hampir selalu diawali dengan pelantunan ayat suci Al-Qur’an dan ditutup dengan ceramah agama yang dapat menyejukkan hati dan jiwa. Sampai di sini, dapat kita simpulkan sementara bahwa maulid itu selalu diisi dengan kebaikan-kebaikan yang entah kenapa harus dibid’ah-bid’ahkan oleh sekelompok golongan.

Memahami hadits secara tekstual terkadang dapat menciderai akal sehat kita. Ada baiknya tidak semua hadits ditelan mentah-mentah, melainkan juga harus dilihat dengan kacamata yang lebih besar secara kontekstual agar tidak salah paham dan dengan bangga menyebarkan kesalahpahaman dengan embel-embel “Kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadits”. Seakan setiap orang yang tidak sejalan dengan mereka, tidak punya ruang kebenaran dalam hidup dan beragama. Maulid bid’ah, ziarah kubur syirk, tawasul kafir, dan seterusnya. Kalimat ini lah yang sejatinya meresahkan umat Islam ketika terus menerus terdengar di tengah-tengah masyarakat. Sederhananya, agar aroma caci maki tidak lagi menyerbak lebih luas, sebaiknya jika tidak ingin maulid silakan membaca biografi Nabi, kalau tidak berkenan ziarah kubur silakan bersilaturrahmi, andai tidak mau bertawasul silakan berdoa dan bermunajat sendiri. Kenapa harus menghukumi orang lain kalau memang tidak sama dan tidak mau diajak untuk sama ?? Meminjam kalimat populer dari Gus Dur, “gitu aja kok repot”.

Di antara sekian banyak hadits yang menjadi amunisi mereka dalam membid’ahkan beberapa amalan kita, ada satu potongan hadits yang dijadikan dasar (yang ternyata tak berdasar) di kalangan mereka tentang segala fenomena yang tidak ada di zaman Nabi, termasuk perayaan maulid yang menurut mereka adalah bid’ah.

كُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Semua yang baru adalah bid’ah, setiap yang bid’ah adalah sesat, dan sesat itu tempatnya di neraka”

Kalau kita terjemahkan hadits di atas secara harfiah, memang akan menghasilkan makna dan bunyi seperti itu. Pemahaman yang muncul pun akan serupa dengan mereka yang mengatakan bahwa maulid itu bid’ah dan kesimpulan akhirnya adalah sesat. Tapi jika kita ingin menyelami makna hadits ini lebih dalam lagi, maka kita akan mendapati mutiara pesan yang sejati dari Nabi Muhammad SAW secara jelas dan lugas bahwa tidak semua yang baru itu sesat. Maka dari itu, mari sesekali gunakan logika kita dalam membangun pola pikir.

Perlu dipahami sebelumnya, bahwa kata “bid’ah” itu mempunyai definisi secara etimologi/bahasa dan terminologi/istilah. Betul, bid’ah menurut bahasa adalah sesuatu yang baru dan diciptakan tanpa didahului contoh sebelumnya. Namun apabila kita gunakan definisi bid’ah secara bahasa dalam pemahaman hadits di atas, justru akan merugikan dan menjadikan kita sebagai manusia yang tidak berkembang sebab terpaku pada bayang-bayang kesesatan ketika ingin menciptakan hal yang baru. Bukan hanya persoalan ibadah, tapi juga menyangkut kehidupan kita sehari-hari.

Apakah adil ketika kita mengatakan bahwa semua yang tidak ada di zaman Nabi dan tidak dilakukan oleh Nabi itu bid’ah dan sesat ?? Kalau memang seperti itu, alangkah bid’ah dan sesatnya hidup kita saat ini. Motor dan mobil yang kita pakai sehari-hari itu tidak ada di zaman Nabi. Handphone yang sedang kita genggam pun ternyata Nabi tidak pernah menggengamnya. Silakan menunggangi unta jika ingin pergi ke tanah suci, karena di zaman Nabi pesawat belum ada landasannya. Dan jangan sekali-kali membaca Al-Qur’an yang ada di lemari masjid, sebab dahulu Al-Qur’an hanya ditulis di pelepah kurma, kulit-kulit binatang, dan lain sebagainya. Bagaimana ?? Cukup sesat kah umat Islam sedunia hari ini ??

Namun yang dimaksud Nabi dalam hadits tersebut adalah definisi bid’ah secara istilah, yaitu segala sesuatu yang baru dan tidak didasari dalil yang sesuai dengan tuntunan syariat serta menyalahinya. Lantas, pemahaman kontradiktif (mafhum mukholafah) yang spontan terbangun di logika kita adalah ketika sesuatu yang baru itu didasari dalil yang sesuai dengan tuntunan syariat dan tidak menyalahinya maka hal tersebut tidak lah dianggap bid’ah dan sesat sebagaimana yang dimaksud matan hadits. Dan pemahaman sejalan (mafhum muwafaqoh) yang muncul di kerangka berpikir kita adalah ketika hal yang baru itu menyalahi aturan dan tidak ada dalil yang sesuai dengan tuntunan syariat maka baru bisa dikategorikan bid’ah dan sesat. Seperti menambah bilangan roka’at sholat maghrib menjadi empat, mengurangi bilangan roka’at shubuh menjadi satu, atau pun menambah jumlah maksimal istri menjadi 5, bahkan enam. Waduh heheh.

Di zaman Nabi, sholat tarawih tidak terus menerus dilakukan secara berjama’ah, Nabi melakukannya hanya beberapa kali saja dalam sebuah riwayat karena khawatir dianggap wajib oleh para sahabat. Namun ketika Sayyidina Umar menjabat sebagai khalifah, beliau mempunyai inisiatif untuk kembali menghadirkan sholat tarawih secara berjama’ah dengan alasan supaya lebih baik dan lebih syiar dalam berislam. Ini berdasar dan tidak menyalahi aturan.

Pun demikian yang dilakukan oleh Sayyidina Abu Bakar pada masa kepemimpinannya, yaitu program mengumpulkan mushaf Al-Qur’an yang terpisah-pisah karena khawatir Al-Qur’an akan lenyap sebab banyak para penghafal Al-Qur’an yang gugur di medan laga dalam peperangan Yamamah. Kemudian disempurnakan pengumpulan dan penyatuannya oleh Sayyidina Utsman dalam satu mushaf yang kita kenal dengan “Mushaf Utsmani” dengan alasan banyaknya perbedaan bacaan yang beredar di kalangan umat Islam. Ini pun tak menyalahi syariat dan jelas ada kebaikannya untuk umat Islam itu sendiri.

Pertanyaannya, apakah Sayyidina Umar terjebak dalam kesesatan bid’ah karena memerintahkan apa yang Nabi tidak katakan ?? Berani kah kita mengatakan bahwa Sayyidina Abu Bakar itu sesat karena menciptakan sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi ?? Demikian juga Sayyidina Utsman akan menjadi tokoh dan ahli bid’ah sedunia sebab melakukan apa yang Nabi tidak lakukan pada masa hidupnya. Kalau pemahaman kita tentang bid’ah seperti itu, mari sama-sama beristighfar dan meminta ampun kepada Allah karena telah menerakakan tiga di antara sepuluh sahabat yang telah dijamin masuk surga (الْعَشَرَةُ الْمُبَشَّرُوْنَ بِالْجَنَّةِ). Wallahu a’lam.

Syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi (Allah yarham) dalam salah satu ceramahnya pernah menerangkan hukum merayakan maulid Nabi Muhammad SAW. Beliau membawa satu kaidah ushul yang berbunyi;

تَرْكُ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِفِعْلٍ مِنَ الْأَفْعَالِ لَيْسَ دَلِيْلًا عَلَى حُرْمَتِهِ

“Sesuatu perbuatan yang ditinggalkan dan tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bukan menjadi dasar atas keharaman hal tersebut”

Apakah Nabi Muhammad SAW makan menggunakan sendok dan garpu seperti yang kita sering lakukan ketika makan ?? Tidak, Nabi Muhammad makan menggunakan tangan mulianya. Lalu apakah sendok dan garpu menjadi haram karena Nabi Muhammad tidak pernah menggunakannya ?? Asal tidak melanggar syariat dan ajaran yang berlaku, mengapa sendok dan garpu harus disebut haram dengan alasan Nabi meninggalkannya ?? Pun demikian dengan maulid. Bukan berarti maulid itu haram karena Nabi tidak melakukannya. Asal tidak melanggar syariat dan ajaran yang berlaku, mengapa maulid harus disebut bid’ah, sesat, dan haram ?? Lagi pula di dalam maulid itu sendiri tidak ada hal-hal yang menyalahi tuntunan syariat yang dibawa Nabi.

Bahkan kalau kita lebih jeli dalam memahami persoalan perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW, kita akan mendapati bahwa beliau sendiri lah orang yang pertama kali mempelopori untuk merayakan kelahirannya. Kenapa bisa demikian ?? Ketika Nabi ditanya tentang puasa di hari senin, beliau menjawab; “Di hari itu lah (hari senin) aku dilahirkan”. Ini membuktikan bahwa Nabi sendiri yang mengajarkan kita untuk memperingati hari lahirnya sesosok agung ke muka bumi ini yang sejatinya untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Apa kita tidak boleh ikut merayakannya ??

Kesimpulannya, mari memahami hadits secara menyeluruh agar pikiran kita tidak diciderai oleh kesimpulan-kesimpulan cepat ala bid’ah, syirk, dan kafir yang sering dialamatkan kepada orang-orang yang suka bermaulid, ziarah kubur, dan bertawasul. Karena mereka yang melakukan maulid dan seterusnya, mempunyai dasar yang kuat untuk tetap eksis memegang ajaran baik dari para pendahulunya yang saleh untuk terus dilestarikan ke anak cucu mereka sampai datang hari di mana tak berguna lagi harta dan anak cucu.

Setidaknya tulisan ini mampu mengimbangi pemahaman yang beredar di tengah masyarakat tentang maulid itu bid’ah dan lain sebagainya. Karena semakin kencang suara itu terdengar, semakin kencang pula terdengar di telinga kita bahwa mereka harus segera diberitahu agar selamanya tidak seperti itu. Tapi kalau mereka masih belum juga sadar dengan tetap meyakini bahwa maulid itu tak berdasar dan tergolong bid’ah, mari menertawakan sejenak para pembid’ah di lekar-lekar mushola dan meja belajar kita sambil terus belajar ilmu agama, bukan hanya semangat dalam beragama. Hehe …

About Imamuddin Muchtar 3 Articles
Imamuddin Muchtar, kelahiran Depok. Pernah aktif di komunitas Al-Kindi dan memenangkan beberapa kali lomba debat berbahasa Arab tingkat nasional. Kini menekuni menjadi pelatih debat di UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.