Sosial Agama

Masa Depan (tafsir) Agama di Indonesia

Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif pernah menyampaikan pada sambutanya dalam buku Ilusi Negara Islam yang bersumber dari penelitian panjang hasil kerjasama NU, Muhammadiyah, dan Lib For All Fundation tentang kekhawatirannya dan teman-teman muslim moderat tentang masa depan Islam di Indonesia. Ketakutan Syafi’i Maarif, terutama dipicu oleh potensi perkembangan wacana Negara islam di tengah umat islam di Indonesia yang terasa semakin menguat. Perjalanan panjang bagsa ini memang pernah mengalami pergulatan dengan para penganut ideologi Khilafah-takfiri. Pemberontakan S. M. Kartosoewirjo dengan DI-TI nya, merupakan gambaran nyata dari pergulatan ideology tersebut.

Sejarah kelam yang pernah menyelimuti perjalanan Bangsa ini mungkin secara sekilas tidak perlu dikhawatirkan akan terulang kembali. karena di Indonesia terdapat dua ormas Islam besar, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang menjadi pengawal tradisi berpikir umat Islam hingga menjadi umat yang selalu berpikir moderat. Namun yang menjadi kekhawatiran Syaf’i Maarif (2009) adalah ketika umat islam Indonesia mulai kehilangan daya nalarnya sehingga dengan mudahnya menghakimi setiap orang yang berbeda paham dengannya yang monolitik sebagai orang yang salah, sesat, kafir. Hal ini kemudian merembet, bukan hanya penyesatan dan pengkafiran pada seseorang atau kelompok, tapi juga sistem. Setiap sistem yang tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan dianggap sebagai sistem yang sesat.

Akhir-akhir ini apa yang menjadi kekhawatiran Syafi’i Maarif mulai muncul ke permukaan. Umat islam di Indonesia mulai tergoda untuk menghindari sikap moderat, toleran. Berawal dari kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada gubernur non aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), penyerangan Mako Brimob hingga serangan terorisme yang terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu adalah bukti kongkrit bahwa ideologi takfiri yang ada di Indonesia mulai menunjukkan taringnya.

Wocoen   Jalan Panjang Perdamaian

Konsep takfiri, yang mengkafirkan setiap orang atau golongan yang dianggap berbeda nampak menjadi pijakan awal yang  bukan sangat tidak mungkin akan dikembangkan menjadi wacana Negara Islam (NI) di mana semuanya harus serba syari’at, serba islami. Bukan hanya pemimpinya melainkan juga sistemnya. Itu berarti, Indonesia saat ini harus dirubah. Dalam pandangan orang yang berhaluan NI Indonesia harus dirubah dan dibangun dari awal. Yang kemudian perlu diperhatikan adalah proses perubahan yang diusung oleh golongan tersebut.

Memang sejak awal, konsep Negara Islam telah menjadi salah satu perdebatan panjang di kalangan para founding father di negeri ini. Ada golongan yang memang dari awal menginginkan agar Negara ini bercorak islam, meskipun pada akhirnya “kalah suara” dengan mereka yang menginginkan agar Negara ini menjadi Negara yang merangkul semua agama yang ada saat itu. Hal ini tergambar dalam sila pertama dari pancasila yang pada awalnya mencantumkan kata “menjalankan syariat islam” sebelum akhirnya dirubah dengan ketuhanan Yang Maha Esa, yang berarti mencakup semua agama yang ada di Indonesia saat itu.

Seiring dengan berjalanya waktu, tafsir agama yang menerima berbagai perbedaan, yang toleran dan moderat, berkembang semakin kuat di negeri ini. Meskipun tidak dapat dipungkiri, Indonesia pernah mengalami pemberontakan dari kelompok-kelompok yang menginginkan pendirian Negara Islam. Pemberontakan tersebut misalnya dilakukan oleh Kahar Mudzakkar di Sulawesi Selatan, dan juga yang paling fenomenal adalah Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo yang mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia di Gunung Cupu, Tasikmalaya, Jawa Barat. Pemberontakan seperti ini masih bisa ditangkis karena memang umat islam Indonesia yang anti Negara Islam saat itu masih mendominasi.

Pengaruh besar ormas ormas islam yang anti ekstrimisme di negeri ini seperti NU dan Muhammadiyah menjadikan Indonesia sebagai Negara yang toleran serta menjadi contoh ideal bagi Negara-negara islam di dunia. Meskipun perlu diakui masih ada beberapa titik di mana rakyat Indonesia masih bisa dibilang tidak toleran, namun secara umum sikap saling menghargai, saling menghormati sudah cukup kuat tetanam di hati rakyat Indonesia.

Wocoen   Nihilnya Equality Before The Law di Indonesia

Namun, wacana keagamaan yang moderat, toleran, dan saling menghargai yang telah lama menghiasi cara berpikir umat islam Indonesia sekarang mulai berubah. Umat islam negeri ini mulai tertarik untuk mengikuti  arus pemikiran yang serba syari’at. Pemikiran ini berkembang seiring dengan semakin banyaknya anak muda di Indonesia yang tertarik terhadap agama dan disaat yang sama mereka “terjebak” pada pemikiran agama yang cenderung ekstrim.

Wacana Islam di Media

Hal ini tidak begitu mengherankan karena memang sekarang pasar wacana keagamaan dikuasai oleh orang-orang/kelompok yang keislamanya cenderung tertutup dan ekstrim. Media-media yang menjadi sumber pengetahuan agama bagi orang awam yang penasaran dengan agama didominasi oleh wacana Islam yang tidak toleran. Kesalah-kaprahan dalam pemhaman agama yang berkembang di media di Tanah air terutama dipengaruhi oleh penafsir agama di media yang seringkali berbicara fiqh, namun berteriak syari’at, mengulas tafsir  tapi mengaku bicara atas nama ayat Qur’an.

Dengan teriakan-teriakan lantang seperti ini, beberapa muslim awam yang belum memahami agama secara cukup tapi mempunyai minat agama yang kuat jadi semacam tergoda untuk masuk ke dalam goa yang namanya terdengar indah namun belum mereka ketahui isi di dalamya.

Wacana Islam yang ekstrim ini bukan sangat tidak mungkin akan menguasai Indonesia jika kelompok moderat masih saja bungkam terhadap pengaruh media yang kini dikuasai oleh kelompok ekstrimis. Kita tidak usah terlalu mengandaikan terlalu jauh untuk masalah ini. Saat kita lihat wacana Islam yang berkembang di media-media belakangan ini, akan kita melihat bagaimana pola perkembangan wacana ekstrim tersebut. keadaan ini, bukan sangat tidak mungkin akan semakin memburuk jika umat Islam moderat, sekali lagi hanya diam melihat perkemabangan wacana Islam.

Wocoen   Esensi “Kesalehan” Masa Kini
Tags

Hamdani Mubarok

Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close