Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Mawas Diri atas Musibah Orang Lain adalah Baik, yang tidak Baik itu Menghakiminya

Hanif N. Isa 2 min read 0 views

Pasca-Gempa-dan-Tsunami-Palu-Warga-Jarah-Pertokoan-dan-SPBU

[dropcap]U[/dropcap]ntuk sekian kali saya dibikin sebel sebab tidak sengaja mendengar obrolan orang-orang di kampung tentang bencana alam yang belakangan menimpa saudara-saudara kita di beberapa daerah di Indonesia. Obrolan ini tidak terbatas di mana pun berada. Yang acap kali saya dengar, ya di warung kopi —di mana lagi tempat yang sering dikunjungi orang menganggur seperti saya kalau bukan di warung kopi.

Selain isu politik dengan segala efek positif (memang positifnya  apa?) dan negatifnya bagi masyarakat, perbincangan tentang bencana alam dalam beberapa bulan terakhir memang masih menjadi perbincangan menarik yang sering ditemui di mana-mana terutama di warung kopi di pojok-pojok kampung. Cukup menarik bila obrolan ini minimal bisa membangkitkan simpati dan prihatin masyarakat terhadap orang yang tertimpa bencana. Syukur jika kemudian ada aksi peduli berupa gotong royong turut serta meringankan beban mereka yang sedang susah. Lha ini yang sering kali saya temui malah obrolan-obrolan yang isinya nyinyir terhadap masyarakat yang ditimpa musibah tersebut. Lho kok bisa?

Saat terjadi bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita seperti sekarang ini, sebagian orang —atau banyak orang— langsung menyimpulkan bahwa ini adalah azab buat mereka yang dilanda bencana. Bahkan lebih jahat lagi, sekelompok orang mengaitkan bencana alam tersebut dengan politik.

Saya teringat candaan KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus pada suatu kesempatan dalam pengajian beliau. Beliau mengatakan, selain malas berpikir, salah satu kebiasaan orang Indonesia yang juga beliau pandang dengan ‘skeptis’ adalah cepat menyimpulkan segala sesuatu masalah yang dihadapi —bahkan terhadap masalah yang cuma sekadar mereka lihat, tanpa menyelidiki lebih dalam terlebih dahulu.

Setiap melihat suatu masalah atau peristiwa baru, seseorang cenderung cepat-cepat menyimpulkan. Ia akan malas berpikir terlalu banyak. Guna menyelidiki dan mempelajari kronologi suatu peristiwa, berita atau masalah yang dilihat, tentu seseorang dituntut untuk dapat melihat dan menggali informasi tentang obyek peristiwa tersebut lebih dalam lagi.

Wocoen   Melebur Sekat-sekat Perbedaan dalam Makna Hakiki

Sebenarnya mengaitkan bencana alam dengan azab adalah hal yang wajar, tidak salah dan sah-sah saja. Apalagi jika seseorang memahami bahwa pandangan tersebut dibentuk oleh doktrin pengetahuan yang telah diberikan sejak kecil.

Sebagai penerima informasi dongeng orang tua saat masa kecil, saya mempercayai semua dongeng-dongeng yang kita konsumsi di masa kecil tersebut tentang hukuman alam semesta pada manusia yang menyalahi aturan sesungguhnya memiliki kekuatan untuk mempengaruhi cara pandang dan membentuk karakter manusia di masa depan.

Hakikatnya, semua cerita-cerita tentang kemurkaan alam semesta itu ingin mengajak setiap manusia untuk mawas diri dan memeriksa diri sendiri. Yang menjadi persoalan, kebanyakan orang lebih memilih untuk saling tuding dan menghakimi yang lain.

Permasalahan yang selanjutnya adalah cara pandang seseorang dalam memaknai, mengidentifikasi, dan menarik kesimpulan atas kesalahan seperti apa yang membuat alam semesta murka hingga terjadi bencana. Pendoktrinan sempit mengenai ajaran agama yang telah dibentuk sejak lama membuat kebanyakan masyarakat hanya berpikir tentang dosa-dosa yang sifatnya personal: LGBT, mabuk-mabukan, berzina, tidak menjalankan ibadah mahdhoh, dan membuka aurat. Oleh sebabnya selalu saja saat terjadi bencana hal-hal seperti tersebut yang pertama diingat.

Lama sekali kita tak pernah dibiasakan untuk memaknai tindakan baik, buruk, pahala atau dosa sebagai sesuatu yang sifatnya lebih komprehensif, yang merepresentasi pada relasi keseharian dalam kehidupan nyata antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta. Sejak kecil lingkungan kita tidak pernah mengenalkan kita dengan dosa sosial.

Setali tiga uang, sinetron-sinetron yang tayang setiap hari di televisi turut andil membentuk seseorang menjadi cenderung gemar menyimpulkan suatu musibah dengan menyebutnya azab, lalu menuding dan menghakimi mereka yang tertimpa musibah dengan tuduhan-tuduhan melakukan kemaksiatan yang sifatnya personal.

Wocoen   Bagi Umat Islam, Membahas Persoalan Sampah Plastik tidak lebih Menggoda daripada Meributkan Istilah Kafir

Oleh karenanya tatkala terjadi bencana susah sekali bagi kita untuk mengingat dan melihat persoalan ketidakadilan, penindasan, korupsi, pengrusakan dan eksploitasi alam yang tak lagi mempertimbangkan suara nurani.

Melihat gempa bumi yang terjadi di Palu, Donggala, Sigi, seseorang lebih suka mengatakan bahwa ini adalah azab bagi Palu yang warganya banyak melakukan aktivitas LGBT. Atau mengatakan bahwa gempa yang terjadi di Situbondo tempo hari adalah  akibat dari kemaksiatan dan kesombongan yang dilakukan warganya secara kolektif. Ini sama sekali tidak berdasar dan mengada-ngada. Atau yang lebih politis dengan mengatakan bahwa ini adalah azab bagi bangsa yang dipimpin oleh rezim anti-Islam.

Atau konteks bencana di Lombok, misalnya, lebih mudah bagi seseorang memanfaatkan azab untuk kepentingan politik dengan mengatakan bahwa itu akibat Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi mendukung Jokowi, dibanding mengoreksi diri dan bertanya-tanya: jangan-jangan itu karena pembangunan yang berlebihan? Jangan-jangan itu karena masih ada sesama warga Lombok yang diperlakukan tak adil, yang harus kehilangan rumah dan haknya untuk hidup hanya karena keyakinannya?

Mengaitkan bencana dengan azab boleh saja, asal tidak dijadikan ajang mengutuk, menghakimi atau saling tuding kanan-kiri, dan terjebak dalam dikotomi dosa personal. Apalagi dimanfaatkan sebagai pembentukan opini publik untuk kepentingan politik. Itu sangat tidak patut, gaes.

Dan satu lagi, menertawakan mantanmu yang putus dengan pasangannya boleh saja, asal gak pake mengatakan bahwa itu adalah azab dan mengaitkannya dengan masa lalu kalian berdua.

Hanif N. Isa
Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.