Suhanggono Tukang ngamati media sosial. Lahir di desa Wonoenggal, Kabupaten Purworejo Jateng.

Media Sosial di Masa ‘New Normal’

Suhanggono 1 min read 2 views

Beberapa tahun lalu media sosial (medsos) belum ada, maka kita adalah manusia televisi, koran, majalah. Dihadapkan dengan hal-hal yang sederhana saja. Namun ketika teknologi masuk dan berkembang. Gawai (Hp) menjadi tumpah ruah hampir setiap rumah memilikinya tidak cukup satu buah bahkan lebih dari itu.

Jumlah gawai bahkan bisa melebihi jumlah anggota keluarga. Entah untuk urusan bisnis, untuk komunikasi yang berbeda-beda bahkan untuk hal-hal berbau perpolitikan serta masih banyak alasan lainnya. Medsos berkembang pesat di Indonesia. Berdasarkan hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 pengguna medsos di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya. Sementara pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi.

Tahun 2014 merupakan awal dari semuanya. Suara warganet dapat memengaruhi suara dari kebanyakan yang ada dalam kenyataan. Maka dari itu dari segi pendidikan, perpolitikan, perekonomian utamanya menggunakannya untuk menyebarkan informasi. Sayangnya hal ini tidak bisa dijauhkan dengan penyebaran teks, video bahkan meme yang hoaks.

Hal ini terjadi di dalam sebuah kampanye perhelatan politik yang saling hantam di dunia media sosial. Apa saja akan digunakan untuk sebuah kemenangan elektoral. Bahkan konon ini jurus yang sangat ampuh. Sampai kini semua masih ada dan menjadi sebuah pekerjaan dalam tanda kutip. Atau banyak juga yang bertujuan memviralkan konten untuk mendapatkan endorsemen.

Pengguna media sosial generasi milenial merupakan target pasar bagi mereka. Dan 2019 pun terulang kembali hal yang sama bahkan lebih parah sekali. Hoaks meluas hingga ke grup-grup Whatsapp bukan hanya Twitter, Facebook, Instagram. Walau pemilu telah selesai akan tetapi pertarungan antar pendukung sejati nyatanya tidak. Mereka masih kekeh dengan keputusan waktu pemilu lalu.

Beranjak dari semua itu, mari kita tinggalkan fenomena tersebut. Tahun 2020 musibah dunia melanda hampir 200 negara. Telah mengubah cara pandangan pada banyak hal. Langit dunia nampak bersih dan membiru akibat industri-industri berhenti beroperasi. Hewan-hewan juga keluar ke jalanan dengan santainya. Banyak negara menerapkan di rumah saja. Maksudnya kuliah, sekolah, kerja bahkan belanja kebutuhan dari rumah. Cukup dengan gawai mereka dan koneksi internet maka semuanya akan terlayani.

Media sosial menjadi hiburan tersendiri bahkan aplikasi Zoom sebuah hal baru dilakukan manusia. Rapat, diskusi, banyak dilakukan orang dengan cara daring. Tidak hanya bertukar teks tapi juga gabungan panggilan video bersama-sama kemudian dibagikan ke media sosial lainnya. Youtube yang sudah lama menjadi media berbaginya video kini makin ramai sekali. Bahkan bermunculan video-video unik dan kontroversial.

Pembahasannya pun menjadi banyak pilihan. Media sosial sekarang bukan hanya untuk perpolitikan yang seolah akan membelah berkubu-kubu tapi juga digunakan berkomedi.

Maka mari dengan masa pandemi yang sudah berjalan sebulan ini, dan kemungkinan masih panjang. Kita menggunakan media sosial untuk melepaskan pengap, bosan, gabut agar lebih berwarna. Lawan hoaks, lawan pembelahan kubu. Hidupkan rasa komedi di semua media sosial. Tidak ada yang perlu diseriusi kecuali hubunganmu dengan kekasihmu. Media sosial hanya untuk guyonan ria. Jangan juga dibawa perasaan di dalam pemakaiannya akan sakit rasa kemudian.

Manusia kini akan bergantung pada internet dan gawai. Hal yang paling penting adalah mengendalikan jari-jarimu. Agar tidak menimbulkan kerugian bagi diri sendiri juga orang lain. Maka berhati-hatilah dalam menuliskan informasi dan juga menyebarkannya. Di masa pandemi Corona ini begitu banyak info yang hoaks, juga menyakiti orang lain. Kemudian viral di mana-mana jangan sampai kemudian berujung dalam penjara.

Suhanggono
Suhanggono Tukang ngamati media sosial. Lahir di desa Wonoenggal, Kabupaten Purworejo Jateng.

One Reply to “Media Sosial di Masa ‘New Normal’”

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.