Budaya

Melebur Sekat-sekat Perbedaan dalam Makna Hakiki

Merge the Barriers of Difference in the Meaning

Sudah 73 tahun kita merasakan kemerdekaan menjadi bangsa yang terlepas dari cengkeraman kolonialisme. Tidak ada lagi kerja paksa dibawah tekanan penjajah. Setiap aktivitas bisa kita lakukan dengan suasana aman tanpa dibayangi dentuman senjata. Bagi ukuran manusia, usia di angka tersebut masa-masa memasuki usia senja. Usia di mana segala kebijakan dalam kebajikan hidup sudah diteguk dengan penerimaan yang penuh keikhlasan. Usia yang menjadi panutan anak-anak muda dalam meminta petuah dan pembelajaran dalam menjalani kehidupan. Usia menjadi pengayom anak, cucu dan buyut di dalam rumah yang kukuh.

Namun pada kenyataannya justru bangsa kita sepertinya masih belum sampai pada titik kesadaran tersebut. Bangsa kita masih kekanak-kanakan. Kita masih disibukkan dengan urusan formalitas. Masih mempermasalahkan hal yang artifisial belum mencapai pada substansi. Meniadakan sekat dalam penyentuhan hakikat. Hal yang paling jelas kejadian di segala zaman yaitu mengenai masalah perbedaan yang masih disikapi dengan sangat dangkal. Perbedaan adalah sunatullah, perbedaan adalah rahmat. Wujud kasih sayang Sang Pencipta perbedaan.

Atas kehendakNya kita diciptakan berbeda-beda; dari suku, bangsa, ras dan yang paling fundamental yakni keyakinan. Hal tersebut sudah barang tentu bukan tanpa tujuan, pasti Tuhan maha tahu mengapa Dia menciptakan perbedaan itu. Lalu dari mana kita bisa tahu maksud Tuhan? Tuhan memberi kita petunjuk (bagi orang-orang yang berpikir) diturunkanNya ayat pertama kitab suci IQRA’ bacalah! Kita diperintahkanNya membaca tidak hanya secara formalitas namun secara makna, bukan sekadar baca abc atau alif ba ta. Kita disuruh membaca kehidupan, membaca pertanda, melalui kejadian, alam, zaman dll.

Alih-alih membaca secara hakikat kita malah abai. Sebaliknya sudah merasa pintar dan berhak menghakimi orang lain manakala kita sudah berguru di mesin pencarian. Kita menafikan untuk memahami kondisi zaman, lingkungan, dan tatanan masyarakat di sekitar kita. Kita masih mengumbar amarah dan mempermasalahkan perbedaan seperti kakak adik yang masih kecil bertengkar berkelahi memperebutkan perhatian. Kita belum bisa memaknai bahwa kebenaran bukan mutlak milik kita sendiri. Kebenaran yang kita klaim tiadalah menjadi mutlak bagi orang lain.

Wocoen   Seng Tuwenang lan Ojo Kagetan

Menurut hukum fisika kuantum diterangkan bahwa kita semua yang ada di bumi ini adalah satu kesatuan dan terkoneksi satu sama lain. Lebih terang lagi bahwa setiap interaksi antara individu dengan semua makhluk akan memengaruhi segala sesuatu di alam semesta ini. Sebuah teori kesadaran yang mendasari keterhubungan semua orang. Dalam kitab suci pun di dikatakan “Tidak ada balasan kebaikan melainkan kebaikan pula”, yang bermakna bahwa ketika manusia berbuat baik kepada siapa pun maka kebaikan itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Sebab pada hakikatnya perbuatan baik kita kepada orang lain adalah sama dengan kita berbuat baik kepada diri kita sendiri. Sebaliknya begitu pula jika berbuat hal yang tidak baik. Yang demikian berlaku tanpa pandang bulu, karena kebaikan tidak melihat suku, ras, asal-usul dan keyakinan. Kebaikan tidak mempunyai agama. Kebaikan bersifat universal. Kebaikan berdampak universal.

Demikian pula kejahatan, ia berdampak universal. Sebagai contoh ketika Anda berbuat jahat kepada satu orang, satu tatanan masyarakat akan terkena dampaknya. Anda menyelamatkan satu orang, seluruh dunia terselamatkan. Membunuh satu orang akan menyebabkan rasa ketidak-amanan bagi semua orang. Membunuh satu orang yang di masa depan menjadi pangkal bagi satu generasi berarti sama dengan membunuh satu generasi. Hal ini menunjukkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah satu hakikat kesatuan. Sama seperti halnya satu tubuh, di mana ketika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lainnya merasakan dampak dari rasa sakit tersebut. Oleh karenanya, barangsiapa yang berniat menciderai seseorang, sama seperti ia berniat menciderai semua orang.

Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka dia bagai telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya. Demikian yang termaktub dalam kitab suci. Lantas bagaimana selanjutnya kita akan menyikapi perbedaan mulai sekarang? Dengan saling merangkul atau memukul? Sejatinya menjadi tua itu mutlak dan menjadi dewasa itu pilihan. Dewasa adalah ketika keegosentrisan melebur melampau batas-batas perbedaan. Pilihan ada di tangan kita semua, mau dibawa kemana bangsa kita? Menuju negara madani berkemajuan atau negara medeni (Jawa ; menakutkan) berkehancuran.

Wocoen   Gaya Beragama Masa Kini
Tags

Neyla Hamadah

Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close