Dedi Mumtazul Umam Seorang mahasiswa di Yogyakarta yang berasal jombang.

Melihat “Pacaran” dengan Lebih Mendalam

Dedi Mumtazul Umam 2 min read 2 views

Pernah gak sih kalian menjalin hubungan dengan lawan jenis? Kebanyakan pasti pernah melakukan hal demikian. Mungkin ada yang sejak kelas satu SMP, atau kelas satu SMA, bahkan ada yang sejak SD sudah pernah mengalami.

Yang dinamakan menjalin hubungan itu minimal ada dua orang. Kalo sendiri itu namanya jomblo, eh. Hal tersebut sudah menjadi suatu yang ‘lumrah’ apalagi bagi kita para remaja yang hidup di zaman modern ini.

Hubungan yang kita jalin pada masa-masa sekolah mungkin kebanyakan masih belum serius, dalam artian masih main-main. Entah itu untuk gaya-gayaan atau sekadar coba-coba. Ini yang seringkali kita sebut sebagai cinta monyet.

Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambah dewasanya diri kita, sedikit demi sedikit kita mengerti, bahwa suatu hubungan yang dilakukan antara dua orang itu bukan untuk main-main atau sekadar gaya gaya-gayaan semata. Kita semakin paham bahwa saat kita menjalin hubungan dengan lawan jenis, itu bukan semata-mata berdasarkan penampilan yang dapat dibangga-banggakan di depan orang lain. Tetapi di mana dalam hubungan itu kita merasakan kecocokan dengan orang itu atau sering kita sebut kenyamanan.

Orang yang berpenampilan menarik (cantik) tidak selalu bisa membuat kita merasa nyaman. Tetapi jika sudah merasa nyaman dengan satu orang, kita akan menemukan kecantikan pada orang tersebut. Dan kecantikan itu bukan cantik secara fisik saja, tetapi ada satu titik yang akan menjadi pusat perhatian kita terhadap orang itu.

Tujuan dari hubungan serius pun berbeda dengan pacaran ala-ala bocil. Ketika dalam suatu hubungan kita hanya ingin mengambil atau memanfaatkan suatu hal yang dimiliki pasangan kita, atau sekadar agar tidak dicap jomblo oleh kawan-kawannya, kalau kita menjalin hubungan itu hanya dengan tujuan itu berarti ya ndak serius dong.

Wocoen   Kemesraan yang Sering Disalahpahami

Lha, kalau memang tujuannya benar-benar untuk mengenal si doi sak empot-empote (sedalam-dalamnya; Jawa), dan pastinya untuk dijadikan pasangan hidup, nah itu baru serius. Makanya, biasanya cewek sering bilang kalau maunya “diseriusin” sama si cowok. Begitulah kira-kira menjalin hubungan yang serius, hingga akhirnya dibawa sampai ke pelaminan.

Di sisi lain, jika kalian pernah mendengar ada gerakan Indonesia Tanpa Pacaran. Apa yang ada di benak kalian? Pasti ada yang menolak pasti ada yang mengiyakan juga. Pacaran itu suatu cara atau suatu hubungan yang dilakukan dengan tujuan mengenal lebih dalam si doi sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi.

Tidak bisa kita men-judge bahwa pacaran itu pasti berdampak negatif bagi pelakunya. Entah itu merusak masa depan atau dampak yang lain. Jika orang pacaran kok tujuan awalnya ‘seks’ itu bukan salah pacarannya tetapi ada human error di situ. Jika pacaran hanya untuk pamer ke orang lain, ya berarti pemaknaan yang salah dari istilah pacaran berasal dari orang tersebut.

Menurut saya, ya sah-sah saja orang berpacaran, asal niatnya baik. Bayangkan jika orang-orang tidak ada yang pacaran, dan langsung saja menikah. Eh, lah kok setelah menikah mereka merasa terkena ‘prank’. Akhirnya hubungan mereka bukan karena saling cinta dan saling sayang, malah menimbulkan hal-hal buruk dalam rumah tangga mereka.

Jadi, boleh-boleh saja kalian ada yang setuju dengan dibolehkannya pacaran, boleh juga tidak setuju. Tetapi jangan men-judge bahwa pacaran itu selalu berdampak negatif bagi pelakunya.

Tapi, bagi kalian yang sudah memiliki pasangan atau pacar bolehlah bersyukur dan berbahagia. Namun, dalam mengungkapkan rasa syukur dan bahagia itu sewajarnya saja dan harus mampu bersikap toleran.

Wocoen   Jalan Panjang Perdamaian

Apalagi kalian pasti sudah tahu kalau di negara ini banyak sekali perbedaan dan keragaman. bukan cuma suku, agama,dan budaya tetapi orangnya juga berbeda-beda. Ada yang jomblo, ada pula yang sudah punya pacar, kan? Hehe.

Nah, khususnya bagi kalian yang sudah berpacaran, sebaiknya bisa menjaga etikanya dong, terutama kepada warga negara yang masih jomblo. Ya seperti, kalau lagi habis ketemuan, terus mengabadikan momen-momen itu. Harus ingat, bahwa di luar sana ada yang belum memiliki pacar.

Jadi, bolehlah sekadar meng-upload pose-pose kebersamaan tetapi ‘mbok ya’ jangan sering-sering di-upload ke media sosial kalian. Atau kalau mau sering upload kemesraan ya diprivasi saja dari para jomblowan-jomblowati itu, demi menjaga kesehatan psikis mereka. Haha.

Dedi Mumtazul Umam
Dedi Mumtazul Umam Seorang mahasiswa di Yogyakarta yang berasal jombang.

One Reply to “Melihat “Pacaran” dengan Lebih Mendalam”

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.