Memaksimalkan Peran TOA Masjid; Umat Mayoritas Mah Bebas

Dua puluh Februari 1982, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menulis “Islam Kaset dan Kebisingannya” dalam Harian Tempo. Kolom yang ditulis Gus Dur ini merupakan respons terhadap pengeras suara masjid dan musala yang digunakan secara “maksimal” tanpa kontrol demi syiarnya syariat Islam pada saat itu.

Dengan kalangan Islam modernis sebagai pelopor, pada awal dekade 80-an memang ada kecenderungan speaker mulai marak digunakan di berbagai tempat ibadah umat Islam yang karenanya iringan suara azan hingga tarhim saling bersahutan dan membuat bising. Sehingga hal tersebut menuai berbagai respons dari kalangan umat Islam tradisionalis termasuk Gus Dur.

Sebelum era speaker, bedug pernah eksis di masjid dan langgar sebagai penanda waktu salat maktubah yang dipopulerkan oleh kalangan Islam tradisional pada tahun-tahun tidak jauh setelah Nahdlatul Ulama lahir. Walaupun sebenarnya bedug sudah dipakai sebagai penanda waktu salat di tempat ibadah jauh sebelumnya, namun eksistensi bedug baru begitu masif pada masa itu.

Itulah sebabnya kelompok Islam tradisionalis merenspons secara negatif speakerisasi di tempat ibadah pada awal dekade 80-an. Semakin mulus seperti melewati jalan tol, speakerisasi semakin gencar setelah mendapatkan legitimasi dari pemerintahan Orde Baru yang menganggap bahwa bedug adalah berasal dari Tiongkok dan merupakan bagian dari adat orang-orang Tionghoa —yang kita ingat bahwa memang saat itu Presiden Soeharto benar-benar gethinge ra kathok’an terhadap etnis Tionghoa.

Dalam kolomnya, Gus Dur mengkritik keras pemanfaatan pengeras suara di masjid dan musala dengan tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Lepas tengah malam pada saat orang sedang tertidur lelap, dari tarhim (anjuran bangun malam untuk menyongsong saat salat subuh) hingga bacaan Al-Qur’an dalam volume yang diatur setinggi mungkin, barangkali saja bisa lebih “terasa” akibatnya: membuat orang bangun dan bergegas mengambil air wudu lalu berangkat ke masjid. Niat yang sangat mulia.

Semangat syiar agama kepada masyarakat sekitar masjid ini menjadi semacam gebyah uyah. Walaupun di Indonesia mayoritas umat Islam, namun kadang seseorang enggan berpikir secara sabar dan teliti; bahwa tidak semua masyarakat sekitar masjid dan musala adalah orang Islam. Jika memang semuanya adalah orang Islam, tidak semua berkewajiban melaksanakan salat seperti wanita yang haid atau nifas maupun bayi dan anak-anak yang belum akil balig.

Kalaupun semua berkewajiban salat, tidak semua dari mereka adalah orang Islam muda yang kuat. Orang-orang tua renta yang memerlukan porsi istirahat lebih banyak ternyata juga harus diperhatikan.

Sebelum adanya Surat Edaran Menteri Agama Nomor 05 Tahun 2022 tentang panduan penggunaan pengeras suara di masjid dan musala yang kini hangat diperbincangkan, Departemen Agama RI melalui Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam pada 1978 telah mengeluarkan Instruksi Nomor: KEP/D/101/’78 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Kemudian pada 2018, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor : B.3940/DJ.III/Hk.00.7/08/2018 tentang Pelaksanaan Instruksi Dirjen Bimas Islam Nomor : KEP/D/101/’78 Tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Kalaupun misal ada orang yang marah karena tidak setuju dengan Surat Edaran Menteri Agama tersebut, sebenarnya kemarahan tersebut terlambat berpuluh-puluh tahun yang lalu. Kasep.

Sebagai mayoritas, ternyata seseorang kerap gemar menjadi manusia menangan dewe. Yang perlu dipahami dalam interaksi sosial dalam masyarakat yang heterogen adalah; bahwa porsi kewajiban dan hak antara umat mayoritas dan minoritas ialah sama dan setara. Karena mayoritas, diharapkan kelompok besar menyayangi, mengayomi dan merawat kelompok kecil. Layaknya kakak terhadap adik, orang tua terhadap anak dan seterusnya.

Sebaliknya kemudian minoritas diharapkan menaruh rasa hormat kepada kelompok mayoritas. Namun secara empiris nyatanya minoritaslah yang harus menghormati mayoritas, dan mayoritas sak karepe dewe. Mayoritas mah bebas.

Berapa sering warung-warung makan yang buka pada siang hari bulan Ramadan ditutup paksa demi menghormati orang yang mayoritas puasa. Berapa banyak umat mayoritas Islam menghalangi pembangunan gereja di daerahnya, atau misal sebaliknya umat Kristen yang memperumit izin pembangunan masjid di lingkungan mayoritasnya.

Mayoritas dan minoritas yang dimaksud bukan hanya lingkup kepercayaan dan keyakinan antar agama, namun juga antar suku dan etnis, juga dalam masalah kebutuhan dan kepentingan, maupun masalah perbedaan kualitas keimanan seseorang dalam agama yang sama. Sehingga seseorang yang suka mendengarkan kaset bacaan Al-Qur’an yang diputar keras-keras di TOA masjid dan musala —yang seolah merepresentasikan kualitas keimanannya dan merasa mendapat legitimasi syariat, tidak boleh memaksakan kehendak agar orang lain mempunyai minat dan kesukaan yang sama dengan dirinya dalam hal mendengarkan kaset bacaan Al-Qur’an tersebut.

Lebih parah —dan harusnya malu, bila ternyata kita sama-sama lebih eman ngopi saat azan berkumandang daripada bergegas ke masjid, namun lebih memilih marah atas Surat Edaran Menteri Agama tersebut dan merasa menjadi umat Islam yang paling terzalimi sejagat raya dunia akhirat.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Hanif N. Isa 23 Articles
Mas-mas biasa.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.