Sosial Agama

Membaca Ulang Deradikalisasi

12 Oktober 2002, rakyat Indonesia dikejutkan oleh Bom bunuh diri yang ada di Bali. Kejadian yang menewaskan 202 orang dan 300 korban luka-luka ini kemudian dikenal dengan nama bom Bali 1. Setahun berselang, teror Bom juga terjadi di hotel JW Marriot. Meski tidak sebesar serangan yang ada di Bali namun serangan-serangan ini telah menggugah kesadaran rakyat Indonesia bahwa di negara ini (masih) ada terorisme.

Serangan bom dengan skala besar kini tidak (atau lebih tepatnya jarang) dipilih oleh para teroris karena kini ruang gerak mereka semakin terbatas. Namun, bukan berarti dengan tidak adanya serangan bom dalam skala besar hal itu menunjukkan bahwa terorisme telah pudar dari negeri ini, tidak. Model serangan mereka kini telah berubah menjadi serangan dalam skala kecil. Bukti kongkretnya adalah serangan yang terjadi di Masjid Mapolres Cirebon pada 15 April 2011 dan Mapolres Solo pada 5 Juli 2016, serangan bom surabaya serta Sidoarjo yang terjadi pada pertengahan Mei kemarin serta beberapa kejadian serupa lainya yang orientasi seranganya adalah kelompok dalam skala kecil.

Dengan semakin beragamnya serangan teror tersebut, maka semakin sulit pula memprediksi kapan, di mana, dan oleh siapa aksi teror akan dieksekusi. Aksi teror kini bukan hanya terpaku dilakukan oleh tokoh senior dalam organisasi radikal, tapi juga sangat biasa dilakukan oleh anak muda yang baru “kemarin sore” masuk dalam organisasi. Lebih parah lagi, kasus bom bunuh diri di Surabaya kemarin telah menjelaskan padaa kita bahwa perempuan bukan sangat tidak mungkin akan menjadi pelaku utama dalam aksi teror. Karena alasan inilah kemudian pemerintah mengajak rakyat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tindakan terorisme serta menekan ruang gerak mereka.

Wocoen   Penyembuh Mabuk ‘Bucin’

Dibentuknya Densus 88 serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) adalah bukti bahwa pemerintah secara serius melakukan penyempitan gerak bagi para pelaku teror. Belum lagi dengan penutupan media-media publik yang mengarah pada hal-hal yang berbau terorisme yang membuat teroris merasa semakin terjepit. Namun, penyempitan ruang gerak terorisme ini justru nampaknya menjadikan para pelaku teror ini semakin “kreatif” dalam bertindak. Tindakan “kreatif” mereka ini dapat kita lihat dari kasus penyerangan yang terjadi di Masjid Mapolres Cirebon, Mapolres Solo, serta penyerangan yang terjadi di gereja St. Yoseph Medan 28 Agustus lalu.

Jika dilihat dari jumlah korban, tentu apa yang dilakuakan oleh pemerintah dengan kebijakan deradikalisasinya ini bisa dibilang berhasil, namun sedikitnya jumlah korban teror ini juga lebih disebabkan oleh target para teroris yang kini mulai mengalihkan target dari setiap tempat-tempat maksiat pada orang-orang atau instansi yang mempunyai peran khusus seperti pemuka agama selain Islam dan aparatur negara. Belum lagi jika kita melihat dari jumlah tindakan terornya, maka tidak bisa dikatakan bahwa pemerintah telah berhasil mengatasi terorisme. Tindakan teror ini terus terjadi bahkan jauh setelah gembong teroris (Imam Samudera, Amrozi, Ali Ghufron) telah dieksekusi oleh pemerintah.

Dendam atas nama persaudaraan serta perasaan didholimi oleh pemerintah nampaknya menjadi motif utama para pelaku teror ini dalam melakukan aksinya selain alasan jihad itu sendiri. Hal ini berarti semakin banyaknya gembong teroris yang ditangkap dan dieksekusi maka semakin kuat pula rasa persaudaraan yang ada diantara mereka. Dengan rasa persaudaraan yang semakin kuat diantara mereka maka semakin memungkinkan pula bagi para pelaku teror, bahkan yang masih tingkat pemula, untuk berbuat nekat. Aksi teror yang terjadi di kafe Star Bugs adalah contohnya. Disitu dapat kita lihat bahwa pelakunya adalah orang yang bisa dibilang “awam” di kalangan teroris yang tekadnya sudah sangat kuat. Hal yang sama juga terulang di gereja Santo Yoseph Medan. Pelakunya yang kemudian diidentifikasi baru lulus SMA ini bisa dibilang prematur.

Wocoen   Ketika Persaingan Menjadi Tradisi dalam Pendidikan Kita

Tertutupnya Ruang Publik

       Menutup ruang gerak ideologi terorisme pada awalnya ditujukan untuk mencegah, atau setidaknya membatasi “dakwah” para teroris dalam merekrut anggota baru. Media sosial, mulai facebook sampai youtube, yang selama ini menjadi “ruang dakwah” mereka,  dengan adanya kebijakan deradikalisasi, menjadi semakin ketat diawasi dan dibatasi oleh pemerintah. Setiap konten media sosial yang berbau terorisme disingkirkan.

Kebijakan deradikalisasi ini, selain berdampak pada semakin tertutupnya “ruang dakwah” bagi para penganut ideologi terorisme, juga berdampak pada semakin tertutupnya ruang publik bagi para penganut ideologi radikal yang kemudian berakibat pada keadaan di mana mereka semakin merasa sebagai “musuh negara”. Perasaan inilah yang memotivasi mereka untuk melakukan serangan teror. Karena memang perang, adalah perkara halal yang diperlakukan kepada seorang musuh.

Perlawanan terhadap terorisme semestinya bukan dilakukan dengan cara perang pendapat di media, atau bahkan menutup ruang mereka, seperti apa yang selama ini terjadi, melainkan dengan dialog (Stevenson 2008). Dengan dialog, maka kita punya kesempatan untuk mengerti bagaimana akar ideologi mereka, mengapa mereka melakukan pengeboman, dan apa yang menjadi cia-cia mereka. Dengan dialog, kita juga mempunyai kesempatan untuk “menyadarkan” kesesatan pemahaman mereka atas Islam. Dengan ini, yang terjadi bukan hanya menghentikan ideologi terorisme namun juga menyelamatkan mereka yang terlanjur berada di dalamnya. karena itulah kebijakan deradikalisasi perlu dikaji lagi.

Tags

Hamdani Mubarok

Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close