Budaya

Membahas Pluto memang lebih Mudah daripada Cuci Piring di Rumah

Semasa kuliah, sebagai mahasiswa aktivis, saya dan kawan-kawan hampir setiap malam berada di warung kopi hingga menjelang Subuh. Apa yang kami bicarakan sehingga betah di warung kopi hingga larut malam? Ya, membicarakan banyak hal. Sebut saja tema yang kerap dikonsumsi mahasiswa aktivis; gerakan-gerakan kiri, filsafat, tokoh-tokoh inspiratif, urgensinya kesadaran mahasiswa sebagai agen perubahan dan seterusnya. Dan melakukan hal-hal lain yang bagi kami juga tidak kalah pentingnya; bermain kartu.

Tidak hanya saya, sebagian dari sampean sebagai mahasiswa aktivis yang milenial mungkin juga sama. Walaupun barangkali porsi diskusinya arek-arek mahasiswa milenial di warung kopi sedikit berkurang karena tergeser oleh yang online-online itu. Hehe.

2019 benar-benar fenomenal. Setiap saya membuka gadget, selalu disuguhkan dengan riuh rendah kawan-kawan ahli politik dan ahli agama —yang memang 2 hal itu menjadi topik paling seksi dalam 2 atau 3 tahun terakhir. Riuh rendah saling paido, klaim kebenaran, bullying dan adu argumentasi berseliweran. Namun saya sedang tidak ingin masuk ke sana lebih dalam.

Wong saya yang ahlinya ahli, intinya inti, lho, biasa-biasa saja dan gak seramai mereka. Ahlinya pura-pura jadi ahli maksudnya, sambil makan es krim Unicorn. Hehe.

Tentu yang saya maksud Pluto di atas bukanlah Pluto dalam arti sebenarnya. Pluto di sini saya maksudkan sebagai hal-hal jauh yang kemungkinan tidak terjangkau oleh seseorang. Pun juga berlaku sama dengan kata cuci piring, yang kemudian saya maksudkan sebagai hal-hal sepele di sekitar seseorang yang mestinya juga terurus dengan adil.

Saya teringat oleh ucapan kerabat saya, Muhammad Isbah Habibi, di salah satu akun media sosialnya —halah, mau bilang status Facebook aja ribet amat, sih.

Kerabat saya yang ganteng tapi gak kunjung menikah ini menulis, “pertengkaran, permusuhan, dan masalah adalah suatu berkah bagi para penulis, penulis apa saja, terlebih bagi para penulis di medsos. karena ngurusi perkara liyan lebih gampang, daripada ngusrusi masalah hidup diri sendiri“.

Wocoen   Manusia Untung Rugi

Sengaja tidak saya edit sama sekali, semata karena untuk menjaga keorisinilannya. Sebab akhir-akhir ini semakin banyak yang tipu-tipu. Semacam asli tapi ternyata cuma kaleng-kaleng. Eh, jangan dihubung-hubungkan dengan ulama kaleng-kaleng yang nyuruh jamaahnya membaca surat al-Isra ayat 176 padahal ayat dalam surat al-Isra jumlahnya cuma 111. Eh.

Adanya permusuhan level nasional hari ini yang disebabkan oleh ulama kaleng-kaleng tadi, eh, maksud saya disebabkan —saya kerucutkan saja— oleh  hajatan pilpres kita (kita?) ini merupakan berkah tersendiri bagi penulis, ahlinya ahli, intinya inti, macam kita ini. Rasanya gatal sekali jari seseorang jika tidak ikut memperbincangkannya di medsos, menganalisisnya lebih dalam segala topik politik yang ada, untuk disajikan sebagai konsumsi projo atau prowo.

Broca seseorang akan otomatis aktif jika mendengar isu-isu seksi macam sosial politik dan agama —kadang juga ekonomi, budaya dan sebagainya, dengan iringan konflik dan permusuhan. Lalu tergerak untuk mengomentarinya —lisan atau tulisan— dengan sudut pandang masing-masing.

Dengan bahasa ndakik dan kritis, didukung teori-teori sosial yang dipelajari di bangku kuliah, atau dalil-dalil yang diperoleh dari ustaz-ustaz gaul dan kekinian, seseorang terdorong ikut menginterpretasikan suatu masalah, mengupasnya dengan tuntas. Yang barangkali masalah tersebut belum tentu pernah ia indra secara langsung dan jauh dari kehidupannya.

Jauh sekali seseorang berbusa-busa berbicara tentang Pluto, tentang isu-isu politik nasional, tentang earpiece-nya Pak Jokowi, tentang yang online-online-nya Pak Prabowo, tentang konflik Papua, tentang Freeport, tentang konflik Israel, tapi membiarkan istrinya cuci piring dan baju sendiri, membetulkan antena TV sendiri, membiarkan orangtuanya yang kebingungan sebab sawahnya rusak karena banjir, membiarkan kuliahnya berjalan hingga 14 semester, membiarkan dirinya selalu datang terlambat ke kantor, dan … lanjutkan sendiri. Hehe. Yang kalau kata Cak Isbah Habibi dengan bahasa saya sendiri, lebih mudah, lebih gandrung bagi seseorang membicarakan perkara ndakik, tentang persoalan bangsa, daripada sekadar membantu orang tua bekerja di  ladang.

Wocoen   Budaya Muluk Dan Talaman Yang Lekang oleh Zaman

Walaupun begitu, bukan berarti saya hendak mengajak untuk golput, eh, cuek maksud saya, terhadap persoalan-persoalan sosial. Ngunu yo ngunu, ning ojo ngunu, Ferguso.

Akan beda urusan jika seseorang yang berbicara tentang Planet Pluto namun adil dengan urusan dapur dan cuci piring-nya.

Eh, Pluto itu masih disebut planet bukan, sih?

Tags

Hanif N. Isa

Mas-mas biasa.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close