Zuli Laila Khafida Zuli Laila Khafida, Lahir di Nganjuk pada 27 Juli 2001. Menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tinggal di Pondok Pesantren Sabilurrosyad kota Malang. Motto hidupnya adalah “sebaik-baik orang yang memberi manfaat untuk orang lain.”

Memupuk Jiwa Nasionalisme Santri dalam Berbangsa dan Bernegara

Zuli Laila Khafida 2 min read 38 views

Berbicara tentang Nasionalisme sudah tidak asing lagi ditelinga kita, Nasionalisme berasal dari kata nation yang artinya bangsa. Menururt KBBI, bangsa adalah masyarakat yang berbeda dalam suatu daerah yang sama dan mereka tunduk kepada kedaulatan negaranya sebagai suatu kekuasaan tertinggi. Han Konh seorang sejarawan barat menjelaskan bahwa nasionalisme merupakan paham yang mengajarkan untuk mencintai bangsanya sendiri serta kepentingan hidup bersama dalam satu kesatuan sebagai bangsa yang merdeka. Nasionalisme dan agama adalah hal yang sejalan dan saling menunjang. Jika kita menengok fakta sejarah tentang kehebatan bangsa Indonesia tentu saja akan mendobrak semangat pemuda Indonesia khususnya santri nusantara. Tepat 75 tahun yang lalu ribuan pejuang Hizbuallah dan pejuang Surabaya menjadi syahid di medan perang, melawan ribuan tentara Inggris yang berhasil menembak jatuh 3 pesawat Inggris. Pasukan para santri yang langsung dipimpin oleh Sang Kyai rela kehilangan nyawa rela megucurkan darahnya demi NKRI tercinta. Menumpas penjajah yang kerap merampas kemerdekaan dan berusaha manaklukkan Bangsa Indonesia.

Jiwa nasionalisme telah terpupuk sejak dahulu, hal ini telah terbukti dengan peristiwa 10 November 1945 beberapa tahun silam. Nasionalisme akan membawa bangsa Indonesia menjadi lebih hebat dan bermartabat. Sebagaimana petuah yang telah disampaikan KH Marzuqi Mustamar tentang nasionalisme yang berbunyi “Menjaga NKRI adalah wajib, mencintai Indonesia adalah bagian dari iman karena mencintai Negara berarti mencintai semua aset islam yang ada di Indonesia.” KH Marzuqi Mustamar adalah salah satu pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad di Kota Malang. Beliau adalah sosok yang karismatik dan berbudi pekerti tinggi, cintanya kepada NKRI merupakan salah satu kiprah yang sudah terbukti baik melalui lisan maupun perbuatan. Masih terngiang dalam benak saya, amanah kemerdekan yang disampaikan oleh KH Marzuqi Mustamar bahwasannya 3 kunci dalam berbangsa dan bernegara adalah Islam, Ahlussunah Wal Jama’ah, dan NKRI harga mati.

Wocoen   Kondisi Diperbolehkannya Gibah

Namun sayang seribu sayang akhir-akhir ini jiwa nasionalisme perlahan memudar, banyak sekali oknum berkedok islami yang berusaha merong-rong keutuhan dan kesatuan bangsa. Kaum muda menjadi sasaran utama dalam gerakan radikalisme, karena kaum muda berada pada fase perubahan yang mana mereka mudah terpengaruhi oleh lingkungan sekitar. Hal inilah yang kerap membuat gerakan radikal menyusup di kampus-kampus, di tempat umum, bahkan di tempat ibadah. Teringat dengan tragedi rentetan bom yang melanda beberapa daerah di Indonesia. Mako Brimob Depok Jawa Barat, Bom 3 Gereja di Surabaya, bom yang meledak di Polrestabes Surabaya, dan peristiwa bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Sungguh sangat mencengangkan aksi yang telah mereka lakukan mengatasnamakan agama. Merekalah yang merusak eksistensi islam sebagai agama yang “rahmatan lil ‘alamin.”

Islam adalah agama damai dan penuh cinta yang akan menaungi segenap alam dengan naunganya. Perintah untuk menjaga dan melindungi rumah-rumah ibadah telah termaktub indah dalam Al-Quran surah Al-Hajj: 40. “Andaikan bukan karena pembela Allah swt terhadap apa yang diyakini sebagian manusia dengan sebagian lainnya, tentulah telah diruntuhkan biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah swt. Dan Allah swt pasti menolong orang yang menolong (agama) Allah swt. Sesungguhnya Allah swt benar-benar maha kuasa dan maha perkasa.” Selain itu Allah juga menjelaskan perintah untuk melindungi dan menjaga hidup sesama umat manusia sebagaimana yang telah tertulis dalam Al-Quran surah At-taubah : 6. “Dan jika ada orang musyrik (kafir) meminta perlindunganmu, lindungilah ia agar nanti ia mendengarkan firman Allah swt. Lalu antarkan ia ke tempat yang aman. Hal itu (kemusyrikan) karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui.”

Wocoen   Hilangnya Khazanah Keilmuan di Negeri Seribu Satu Malam

Santri menjadi pionir pemuda sebab budi pekerti dan akhlaknya mencerminkan sosok yang terpuji. Pondok Pesantren adalah tempat dimana santri digembleng, dididik, dan dibina. Di Pondok Pesantren banyak sekali disiplin ilmu yang dipelajari santri mulai dari ilmu agama (fiqih, tasawuf, tauhid, mantiq, balaghoh, dan lain sebagainya) hingga mengkaji ilmu umum (matematika, sosial, politik, kesehatan, dan lain sebagainnya). Ilmu-ilmu tersebut akan menjadi tameng guna menghadapi gerakan radikalisme. Kerap kali KH Marzuqi Mustamar menyampaikan pesan kepada para santri agar menjauhi gerakan radikal. Oleh karena itu santri mempunyai peranan penting untuk menumpas radikalisme dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara bersikap toleran antar umat beragama, menyebarluaskan ilmu agama dengan landasan Ahlussunnah Wal Jama’ah secara lemah lembut, dan merealisasikan wawasan nasionalisme dalam kehidupan sehari hari baik ucapan maupun perbuatan. Keberadaan kyai dan santri sangat dibutuhkan negeri ini, karena ilmu-ilmu yang dikuasai serta keteguhan iman dan taqwa akan menunjang nasionalisme Indonesia. bukan hanya kyai dan santri akan tetapi seluruh elemen bangsa harus bekerja sama demi menjadi bangsa Indonesia yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.”

Zuli Laila Khafida
Zuli Laila Khafida Zuli Laila Khafida, Lahir di Nganjuk pada 27 Juli 2001. Menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tinggal di Pondok Pesantren Sabilurrosyad kota Malang. Motto hidupnya adalah “sebaik-baik orang yang memberi manfaat untuk orang lain.”

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.