Anwar Ibrahim seorang santri yang dikeluarkan 2 kali dari 1 pondok pesantren yang sama. Berdomisili dan sedang melakukan study abal-abal di kota malang. S1 Hukum tata negara UIN MALIKI Malang.

Memurnikan Kembali Tujuan Reformasi

Anwar Ibrahim 1 min read 0 views

MEMURNIKAN-KEMBALI-TUJUAN-REFORMASI

Reformasi tahun 1998 sedikit banyak telah memberikaan harapan besar bagi bangsa Indonesia kedepan, agar visi maupun misi bangsa yag demokratis bias terwujud tanpa adanya absolutisme kekuasaan. Reformasi juga membuka kran harapan akan adanya sebuah proses demokratisasi yang esensial, yang berusaha memecahkan segala persoalan politik dengan melibatkan segenap elemen bangsa. Meskipun demokratisasi juga membuka peluang bagi penguatan fragmentasi politik keblinger dan bertumbuhnya pohon perbedaan secara masif di segala penjuru tanah air.

     Adanya sebuah proses demokratisasi pasca reformasi memang sudah terbukti mampu menutup jalan bagi kepemimpinan abosolut. Jikalau pada masa orde baru, lembaga kepresidenan merupakan lembaga absolut yang anti kritik, justru pasca peristiwa reformasi, lembaga keperesidenan atau biasa disebut lembaga eksekutif tersebut justru yang jadi lembaga yang paling sering dikritik dengan kritikan yang membangun maupun dengan kritikan yang membabi buta. Hal ini memunculkan sebuah indikasi bahwa memang proses demokratisasi pasca reformasi telah bekerja dengan baik. Tidak hanya itu, marwah lembaga perwakilan juga berangsur menguat, baik ditingkatan pusat maupun ditingkat daerah karena timbul sebuah semangat kontrol dan pengimbang(cheks and balance) terhadap kinerja dari legislative yang selama masa orde baru memang dijadikan sebuah alat bantu politik.

     Adanya sebuah proses demokratisasi memberikan angin segar bagi hubungan antara pusat dan daerah untuk membuka peluang bagi daerah agar bias menentukan arah pembangunannya sendiri secara bebas dan sesuai dengan kearifan lokal yang ada. Reformasi yang membawa nilai-nilai demokratisasi telah berhasil memberikan penghargaan besar akan adanya nilai kearifan lokal yang ada. Pemekaran wilayah bias jadi ternasuk upaya jemput bola dari pemerintah dan pengakuan akan adanya eksistensi beragaman nilai kebudayaan yang ada dalam ranah keberagaman yang ada.

     Dilain pembahasan, memang mengamini apa yang dikatakan sujiwo tejo dalam sebuah acara talkshow disalah satu tv swasta, yang mana tejo mengatakan bahwa segala didunia ini merupakan paradoks. Jika reformasi memberikan aroma harum kehidupan demokrasi masa depan, reformasi juga memberikan ruang bagi lahirnya masyarakat ‘pretorian’. Sebuah masyarakat berkarakterkan eksklusif yang terpolitisasi dan merasa paling benar. Hal ini pernah disindir oleh Huntington yang mana situasi ini merupakan situasi yang khas dari sebuah pergeseran tatanan politik yang tidak diikuti dengan consensus yang bermakna, sehingga aturan politik menjadi tidak sehat, karena oientasi politik tidak untuk kepentingan bersama, akan tetapi untuk kepentingan politik paktis, atau biasa disebut politik jangka pendek.

     Jika tidak cepat dicarikan langkah solutif untuk menanggulangi masalah ini, bukan tidak mungkin masyarakat pretorian akan dengan cepat menjamur, didukung dengan faham premodalisme yang masih banyak hidup dilingkungan masyarakat kita. Semangat premodialisme sering diartikan sebagai wadah untuk membangun gap-gap identitas agar mampu menunjukan eksistensi identitasnya secara partikular.

     Paradoksial demokratisasi pasca reformasi ini cukup untuk memberikan PR yang besar bagi pemerintah, agar memberikan ruang-ruang dialog publik yang mengarah pada pengintregasian kepentingan publik secara luas. Proses ini tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak adanya upaya yang serius dari segenap elemen bangsa dalam membenahi polemik ini. Dibutuhkan terobosan solusi jangka panjang pula, yaitu melalui evolusi melalui jalur pendidikan yang memberikan pembelajaran dan mengarah tentang pentingnya membangun demokrasi substansial yang tidak hanya terperangkap pada prsedural saja. Adanya dialog juga bias membangun sebuah pemahaman yang serumpun, sehngga mengurangi stigma negatif dari masyarakat. Sehingga keriuhan,kegaduhan,dan semangat membangun bangsa lewat jalan politik bias lebih bermakna.

Anwar Ibrahim
Anwar Ibrahim seorang santri yang dikeluarkan 2 kali dari 1 pondok pesantren yang sama. Berdomisili dan sedang melakukan study abal-abal di kota malang. S1 Hukum tata negara UIN MALIKI Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.