Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Menakar Rasa Cinta Tanah Air

Neyla Hamadah 3 min read 0 views

Sang Merahputih

[dropcap]G[/dropcap]egap gempita perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia memang sudah berlalu. Namun entah mengapa bagi saya masih menyisakan tanya. Bukan bermaksud mencari kesalahan melainkan sekadar menggali jawaban dari sebuah tanya yang mungkin dapat ditemukan.

Di zaman media sosial sekarang ini, ketika hari kemerdekaan tiba, dari setiap kita selalu ingin menunjukkan rasa syukur atas kemerdekaan bangsa ini. Entah dengan memosting gambar bendera, video lagu nasional, atau gambar pahlawan tidak ketinggalan lengkap dengan kutipan dan caption yang heroik.

Setiap kita memiliki pilihan masing-masing dalam mengekspresikan perasaan cinta terhadap negeri ini di perayaan hari kemerdekaan untuk dibagi kepada orang lain. Untuk dirayakan bersama getaran sukacita hari kemerdekaan kita ke penjuru dunia.

Mungkin itu hal sepele, namun sudah menjadi budaya global. Jangankan kita yang haus eksistensi bahkan para selebritas dunia pun melakukan selebrasi di media sosial mereka. Selebritas sebagai kelompok influencer diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi untuk membangkitkan rasa cinta tanah air melalui unduhan mereka di media sosial. Demikian pula di hari kemerdekaan sebagai ungkapan syukur, gembira, kebanggaan akan bangsanya dan sebagainya. Seperti halnya ketika hari raya pun demikian. Tidak ketinggalan pula artis Indonesia sendiri tentunya.

Namun saya perhatikan mas Dude Harlino tidak melakukan selebrasi di hari kemerdekaan melalui unduhan di media sosialnya berbeda ketika di hari raya. Saya tidak berpikiran negatif. Saya hanya memberitahu bahwa mas Dude Harlino tidak memosting apapun di hari kemerdekaan negaranya sendiri. Dan demikian pula beberapa artis yang Alhamdulillah sudah berhijrah. Mereka seperti adem ayem saja. Sepi dari selebrasi. Sekali lagi saya hanya bertanya. Barangkali selebrasi mereka dengan doa bersama di komunitas pengajian. Kita tidak tahu.

Wocoen   Kepalsuan

Melihat fenomena orang-orang yang skeptis terhadap negerinya sendiri. Saya jadi ingat sosok Shaheer Sheikh yang pada tahun 2013 saya idolakan sekali. Karena sangat epic memerankan sosok Arjuna di serial kolosal Mahabharat produksi India. Shaheer Sheikh adalah seorang muslim kewarganegaraan Republik India. Di media sosialnya, disetiap hari kemerdekaan negaranya dia selalu memperlihatkan rasa bangganya menjadi rakyat India. Dia menulis keterangan di media sosialnya Jai Hind, yang yang artinya panjang umur India, diikuti dengan kalimat Proud to be Indian tidak ketinggalan disertakan bendera India. Sebegitu bangganya dia menjadi bagian dari negara di mana dia menjadi minoritas di negara tersebut. Dia hidup di negara kafir. Kita pun tahu betul India dan Indonesia seperti sebelas duabelas dalam pertumbuhan ekonomi, pelayanan kesehatan maupun kasus korupsinya. Minoritas pun masih dipertanyakan nasibnya di sana. Dan dia pun berasal dari Jammu, sebuah daerah yang berdekatan dengan Kashmir, wilayah konflik yang sudah puluhan tahun menjadi sengketa antara pemerintah India dan Pakistan. Itu artinya pemerintah India bukanlah pemerintah yang ideal bagi seorang Shaheer Sheikh si minoritas. Namun kita ketahui bersama bisa dikatakan memang tidak ada satupun pemerintahan negara yang sempurna termasuk pemerintahan negara sebesar Amerika Serikat bahkan Arab Saudi sekalipun.

Lalu apa hubungannya dengan mas Dude Harlino? Mungkin seperti tidak ada hubungannya.

Banyak di antara kita, termasuk saya sendiri seringkali kacau dalam memaknai rasa cinta antara tanah air dengan pemerintahnya. Kita menganggap mencintai tanah air sama dengan mencintai pemerintahnya atau rezim yang sedang berkuasa. Kita boleh tidak suka dengan pemerintah, namun cinta tanah air adalah sebuah kewajiban. Cinta tanah air sebagian dari iman begitu menurut maqolah yang masyhur, yang merupakan fatwa dari pahlawan dan juga ulama bangsa ini haddratussyaikh Kiai Hasyim Asyari.

Wocoen   Salim Salam Selamet

Pernahkah kita sempat berpikir bahwa kita tidak kebetulan begitu saja tebluk (terjatuh dari langit) menjadi rakyat Indonesia. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, bahkan daun yang jatuh pun terjadi atas izin Allah, begitu kata ustaz kondang Aa Gym. Segala sesuatu mengandung hikmah, Allah memiliki tujuan dan sebaik-baik kehendak adalah kehendakNya. Apakah kita yang sudah “berhijrah” kemudian menuntut dan mempertanyakan kepada Tuhan mengapa kita tidak dilahirkan di negara islam dan sebagainya. Sungguhkah itu bukan sebuah ingkar nikmat namanya. Kita hanya patut mensyukuri keberadaan kita diizinkan Allah lahir dan menjalani kehidupan di negeri ini. Negeri yang indah dengan pesona alamnya. Negeri yang damai dengan senyuman masyarakatnya. Negeri yang dipenuhi dengan waliyullah dan pewaris para nabi. Kita minum dari air yang bersumber di tanah ini, kita memakan nasi yang ditanam di tanah ini. Dan kita mendapatkan aisyah (kata lain jodoh) dan maisyah di negeri ini. Kita bisa salat lima waktu, baik memenuhi panggilan azan melalui toa di masjid atau mengabaikannya dengan salat di rumah. Kita bisa dengan bebas dan merdeka melakukannya. Itu semua berkat rahmat kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa, baik pahlawan muslim maupun Kristen, Hindu, Budha, Tionghoa dan keyakinan lain. Sehingga kita yang tak seragam bisa hidup damai dalam kebhinekaan.

Allah pun tidak serta merta memberikan kemerdekaan gratis tanpa usaha. Sebab Allah sendiri menegaskan tidak akan mengubah suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mengubah dirinya sendiri. Maka pentingnya berterima kasih kepada para pahlawan dan pendiri bangsa ini atas apa yang mereka usahakan adalah menjadi keharusan bagi penerus bangsa. Tanpa rida Allah kemerdekaan tidak mungkin diberikan. Adanya sinerginitas antara usaha para pahlawan kita dan kehendak Allah adalah bukti bahwa kemerdekaan negeri ini dirahmati Allah.

Wocoen   Menyelami Tentang Empat Pilar Kebangsaan Lebih Dalam

Kita patut “merayakan” sebagai kata lain dari mensyukuri. Meski sekadar ikut bergembira dan bahkan terharu di hari kemerdekaan yang dirayakan setahun sekali dan tidak lupa mendoakan para pahlawan, para founding father.

Belajar dari sikap terpuji Shaheer Sheikh terhadap negerinya. Bagaimana kah kita sebagai golongan mayoritas negeri ini, apakah kita masih bingung memisahkan bahwa antara mencintai negeri ini dengan pemerintah itu beda? Menghormati pemerintah itu dianjurkan, dan mencintai tanah air itu diwajibkan sebagai rasa syukur kita kepada sang Khalik yang menghendaki kita menjadi bagian dari negeri tercinta ini. Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada sesama manusia. Semoga kita tidak termasuk golongan yang tidak tahu terima kasih kepada para pejuang pembebas negeri ini dari penjajah dan tidak berterima kasih kepada Tuhan atas anugerah negeri yang indah ini.

Neyla Hamadah
Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.