Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Menapaki Jalan Baru Pengajian Kitab Kuning Online

Hanif N. Isa 2 min read 4 views

Meskipun pengajian online para kiai dan ustaz pesantren kita sambut dengan senang hati, tetapi saya masih menyimpan sedikit pertanyaan, apakah pengajian-pengajian tersebut bisa diikuti —atau lebih tepatnya dinikmati— oleh kalangan masyarakat secara umum? Atau jangan-jangan hanya kalangan santri saja yang mampu mengikuti pengajian-pengajian online tersebut?

Melihat aktivitas pengajian yang biasanya diikuti santri secara offline, yang kini telah bergeser ke arah pengajian streaming, tidak begitu banyak yang berubah dari substansi yang ditawarkan. Pengajian dilaksanakan dengan tetap mempertahankan metode klasik ala pesantren, mengupas lafaz perlafaz secara ketat, serta menyampaikan sedikit keterangan dalam kitab namun substantif.

Pandemi Covid-19 telah memaksa ruang gerak masyarakat menjadi lebih terbatasi. Sendi-sendi aktivitas perekonomian hingga pendidikan yang lazimnya dilakukan secara offline oleh masyarakat umum kini terhenti dan beralih secara daring.

Bagi kalangan pesantren, di balik kesedihan karena terdampak wabah secara masif, ada sedikit hal yang sebenarnya patut disyukuri. Selama ini secara garis besar pesantren masih mempunyai keengganan memandang teknologi informasi sebagai sesuatu yang berharga, yang sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai media dakwah pada era digital ini. Dengan adanya pandemi virus korona, orang-orang pesantren dituntut lebih dekat dengan teknologi sebagai sarana dakwah.

Bertepatan dengan bulan Ramadan —yang sudah menjadi tradisi bagi pesantren mengadakan pengajian kilat sorogan, mau tidak mau orang-orang pesantren harus melakukan pengajian tersebut secara online. Ini merupakan langkah baik bagi keberlangsungan dakwah kalangan pesantren yang lebih modern.

Namun, dengan proses pengajian kitab klasik ala pesantren dengan pemaknaan dari lafaz perlafaz secara ketat dari segi ilmu alat Nahwu dan Sharafnya, dan dengan menggunakan bahasa daerah yang kadang sulit dimengerti, saya pikir tidak semua elemen masyarakat bisa mengikuti, terutama orang-orang Islam perkotaan. Saya merasa pengajian seperti ini hanya bisa diikuti oleh kalangan tertentu utamanya para santri dan alumni-alumni pesantren.

Selain pengajian kitab yang diampu tokoh-tokoh pesantren yang menjadi publik figur seperti KH Ahmad Mustofa Bisri, Buya Husein Muhammad, KH Yahya Cholil Staquf, atau Gus Ulil Abshar Abdalla, belakangan saya juga mengikuti pengajian-pengajian online yang diampu kiai-kiai kampung di pesantren dan pedesaan. Sebagai santri, saya cukup menikmati pengajian-pengajian tersebut. Saya cenderung menyikapi secara positif pragmatis, bahwa tradisi mengaji kitab klasik ala pesantren dengan cara lama tetap harus dipertahankan. Sebab hal tersebut menyangkut identitas yang tidak dimiliki golongan lain.

Namun saya berpikir, barangkali tidak semua orang bisa menikmati pengajian ini seperti halnya saya pribadi. Beberapa kawan yang berasal dari dan hidup di kota-kota besar semisal Jakarta atau Surabaya, yang juga mempunyai keinginan ikut mengaji kepada kiai-kiai pesantren, pernah curhat karena tidak bisa memahami substansi yang disampaikan dari kitab kuning yang dikaji.

Selain terbatas di pemahaman bahasa daerah dalam pengajian sorogan tersebut, orang-orang Islam perkotaan juga merasa berat bila harus memahami istilah-istilah kitab kuning dan ilmu alat yang sebenarnya baru bagi mereka. Bayangkan, setiap lafaz harus dikupas secara detail; tarkib lafaz tersebut yang menjadi mubtada, khabar, susunan jar majrur, susunan idhafah —bahkan kadang membahas mudhaf yang lazimnya tidak menerima Alif Lam namun ternyata terdapat Alif Lam, pemaknaan lafaz “Raghiba” yang berbeda jauh antara jatuh sebelum “Ila” dan “An” —yang pembahasan tersebut hanya ada dalam karya fenomenal Nadzam Alfiyah Ibn Malik, pembahasan Isim Ghairu Munsharif yang mempunyai 2 illat namun cabang-cabangnya masyaallah banyaknya, dan pembahasan Nahwu Sharaf jelimet lainnya yang sekelas simpatisan FPI atau HTI saja saya yakin rangatasi.

Jika pengajian ini ditujukan untuk masyarakat umum, perlu ada semacam pengantar di luar pengajian tersebut agar bisa diikuti dan dipahami oleh masyarakat luas. Menjadi maklum bila ternyata pengajian-pengajian kaum Islam fundamentalis seperti Felix Siauw, Khalid Basalamah, Tengku Zulkarnain, Adi Hidayat, Sugi Nur Raharja, atau ustaz selebriti semacam Solmed, Ahmad Al Habsyi, Ustaz Syam lebih digandrungi oleh remaja-remaja milenial atau orang-orang Islam perkotaan karena materi yang disampaikan terasa konkret dan sesuai kebutuhan beragama mereka sehari-hari. Bukankah itu yang mestinya menjadi muara akhir dari tujuan sebuah pengajian?

Tetapi sekali lagi kita patut bersyukur, dalam beberapa tahun terakhir, pesantren dan khususnya kaum Nahdliyyin mulai menyadari pentingnya pembaruan media dakwah dengan menyesuaikan perkembangan zaman. Konten-konten Islam pesantren mulai diperkenalkan dan diperbanyak, video-video pendek inspiratif, ceramah dan pengajian kiai-kiai kampung mulai banyak di internet, lomba menulis esai dan cerpen islami diadakan, hingga meme-meme lucu banyak dimunculkan. Semua itu dilakukan sebagai upaya dakwah menyampaikan Islam ramah dan santun. Mengingat golongan Islam ekstremis atau transnasional —sebagai kolega dakwah kaum pesantren— selangkah lebih dahulu memanfaatkan teknologi secara maksimal.

Bila melihat perkembangan dakwah kalangan orang-orang pesantren, saya cukup optimis dengan masa depan dakwah Islam tradisional. Gus Nadirsyah Hosen, Prof Quraish Shihab, Pak Abdul Moqsith Ghazali dan lainnya, saya kira secara seimbang akan mampu menawarkan alternatif pemahaman beragama yang lebih “tidak menakutkan” daripada yang ditawarkan ustaz-ustaz perkotaan.

Pengajian kitab kuning secara online oleh kiai dan ustaz pesantren di tengah pandemi hari ini mungkin masih perlu beberapa perbaikan. Namun hal tersebut sudah cukup bagi kalangan Islam tradisional sebagai upaya awal menginjakkan kaki menuju masa depan Islam kosmopolitan dan kreativitas dakwah yang lebih baik di kemudian hari.

Wallahu a’lam.

Hanif N. Isa
Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.