Muhammad Bagus Ainun Najib Putra seorang petani bawang merah asal Brebes, suka nglayab dan sekarang sedang menempuh magister Pendidikan Bahasa Arab di UIN Maliki Malang.

Menapaki Jejak Rihlah Tarbawi Ala Imam Syafi’i

Muhammad Bagus Ainun Najib 2 min read 0 views

imam safi'i

Imam Syafii merupakan salah satu empat imam madzhab fiqih yang terkemuka di dunia. Kecerdasan dan keuletannya dalam menuntut ilmu menjadi ciri khas baginya. Beliau melintasi berbagai desa, kota, negara bahkan benua untuk menimba ilmu kepada para ulama. Nama lengkapnya ialah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Syafi’i bin al-Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muthalib bin Abdi Manaf. Beliau lahir di Gaza Palestina, karyanya kini menjadi salah satu sumber hukum bagi umat islam, dan madzhabnya kini diikuti oleh sebagian besar umat muslim Indonesia dan beberapa negara dibelahan dunia lainnya.

Imam Syafii memulai rihlah tarbawinya (mengembara dalam menuntut ilmu) dengan mempelajari studi Al-Quran, tajwid, dan tafsir kepada para ulama yang berada di Masjidi Al-Haram Makkah. Beliau memiliki tekad yang sangat kuat dalam menimba ilmu, dan terbukti pada umur Sembilan tahun ia mampu menghafal Al-Quran dan beberapa hadits dengan fasih. Setelah menghafal Al-Quran dan mendalami Ilmu ilmu Al-Quran ia pindah ke Madinah. Disana Imam Syafii belajar dan menghafalkan magnum opusnya Imam Malik yaitu kitab Al-Muwattha. Menginjak usianya yang kedua puluh tahun ia menyakini bahwa di Madinah ada ulama masyhur dan alim, beliau adalah Imam Malik penulis buku yang telah dia hafal. Dengan berbekal do’a dari ibu dan surat pengantar dari walikota Makkah maka Imam Syafii muda berangkat ke madinah untuk menimba ilmu kepada Imam Malik bin anas. Imam Malik bin Anas membimbing Syafii muda serta menanggung kehidupannya di Madinah, hal ini lantaran beliau seorang ulama dan tajir. Syafii muda juga menelusuri sudut kota madinah dan daerah sekitar untuk belajar kepada para ulama. Tekad beliau dalam mengembara ke berbagai daerah untuk mendalami ilmu agama memang sangat besar, hal ini juga beliau tuliskan dalam syairnya :

سَافِرْ تَجِدْ عِوَضًا عَمَّنْ تُفَارِقُهُ * وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيْذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ

Merantaulah, engkau akan mendapatkan pengganti dari orang-orang yang kautinggalkan; dan bekerja keraslah karena sesungguhnya kelezatan hidup itu ada dalam kerja keras

Berbekal dari pengalamannya dalam mengembara ke berbagai daerah, beliau tidak hanya belajar ilmu agama, namun dari situlah ia mempelajari kebudayaan suatu bangsa, adat istiadat, hingga kehidupan masyarat dan dengan inilah beliau memiliki kecerdasan intelektual serta pengalaman yang kaya sehingga ia dapat menggali hukum dan menentukan hukum fiqih dengan sangat cermat, tepat dan sesuai dengan kondisi. KH. Sahal Mahfud dalam bukunya Nuansa Fiqih Sosial mengatakan bahwa “pengetahuan Imam al-Syafi’i tentang masalah sosial kemasyarakatan sangat luas. Ia menyaksikan secara langsung kehidupan masyarakat desa dan menyaksikan pula kehidupan masyarakat yang sudah maju peradabanya pada tingkat awal di Irak dan Yaman. Juga menyaksikan kehidupan orang zuhud dan ahl al hadits. Pengetahuan Imam al-Syafi’i dalam bidang kehidupan ekonomi dan kemasyarakatan yang bermacam-macam itu memberikan bekal baginya dalam ijtihadnya pada masalah-masalah hukum yang beraneka ragam”.

Wocoen   Benarkah Nabi Muhammad itu Sesat Sebelum Menjadi Nabi?

[ads1]

Pada tahun 199 H beliau mengembara ke Mesir untuk belajar kepada para ulama serta mempelajari hal baru yang tidak ditemukan ditempat tempat sebelumnya. Di Mesir beliau menemukan ‘urf dan kebudayaan baru sehingga ia memperbaiki risalahnya dan menentukan hukum yang baru sesuai dengan kondisi masyarakat mesir pada saat itu. Beliau juga berfatwa dan mengembangkan madzhabnya serta meninjau kembali fatwa fatwa yang ia kemukakan sewaktu di Baghdad sehingga dari sinilah muncul istilah qaul qadim dan qaul jadid.

Mesir menjadi tujuan terakhir beliau hingga wafatnya. Dari sani dapat kita simpulkan bahwa Imam Syafii sering kali melakukan perjalanan dari mekkah, madinah, Baghdad dan beberapa daerah lain untuk berguru kepada para ulama. Meskipun pada saat itu beliau sudah memiliki ilmu yang luas dan sudah melakukan ijtihad, namun ketawaduannya dalam berguru kepada orang yang lebih alim dan tua membuatnya memiliki keistimewaan yang jarang dilakukan banyak orang. Oleh karena beliau menulis syair masyhur akan pentingnya merantau dan menimba ilmu :

تَغَرَّبْ عَنِ اْلأَوْطَانِ فِي طَلَبِ الْعُلاَ * وَسَافِرْ فَفِي اْلأَسْفَارِ خَمْسُ فَوَائِدَا

تَفَرُّجُ هَمٍّ وَاكْتِسَابُ مَعِيْشَةٍ * وَعِلْمٌ وَآدَابٌ وَصُحْبَةُ مَاجِدِ

Merantaulah meninggalkan tempat asal demi mencari kemuliaan; dan bepergianlah karena dalam bepergian itu terdapat lima faedah.

Yaitu melonggarkan kesusahan, mendapatkan penghidupan, ilmu, adab, dan berteman dengan orang-orang terpandang

Sumber : Nuansa Fiqih Sosial – KH. MA. Sahal Mahfudh. Materi Perkuliahan Pendekatan Studi Islam – Magister Pendidikan Bahasa Arab UIN Maliki Malang

Muhammad Bagus Ainun Najib
Muhammad Bagus Ainun Najib Putra seorang petani bawang merah asal Brebes, suka nglayab dan sekarang sedang menempuh magister Pendidikan Bahasa Arab di UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.