Hamdani Mubarok Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Mendefinisikan Ulang Arti Kiai

Hamdani Mubarok 2 min read 6 views

Sebuah video tersebar di linimasa media sosial saya. Video tersebut berisi gambar seorang dengan atribut kearab-araban. Berserban seperti kebanyakan orang Arab dan bergamis khas Arab. Dalam beberapa keterangan, orang tersebut dipanggil ustaz. Panggilan yang menjadi khas mereka yang memiliki pemahaman agama yang dianggap mendalam.

Di lain kesempatan, saya juga sempat menyaksikan seseorang dengan pakaian khas Islam, berkhotbah di atas mimbar di sebuah masjid. Berkali-kali dia bicara atas nama Tuhan sambil mengolok-olok kelompok lain yang dia tidak setuju dengan pendapat kelompok tersebut. Lagi-lagi, dia dipanggil gus. Sebuah panggilan khas bagi putra kiai, atau, pemuda yang dianggap akan menjadi penerus kiai.

Dari dua video tersebut, ada satu kesamaan yang bisa ditarik. Keduanya sama-sama mengutuk dan mengolok-olok “lawan” ideologis mereka. Dengan berbagai sumpah yang mereka sampaikan. Mereka dengan percaya diri mengecam setiap orang yang dianggap tidak sejalan dengan cara pikir mereka. Sampai di titik ini muncul sebuah pertanyaan konyol, apakah kemampuan mengolok-olok adalah syarat bagi seseorang untuk disebut ustaz, gus, kiai (ulama)? Jika tidak, mengapa kemampuan itu seakan selalu muncul di banyak ceramah agama yang beredar di media sosial?

Pertanyaan ini kemudian mengingatkan saya pada sebuah nasihat kuno yang dulu sering saya dengar selama berada di Pesantren Tambakberas, “Santri iku sing penting akhlak e (santri itu yang penting akhlaknya). Ilmu sedikit tidak apa-apa, yang penting manfaat barokah”. Nasihat ini saya dengar hampir dari semua guru saya selama di pesantren. Nasihat yang seringkali diulang-ulang oleh guru-guru pesantren saya dulu hingga saya hampir menyentuh titik bosan mendengarnya.

Nasihat ini baru bisa saya tangkap maksudnya akhir-akhir ini, setelah bertahun-tahun lulus dari madrasah. Keutamaan akhlak, yang dulu selalu menjadi nasihat utama kiai di pesantren kini mulai kelihatan titik temunya. Akhlak menjadi barang mahal pada hari ini, terlihat dari semakin langkanya akhlak di tengah-tengah umat Islam pada zaman ini. Jangankan di tingkat awam, di kalangan mereka yang mendeklarasikan diri sebagai pemuka agama saja, akhlak masih cukup langka. Dua video yang saya sampaikan di awal adalah gambaran umum dari kelangkaan ini.

Selama pengalaman saya ada di Tambakberas, ada sebuah kisah masyhur tentang perbedaan pendapat antara putra dan menantu K. H. Hasbullah Said. Dua orang yang hampir selalu berbeda pendapat itu adalah K. H. Wahab Hasbullah dan K. H. Bisyri Syansuri. Namun, betapa pun berbedanya dua kiai tersebut dalam pandangan keagamaannya, mereka toh tetap saling menghormati. Seringkali mereka berdebat hingga menggebrak meja, namun saat memasuki waktu salat, dua ulama ini saling mempersilakan “lawannya” untuk menjadi imam. Juga saling melayani dalam menuangkan air wudu. Sebuah gambaran akhlak agung di tengah perbedaan tajam di antara mereka berdua.

Jika mengingat sabda Nabi saw. yang mengatakan bahwa tugas utama kenabian Nabi Muhammad saw. adalah untuk menyempurnakan akhlak, maka dua kiai di atas adalah representasi dari hal tersebut. Sikap ini juga banyak saya jumpai di kalangan kiai-kiai pesantren. Antara satu kiai dengan kiai lain saling menghormati dan tawaduk. Sesuatu yang sama sekali tidak saya temukan pada dua video yang telah saya sebutkan di awal.

Setelah lama lulus dari pesantren, saya baru menyadari bahwa ternyata akhlak adalah prasyarat bagi seseorang untuk bisa berkiprah di tengah masyarakat. Hal ini meniru pada apa yang telah diajarkan oleh Nabi saw. Selama berdakwah, Nabi saw. lebih banyak mengajarkan Islam melalui kepribadiannya yang santun daripada ceramah-ceramah agama di atas mimbar. Karena kebaikan akhlak Nabi ini pulalah banyak orang yang tertarik dengan ajaran Nabi saw., waktu itu. Karena itulah, sebagai golongan yang dicetak untuk menjadi penerus para nabi, para santri dituntut untuk memiliki akhlak, sesuatu yang selalu diletakkan di atas ilmu. Dalam bahasa pesantren, akhlak yang baik di tengah masyarakat seringkali dibahasakan sebagai “dakwah bil hal”.

Kiai diposisikan sebagai pewaris para nabi yang bertugas untuk mengasuh umatnya. Tugas kepengasuhan kiai ini seringkali berupa pendidikan, meski tidak harus selalu formal. Karena itulah ciri khas seorang kiai adalah mendidik. Menjadi guru, dalam arti menjadi orang yang bisa digugu lan ditiru oleh jamaah sang Kiai. Dengan posisi sebagai figur yang digugu lan ditiru, seorang kiai dituntut untuk selalu berakhlak mulia.

Satu lagi nasihat yang sering saya terima selama ada di Pesantren Tambakberas adalah perihal kemanfaatan dan keberkahan. Dua hal yang menjadi syarat seseorang masuk dalam kategori kiai. Kemanfaatan memiliki berbagai bentuk. Di pesantren selalu diajarkan bahwa kemanfaatan tidak melulu perihal simbol agama. kemanfaatan juga bisa berupa hal-hal yang dipandang remeh sambil pelan-pelan mengenalkan agama. Dalam hal ini kasus wali sanga banyak dijadikan contoh. Wali sanga yang berdakwah di Indonesia dulu menyebar banyak kemanfaatan bagi warga sekitar mereka, baik ekonomi maupun kebudayaan. Karena itulah dakwah keagamaan mereka lebih mudah menyebar dan diterima. Dengan kemanfaatan yang disebarkan, maka dengan sendirinya seorang kiai akan duduk pada posisi pengasuh masyarakat. Tugas kiai dalam posisi ini telah dijelaskan secara mendalam oleh Hiroko Horikoshi dalam penelitian mereka.

Jika hari ini kemudian kita melihat seseorang dengan atribut keagamaan, betapapun lengkapnya. Atau, bertemu dengan seseorang yang berilmu agama, tak peduli betapapun luasnya, namun tidak memiliki dua hal di atas (akhlak dan kemanfaatan, keberkahan), maka maaf, mereka patut untuk tidak dimasukkan dalam definisi kiai. Selama ini pesantren tidak pernah memperkenalkan kiai dengan model seperti itu.

Hamdani Mubarok
Hamdani Mubarok Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.