Mendidik bukan hanya mengajar

Menurut Ki Hadjar Dewantara, bapak pendidikan kita dalam quote-nya, dengan adanya budi pekerti, tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri. Inilah manusia beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya.

Berbudi pekerti, dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai tingkah laku, perangai atau akhlak. Artinya, orang yang berbudi pekerti, adalah orang yang bertingkah laku atau berprilaku yang luhur, yang baik, dan dapat diterima oleh masyarakat yang berinteraksi dengannya.

Prilaku manusia bukanlah hal yang alami bawaan lahir. Ia sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Tidak ada orang yang terlahir tiba-tiba menjadi orang yang sopan, bila ia sopan tentu itu hasil dari pengaruh di luar dirinya. Entah itu pengaruhnya terjadi secara tidak disadari ataupun memang terjadi dengan sadar dan memang disengaja.

Pendidikan itu ibarat bengkel dalam membenahi prilaku manusia. Dalam hal ini ada dua tugas pokok pendidikan dalam pembenahan prilaku manusia, yakni menanamkan moral atau pandangan baik dan buruk, dan melatih manusia hingga memiliki etika yang baik.

Lalu tugas siapa kedua hal tersebut? Tentu tugas itu pada dasarnya bukan tugas sekolah sebagai lembaga pendidikan. Keduanya merupakan tugas keluarga, dalam hal ini kedua orang tua, selain menghidupi anak secara fisik, mereka juga perlu “memberi makan” anak-anak kebutuhan non-fisik. Mempelajari akhlak merupakan salah satu kebutuhan non-fisik bagi anak, karena itu merupakan sebuah bekal bagi ia ketika ia sudah terjun di masyarakat dan berinteraksi dengan sesama anggota masyarakat.

Tidak semua guru memiliki tugas menanamkan moral, karena tidak semua guru bertugas untuk mengajar akhlak. Oleh karenanya, mengajar akhlak adalah tugas utama guru akhlak, dan bagi guru-guru lain, pengajaran moral bisa disisipkan pada pelajaran yang diampunya, tapi ini hanya bersifat anjuran saja.

Namun, pondasi dari menanamkan nilai-nilai moral harus dilakukan oleh keluarga, dan keluarga lah yang memiliki tugas penting mengkawal perkembangan si anak, terutama terkait etika yang dimiliki sang anak ketika berinteraksi dengan lingkungan. Sedangkan sekolah hanya bertugas membantu mengenalkan konsep-konsep moral yang berlaku di beberapa komunitas saja.

Meskipun demikian, tugas yang diemban oleh pihak sekolah ini bukanlah hal yang ringan-ringan saja. Sebab, tidak semua anak didik memiliki konsep moral dan prilaku yang sudah baik. Ada anak-anak yang masih belum memiliki kesadaran bahwa ia perlu memiliki etika yang baik dalam bersosial, agar ia memiliki predikat yang baik dalam sosialnya. Ada pula anak yang sudah memahami bahwa etika itu perlu, namun konsep moral dan contoh beretika dalam pengalamannya tidak banyak di terima di kalangan luas, atau setidaknya tidak diterima di lingkungannya saat ini. Tugas guru di sini, tentu tidak lagi bisa menggebyah Uyah, tritmen-tritmen yang diberikan harus sudah dibedakan antara murid satu dan lainnya, tergantung kondisi sang anak, itulah beratnya.

Dengan demikian, konsep membagi tugas, seperti yang diutarakan di awal perlu benar-benar dijalankan oleh masing-masing lini. Merubah sikap anak, dari sikap yang tidak terdidik hingga menjadi pribadi dengan sikap yang terdidik adalah tugas bersama yang tidak akan selesai bila dikerjakan sendiri. Ada pihak yang menanamkan nilai-nilai moral, ada guru yang mengawasi dan ikut mendisiplinkan, ada orang tua yang dengan sadar bahwa anaknya sedang dididik dan turut mendukung proses pendidikan.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muhamad Isbah Habibii 57 Articles
Seorang petani asal Jombang, alumni Tambakberas, Ponpes Gasek dan Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.