Mendiskusikan TWK dari Pandangan Hak Asasi Manusia

The End Game tayang sebagai bentuk perlawanan dan upaya menyelamatkan KPK, WatchDoc merilis film dokumenter berjudul The End Game. Film dokumenter ini bercerita soal kesaksian para pegawai KPK yang dinyatakan tak lulus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Penyelenggaraan TWK melanggar hukum dan undang-undang. Selain itu TWK juga menyisakan persoalan karena sejumlah pertanyaan yang disodorkan tak sesuai tupoksi, memasuki wilayah pribadi dan melanggar hak asasi. Koalisi Guru Besar Antikorupsi ini juga mengkritik keputusan KPK yang memberhentikan 51 dari 75 pegawainya yang dinyatakan tak lolos TWK.

Menurut pemantik diskusi, Faizuddin Fil Muntaqobat, menariknya diskusi itu ya membuka wawasan baru dan kita bisa tahu faedah dari fakta-fakta di lapangan. Pandangan sisi HAM harus kita pahami juga guna men-counter narasikan isu  yang ada, yakni taliban dan radikalisme di KPK. Acara ini merupakan bagian dari protes terhadap keputusan pimpinan KPK yang tetap melantik para pegawainya yang dinyatakan lolos TWK. Seperti yang lain, mereka menilai proses alih status pegawai KPK bermasalah dan merupakan upaya pelemahan lembaga antirasuah.

Sejak dirilis, kedua trailer film ini telah ditonton puluhan ribu orang di YouTube. Trailer pertama menceritakan kesaksian sejumlah pegawai yang dinyatakan tak lulus wawasan kebangsaan. Mereka yang tak lulus berasal dari sejumlah kelompok dan latar belakang agama yang berbeda. Sementara, trailler film kedua menceritakan kesaksian 16 penyidik dan penyelidik, terkait sejumlah kasus yang mereka tangani di KPK. Mereka antara lain, Novel Baswedan, Kasatgas Penyelidik KPK Harun Al Rasyid, Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo, dan sejumlah nama lain. Mengapa banyak kelompok masyarakat yang tergerak untuk menyelamatkan KPK? Mengapa ketua,Dewas KPK, terkesan menutup mata dan telinga dengan protes dan kritik publik?

Bersama kita tahu ada TWK yang sedang dibincangkan khalayak ramai? Tahukah sahabat-sahabat pembaca dan pahami bahwa tes wawawasan kebangsaan ada dualisme kritik disana, adanya tindakan politis dan non etis di situ. Nama besar KPK kini kenapa jadi surut oleh oknum petinggi negara? Jadi lemah. Lembaga KPK adalah anak kandung reformasi, kenapa kini dilemahkan dengan sebuah ironi?

Menjadi anggota Penyidik itu ndak gampang lho. Banyak anggota juga tidak menginginkan jadi PNS kenapa dipinggirkan. Memang setiap lembaga dan organisasi baik itu lembaga dan organisasi negara ataupun swasta boleh-boleh saja mengadakan TWK kepada anggotanya, TWK mungkin ingin mengukur sejauh mana kapasitas bahkan kesetiaan anggotanya, itu bukan masalah besar, dan sah-sah saja.

Yang menjadi pertanyaan adalah substansinya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tentu harus rasional dan menyangkut bidang terkait semisal “apa ide Anda terkait pemberantasan korupsi di Indonesia?”, “bagaimana Anda menyikapi Revisi UU KPK?”, “Seberapa jauh Anda menganalisis permasalahan korupsi dan pemberantasannya di Indonesia?, “Pernahkah Anda melakukan riset tentang penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oknum pejabat mulai dari tingkat pusat sampai daerah?”, beserta pertanyaan-pertanyaan lain yang dirasa perlu dan penting untuk ditanyakan. Boleh juga ditanya tentang wawasan Nusantara baik dari perspektif historis, dan seterusnya.

Lah TWK untuk calon pegawai KPK kali ini beda, pertanyaannya aneh-aneh. Misal, “Pernah pacaran atau nggak?”, “Pas lagi pacaran ngapain aja?”,”Kalo Subuh pake Qunut nggak?”, “Pilih Al-Qur’an atau Pancasila?” Dan seterusnya, gampangnya begitu, mulai dari pertanyaan yang lucu dan irasional sampai pada pertanyaan yang ekstrem. Barangkali, para pembuat soal TWK tersebut cukup kompeten untuk membuat yang bagus dan tepat sasaran, ya kali KPK punya pembuat soal dari anak SD.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam TWK tersebut sangatlah lucu, irasional, dan di luar kewajaran. Bagaimana bisa TWK untuk calon pegawai KPK pertanyaannya malah menelusuri hal-hal privat calon. Bukankah hidup di negara yang katanya berpancasila dan berkonstitusi ini bukan hanya hal dan hak yang bersifat publik yang dilindungi tetapi pada ranah privat pun demikian, harus dihargai dan dilindungi. Sebab setiap orang punya hak privasi masing masing (UUD 1945 pasal 28 G). Lagipula, apa hubungannya pacaran dengan pemberantasan korupsi? Apa hubungannya hal-hal yang dilakukan semasa berpacaran dengan pemberantasan korupsi? Apa pimpinan negara dan pimpinan KPK khawatir pegawainya ngambil uang negara untuk mentraktir pacarnya? Ah, yang serius aja.

Bolehlah berdalil ‘demi Bangsa dan Negara’, ‘atas nama Pancasila’, dan sejenisnya. Asal rasional, jangan mempertontonkan kebodohan dan keserakahan pada publik. Jangan jadikan Pancasila sebagai alasan dan dasar untuk melegitimasi kekuasaan dan kekuatan politik tertentu sehingga paling merasa pancasilais. Pancasila ini dibuat untuk kebersamaan, bukan untuk golongan tertentu (cek pidato Sukarno pada 1 Juni).

Melihat film KPK Endgame dari sesi hak asasi manusia, kata Gus Faiz yang juga Ketua DPD LB HAM Kabupaten Jombang, mengarah ke pendiskreditan makna dari nilai-nilai Pancasila. Kala itu Pancasila dijadikan legitimasi kekuasaan politik tertentu yang pada akhirnya jika bukan kelompoknya dianggap kurang pancasilais atau bahkan tak pancasilais sama sekali. Kala itu Pancasila juga dijadikan bahan legitimasi kekuasaan yang korup dan kapital.

Diskusi bersama ketua DPD LBH Kabupaten Jombang diakhiri dengan membuat video bareng dan mewakili segenap anak bangsa yang mengawal isu KPK, yakni tagar menolak isu taliban dalam KPK. Karena integritas Independen reources, keuangan, independen kejujuran, dan pasti mereka memiliki integritas tinggi dalam komitmen menjalankan Pancasila dan UUD 45 sudah benar-benar dijalankan oleh sebagian teman-teman yang disingkirkan itu.

Mengapa banyak kelompok masyarakat yang tergerak untuk menyelamatkan KPK? Mengapa KPK terkesan menutup mata dan telinga dengan protes dan kritik publik? Kenapa hal itu kembali terjadi. Eh jangan salah, hal itu sudah terjadi. Akankah hal ini akan terus berlanjut? Wallahu a’lam bisshowab.

About Sholeh Abdul Baqi 3 Articles
Menulis adalah kata lain dari hidup. Aktif di pastibisabungkus.blogspot.com. Lahir 26 Juli 1998 di Banyumas, Jawa Tengah. Mempunyai moto "urip iku urup mugi tansah manfaat"

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.