Menerima Diri

Pernahkah kamu mengalami suatu kejadian yang tidak ingin kita ada di dalamnya, kemudian bertanya-tanya kepada Tuhan, ‘kenapa ini terjadi kepadaku?’. Padahal kalau dipikir berulang kali hal itu adalah risiko yang harus kita tanggung atas perilaku-perilaku yang kita sepakati, misalnya kita menyepakati untuk selalu berhasil dalam segala bidang maka kegagalan adalah bagian dari ‘jalan berhasil’ itu. Berhasil dan gagal adalah satu paket yang kita sepakati. Tapi biasanya kita hanya mau mengambil yang berhasilnya saja, ketika tidak sampai malah misuh-misuh kepada Tuhan.

Peristiwa-peristiwa semacam itu kerap kali menjadikan kita kembali seperti anak kecil, hanya kesenangan yang diharapkan dan tidak memikirkan jalan berliku-liku yang mesti kita tempuh. Emosi-emosi terkadang tak terkendali, hanya tangisan dan luka-luka yang kita rasakan, tumpah ruah di ruang nafsu kita. Berasa menjadi manusia yang paling terluka di dunia ini. Padahal, hal itu merupakan satu kesatuan dengan apa yang kita jalani. Seperti mencintai seseorang adalah kerja-kerja yang melingkupi sakit hati, dicampakkan, dan hal-hal yang menegasi dengan cinta.

Bayangkan, kita menjadi anak kecil yang kehilangan ibunya, dan dicampakkan ayahnya. Padahal yang dia harapkan adalah kesenangan, tetapi yang dia hadapi adalah sebaliknya. Dia ingin bersama mainannya kembali tapi tak bisa, ingin bersama ayahnya tapi keadaan selalu sulit. Akhirnya dia terkurung dalam sebuah ruang yang menggiringnya kepada emosi-emosi yang membuat jiwanya terkatung-katung. Karakternya terbentuk menjadi anak yang susah diatur dan banyak memendam perasaannya sendiri. Dia membutuhkan pelukan yang dapat mengalirkan air di jiwa kemaraunya.

Kita seperti dia, kehilangan ibu, kita analogikan sebagai bentuk harapan dan dicampakkan ayah sebagai kemauan cara memandang (berpikir) pada sisi yang lain. Akhirnya kita stres, marah, dan kebingungan mencari jalan keluar. Kita menjadi seseorang yang susah bangkit dan putus asa –hingga orang-orang tidak bisa memberikan bimbingan kepada kita, karena kita tidak mau menerima pendapat orang lain. Jiwa kita betul-betul kemarau dan gelap.

Hidup jika hanya memikirkan masa depan hanya akan dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran, dan jika hanya memikirkan masa lalu hanya akan dipenuhi kesedihan dan kemurungan. Masa depan dan masa lalu hanyalah suasana yang mengoyak-koyak kita untuk lupa menikmati dan mensyukuri hari ini, saat ini.

Kaya dan miskin bukan sekadar nasib, kaya dan miskin hanyalah patokan. Kalau ingin kaya, kita perlu berusaha untuk menjadi kaya dan tidak usah berkecil hati kalau masih miskin.

Hidup ini adalah seni berjalan-jalan. Kalau ada tempat untuk bersinggah, bersinggahlah. Kalau ada tempat untuk menetap, menetaplah.

Apa pun yang kita sepakati, berarti menyepakati juga segala risikonya. Terimalah dengan senang hati, biar kita mengenal Tuhan bukan sebagai Dzat yang mengerikan dan menjengkelkan. Belajar menerima diri adalah hakikat ilmu untuk mencapai damai dan bahagia.

Bagiku Tuhan bukan sebagai tempat untuk memesan takdir. Dia bukan tempat berdagang tapi kita masih saja memikirkan untung dan rugi dengan-Nya.

Kenalilah Tuhan dengan cara-cara yang berbahagia, bukan dengan diiming-imingi ketakutan dan kekhawatiran. Terdapat sebuah hadits yang sangat membahagiakan, seperti ini: “Barang siapa mendekati Allah sesiku, Dia akan mendekatinya sehasta. Barang siapa mendekati Allah sambil berjalan, Allah akan menyambutnya sambil berlari.” {H.R Ahmad dan Al-Thabrani}

Bukankah sangat membahagiakan? Dia akan memberikan air kepada kemaraunya jiwa kita dan Dia akan memberikan cahaya pada gelapnya jiwa kita. Sugesti kita terlalu sibuk menciptakan hal-hal untuk memenuhi kebutuhan hidup secara sempurna, dan kerja kita terlalu terpaku pada sugesti itu.

Paket ketetapan yang telah kita sepakati, hanya perlu diterima tanpa menyalahkan Tuhan dan menyiksa diri sendiri. Mari kita mengetahui kadar dan peran kita, dan mulailah untuk menerimanya.

Wallahu-alam-bishshawab


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.