Menerka “Gen” Turunan dari Almagfurlahu KH Abdul Wahab Hasbullah

Kalau Ketua Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, KH M Wafiyul Ahdi Amanulloh, menyebutkan bahwa santri dan alumni PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang mempunyai “gen” turunan dari Almagfurlahu KH Abdul Wahab Hasbullah, agaknya memang menarik untuk ditelisik. Setidaknya menarik untuk dibincangkan dan dikaji lebih lanjut untuk mengetahui identitas semua elemen keluarga besar Tambakberas, yang meliputi kultur pesantren, dzuriyah, santri, serta alumni, sebagai komunitas.

Paling tidak kita menduga, memang benar bahwa santri dan alumni Tambakberas secara kolektif mempunyai model yang berbeda dengan santri dan alumni PP Lirboyo, misalnya, dalam kiprahnya di tengah masyarakat. Atau misalnya santri dan alumni Tambakberas tidak bisa disamakan dengan lulusan PP Sidogiri, PP Al-Anwar Sarang, dan seterusnya. Bukan soal siapa yang terbaik, namun lebih kepada “corak” yang beraneka ragam dari lulusan pesantren.

Diksi “santri dan alumni Tambakberas” yang diungkapkan oleh Kiai Wafi ini mungkin juga bisa kita perluas menjadi “orang-orang Nahdliyyin”. Mengingat kaum intelektual dan cendekiawan dari kalangan Nahdliyyin juga merupakan putra-putri ideologis Almagfurlahu KH Abdul Wahab Hasbullah.

Nyatanya kita melihat bahwa dakwah alumni Tambakberas dalam kehidupan bermasyarakat mengalami “inklusifisasi”. Eksistensi alumni Tambakberas tidak hanya terbatas pada ngaji sorogan kitab kuning di madrasah maupun pesantren, namun mereka juga telah mengisi pos-pos dakwah di berbagai bidang sosial; politik, sosial-keagamaan, sosial-budaya, ekonomi, dan lain sebagainya.

Ambil contoh Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah yang merupakan alumni Tambakberas, yang telah lama berdakwah di jalur politik dan birokrasi. Atau jauh ke belakang ada sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terkenal dengan sebutan Bapak Pluralisme yang begitu dicintai oleh kalangan lintas agama.

Sederhananya, alumni Tambakberas tidak hanya pandai dalam ngaji kitab saja, namun juga kapabel dalam mengelola madrasah, lembaga pendidikan secara umum maupun organisasi, serta mempunyai kemampuan manajerial lainnya dalam banyak hal.

Secara sederhana, untuk melihat gen Mbah Wahab ini tidak perlu jauh-jauh kita mencari semua alumni Tambakberas di berbagai pelosok negeri. Kita bisa menengok bahwa dalam lingkungan PP Bahrul Ulum sendiri mempunyai banyak unit pendidikan formal dengan berbagai fokus disiplin ilmu.

Madrasah Muallimin Muallimat yang didirikan KH Abdul Fattah Hasyim, MTs-MA Fattah Hasyim, Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) yang didirikan keluarga Bani Fattah, dan MA Al-I’dadiyyah yang didirikan KH Ahmad Nasrullah Abdurrochim mempunyai fokus kepada kajian kitab-kitab klasik. KH Amanulloh Abdurrochim yang mendirikan STIKES Bahrul Ulum dan SMK TI An-Najiyah selanjutnya menawarkan disiplin ilmu yang berbeda dalam dunia pesantren pada umumnya bersama SMK Kreatif yang kemudian belakangan lahir.

Di pendidikan tinggi lainnya, Universitas KH A Wahab Hasbullah (UNWAHA) juga memberikan pilihan jurusan dengan disiplin ilmu kemasyarakatan yang tidak terbatas pada ilmu keagamaan saja, namun juga ilmu-ilmu “profan” lainnya. Kompleksitas ini tentu tidak bisa terlepas dari “gen” turunan Mbah Wahab sebagai ulama yang modern dan melampaui sekat-sekat aktivitas pesantren pada umumnya.

Lalu poin-poin apa saja yang menjadi gen turunan sosok penggagas, pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama (NU)?

Penulis, sebagai santri yang tidak mempunyai ilmu yang mendalam dan belum tahu banyak tentang kiainya secara utuh, tidak akan mampu menggambarkan sosok Almagfurlahu KH Abdul Wahab Hasbullah secara lengkap dan terperinci. Apalagi sekadar dimuat dalam tulisan sederhana ini, mengulas sosok Mbah Wahab tidak akan tuntas.

Figur beliau sebagai ulama besar yang penuh perjuangan di semua lini kehidupan dalam level nasional maupun internasional tidak akan terjangkau oleh kapasitas kami, santri yang baru belajar mengaji dan tidak “menangi” beliau. Sehingga sosok beliau terlalu kompleks yang bila hanya dipelajari secara sederhana.

Cucu beliau, KH Azam Khoiruman Nadjib (Gus Heru), pernah mengatakan bahwa semakin kita mempelajari segala hal tentang figur dan kiprah perjuangan Mbah Wahab, semakin kita tidak menemukan “titik tuntas” dari apa yang kita pelajari tersebut. Gus Heru sebagai dzuriyah Mbah Wahab, juga merasa tidak mampu menjangkau sosok kakeknya tersebut secara utuh. Ini membuat Gus Heru tidak berhenti mempelajari dan menggali sosok Mbah Wahab sebagai ulama, politikus, tokoh masyarakat, pemimpin pesantren, maupun sebagai kepala rumah tangga agar menjadi barometer bagi kalangan pesantren secara umum.

Namun, walaupun dengan kenyataan tersebut, bukan berarti penulis akan berhenti belajar dan tidak mau mempelajari perilaku-perilaku agung Almagfurlahu KH Abdul Wahab Hasbullah, agar menjadi ibrah. Sehingga kemudian penulis menyederhanakan menjadi beberapa poin besar terkait gen turunan dari Mbah Wahab kepada santri dan alumni Tambakberas, maupun kalangan Nahdliyyin sebagai putra-putri ideologis beliau.

Pertama, luwes dalam berdakwah. Beliau yang dikenal dengan pembawaan “gampangan dalam beragama”, ternyata menurun kepada gaya berpikir keluarga besar pesantren Tambakberas —yang mencakup dzuriyah juga alumninya— dan orang-orang pesantren dengan kultur NU secara umum. Dengan brand Islam tradisional yang melekat, dakwah kalangan “Islam ndeso” ini mempunyai nuansa yang berbeda dengan, misalnya FPI dan HTI yang telah dibubarkan pemerintah, maupun kalangan Salafi Wahabi.

Simbol-simbol agama seperti Ishari, terbangan, Burdah, muludan, selametan, berjanjen, haul, puji-pujian, dan lain sebagainya, yang ditampakkan oleh kiai-kiai kampung dan masyarakat NU lebih bisa diterima oleh masyarakat di pedesaan. Simbol-simbol tersebut merupakan representasi dari keluwesan dakwah yang disyiarkan oleh Mbah Wahab.

Kemudian jika ada pertanyaan, bukankah itu sudah ada sejak zaman Walisongo? Memang benar. Namun yang “menyetempel” dan memberikan “merk” pada simbol-simbol tersebut adalah Mbah Wahab Hasbullah, beserta kiai-kiai pesantren, melalui pendirian Jamiyah NU sebagai payung wadah amaliah keberagamaan masyarakat agraris pada awal abad 20 agar menjadi lebih terlegitimasi.

Demikianlah, pada saat itu, serangan dari kelompok Islam ekstremis yang ditujukan kepada amaliah keberagamaan masyarakat kampung begitu dominan. Selain itu cepat atau lambat sekularisme akan sampai ke Indonesia. Untuk mengatasi sekularisme, Mbah Wahab dengan sigap mengumpulkan orang-orang pesantren dan mendirikan wadah bernama NU.

Dengan NU, amaliah keberagamaan masyarakat di pedesaan bisa terkawal sehingga agama bisa lebih diterima dan melebur dengan kehidupan sosial masyarakat agraris. Meminjam istilah Buya Syafi’i Ma’arif dan Habib Quraish Shihab, bahwa agama harus membumi.

Kedua, inklusivitas. Sebagian asumsi masyarakat bahwa aktivitas kiai —atau lulusan pesantren— harus mengajar ngaji, ceramah agama di masjid atau di kampung-kampung, dan aktivitas religi lainnya. Namun Mbah Wahab tidak. Selain sebagai ulama dan pemimpin pesantren, beliau adalah seorang politikus, pendekar, seniman, pengusaha, serta organisatoris.

Sebagai orang pesantren, beliau tidak terkungkung hanya dalam aktivitas spiritual-transendental. Akan tetapi lebih dari itu, Mbah Wahab mampu menyelami berbagai sektor kehidupan profan dengan bingkai dakwah sebagai muara akhir.

Beliau menjadi pribadi yang terbuka kepada segala jenis ilmu pengetahuan —administrasi, bisnis, jurnalistik dan lain sebagainya, yang secara spesifik tidak diajarkan di pesantren pada umumnya, dengan kemudian mengkader orang-orang dalam lingkaran beliau. Secara makro, inklusivitas dakwah ini sepertinya juga menurun kepada santri dan lulusan pesantren Tambakberas maupun Nahdliyyin.

Bagaimana bisa Mbah Wahab sebagai “orang sarungan” berpikir mendirikan Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar atau Taswirul Afkar pada zaman itu? Yang notabene organisasi tersebut bergerak di berbagai spesifikasi masing-masing bidang meliputi kebangsaan, perekonomian berbasis keumatan, maupun keintelektualan. Tentu dibutuhkan kecerdasan, keberanian dan keinklusifan berpikir.

Ketiga, daya jelajah dakwah yang luas. Mbah Wahab nyatanya tidak hanya bergaul dengan kalangan pesantren dan NU saja. Beliau juga punya banyak kolega tokoh-tokoh nasional maupun politikus dari berbagai daerah. Dakwah beliau mampu masuk ke semua lini kehidupan.

Sebagaimana yang pernah disampaikan Gus Dur, Mbah Wahab bersama dengan Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan HOS Cokroaminoto mempunyai jadwal rutin mendiskusikan hubungan antara Islam dan kebangsaan —yang pada saat itu tema ini menjadi wacana yang belum dibahas banyak orang namun beliau sudah jauh memikirkannya. Dan yang mengatur jadwal tersebut adalah Ir. Sukarno.

Klasifikasi di atas tentu bukan bermaksud mendiskreditkan sosok Almagfurlahu KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai tokoh yang kompleks. Sebagai figur yang visioner, berani, cerdas, lincah, taktis, negosiator ulung, penyayang anak yatim, humoris, gemar silaturahmi, percaya diri, dan kiai yang alim, sosok beliau tidak akan mampu diulas dalam tulisan sederhana ini.

Selain itu, poin-poin tersebut di atas bukan merupakan hal yang empiris dan secara otomatis menurun ke dalam diri setiap santri dan murid-murid KH Abdul Wahab Hasbullah. Namun juga sebagai harapan agar setiap santri yang berharap diakui sebagai murid beliau seperti penulis, mampu ikut berusaha menduplikasi apa yang telah dilakukan beliau.

Pada intinya, dalam penuturan Gus Heru, kehidupan Mbah Wahab tidak pernah kosong dari kegiatan mengabdi kepada masyarakat. Ini berlaku juga bagi seluruh para Muassis PP Bahrul Ulum Tambakberas dan kiai-kiai pesantren secara umum, yang tidak berhenti mengabdikan diri kepada orang banyak.

Meminjam konsep Ilmu Sosial Profetik Prof Kuntowijoyo, yang mengutip Al-Qur’an, “kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma’ruufi wa tanhauna anil munkari wa tu’minuuna billaahi“, bahwa kesemua dari kita adalah umat terbaik. Umat terbaik harus melakukan sesuatu yang terbaik. Terbaik tersebut adalah pertama, amar makruf, yang diderivasi sebagai humanisasi, memanusiakan manusia, menolong manusia, berbuat sesuatu untuk manusia.

Kedua, nahi munkar, yang dalam bahasa beliau sebagai liberasi, membebaskan manusia dari segala hal yang tidak patut. Dan ketiga, mengimani Allah subhanahu wa ta’ala, yang diderivasi sebagai transendensi, bahwa segala aktivitas sosial di atas harus berbasis dakwah dan iman kepada Tuhan.

Sebagai santri, sudah sepatutnya penulis dan para lulusan pesantren yang lain, mengikuti tindak lampah gurunya sesuai kapasitas masing-masing, walaupun sekian sedikit persen bisa meniru dan meneruskan perjuangan beliau, sambil berharap tetap diakui menjadi santri beliau. Tidak perlu meniru semua, namun semampunya, dengan terus belajar istikamah mengabdikan diri kepada orang banyak seperti priagung-priagung sekaliber Almagfurlahu KH Abdul Wahab Hasbullah dan para kiai lainnya.

About Hanif N. Isa 17 Articles
Mas-mas biasa.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.