Mengagau Substansial Kampus Mengajar

Semangat untuk memberikan pendidikan tidak pernah ada habis-habisnya; pada masa jabatan Mendikbud Nadiem Makarim yang hampir menginjak tiga tahun, telah kita saksikan banyaknya kebijakan. Misalnya seperti sekolah tatap muka kembali digalakkan di tengah pagebluk yang makin membuat kita sering bersedih atau pembagian kuota belajar yang sebenarnya tak efisien terhadap pelajar-mahasiswa yang tak memiliki mobilitas yang memadai (jaringan dan telepon pintar). Seturut itu, gaung menggatikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menyala.

Kendati, lemparan banyaknya kritikan yang membuat babak bundas mental tak menyulutkan diri ciut. Kini, dalam tingkat universitas, Kemendikbud mengeluarkan program Kampus Mengajar. Pada periode pertengahan tahun 2021, Kampus Mengajar memasuki angkatan kedua setelah angkatan pertama rampung di awal tahun 2021.

Melirik situs Kampus Merdeka, terdapat tiga poin penting tentang Kampus Mengajar. Pertama, berkontribusi sebagai agen perubahan untuk tantangan pendidikan Indonesia. Kedua, menjadi mitra guru untuk berinovasi dalam pembelajaran literasi, numerasi serta adaptasi teknologi selama di SD dan SMP selama satu semester. Terakhir, mengasah keterampilan sosial: empati, komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, pemecahan masalah, inovasi dan kreativitas.

Terdengar cukup menggugah memang, tetapi kepada siapakah ketiga sasaran itu ditujukan? Dalam bentuk ini dimaksud kepada mahasiswa manakah yang berhak untuk percobaan pada tiga poin tersebut? Hamdalah akhirnya, setelah seorang teman mahasiswa pendidikan yang berhasil lolos angkatan pertama menyemangati saya untuk masuk ke dalam program tersebut dan saya pun mendaftar pada angkatan kedua.

Dari pendaftaran inilah mulai saya melihat bahwa tidak adanya kesinambungan dalam program. Kemendikbud menekankan bahwa setiap peserta yang mengikuti Kampus Mengajar sampai akhir akan menerima konversi 20 SKS. Angka tersebut terbilang sangat besar bagi kampus, terlebih kampus swasta yang menekankan biaya yang signifikan terhadap raup SKS per semester. Seperti yang terjadi di banyak kampus, mahasiswa hanya diberikan konversi sembilan SKS dengan ketentuan pembayaran administrasi sebesar 300 ribu, yang dalam bentuk tertulis sebenarnya telah melanggar kebijakan Kemendikbud dan prosedural tertulis yang ditandatangani dengan materai sewaktu meminta surat rekomendasi perguruan tinggi kepada kampus terkait bahwa mahasiswa tidak mendapatkan bantuan apapun dari kampus dalam program Kampus Mengajar kecuali konversi sembilan SKS.

Respon beberapa mahasiswa dari berbagai universitas tak jauh belaka: ada yang memberikan tetapi tidak penuh dan ada juga yang memberikannya penuh dan bahkan ada yang tak diberikan konversi SKS. Konversi SKS, dalam kabar tersebut, merupakan kebijakan mutlak oleh masing-masing program studi, seorang mahasiswa berjurusan PGSD mendapatkan penuh konversi SKS, sedangkan seorang mahasiswa berjurusan Pendidikan Bahasa Indonesia hanya mendapatkan 6 SKS, dan yang berjurusan Psikologi tak mendapatkan konversi SKS barang satu pun!

Kemudian lihatlah poin nomor dua: menjadi mitra guru untuk berinovasi dalam pembelajaran literasi, numerasi serta adaptasi teknologi selama di SD dan SMP selama satu semester. Bila merujuk penamaannya dan penempatan program, Kampus Mengajar semestinya diisi oleh mahasiswa pendidikan. Hal ini semata bukan sebagai diskriminasi jurusan dan budaya polarisasi yang landai, namun menimbang pendidikan, bagaimanakah yang tepatnya?

Mengajar—lebih-lebih mendidik—tak semata memberikan tugas dan mengoreksi jawaban dan memberikan nilai. Pendidikan bagaimanapun harus membuat anak-anak merasa nyaman dan senang. Tetapi setitik pun tidak boleh dilupakan dalam mengajar, terdapat sistematis yang disebut sebagai kerangka pembelajaran atau yang disebut RPP. Pembuatan RPP dalam K-13 adalah kerumitan yang menyenangkan. RPP disajikan tidak sekadar pokok pelajaran, melainkan penanaman ketakwaan rohani, dan bagaimana menyusun serapi mungkin dalam tiap-tiap menjalankan pembelajaran, yang pada dasarnya menjadikan siswa sebagai objek dan subjek yang tak berbatas.

Menempatkan mahasiswa pendidikan dalam sisi yang marginal tentu akhirnya membentur poin pertama sebagai agen perubahan untuk tantangan pendidikan Indonesia sebab pembekalan terhadap mahasiswa pendidikan sangat minim dalam akademik dan makin sempit dengan peleburan dalam Kampus Mengajar. Lalu, adakah mahasiswa non-pendidikan tulus merambah setelah menamatkan gelar mahasiswanya sebagai guru? Ini problematika yang lainnya, yang tentu panjang sebab menimbang keputusan sertifikat pendidik.

Di lain sisi, pada angkatan kedua ini, dapat ditemukan semacam etos menjilat ludah sendiri dengan fakta tidak adanya keseriusan dalam menjaring para peserta. Momen pertama tampak ketika adanya ‘remedial’ atau ‘kesempatan kedua’ bagi para peserta yang tak menjalankan survei kebinekaan. Panitia Kampus Mengajar seolah-olah menjadi pihak yang welas asih untuk memberikan ‘kesempatan’ itu bagi 2500 lebih peserta yang tak mengikuti survei. Dan momen kedua terjadi sesaat pengumuman dilaksanakan, pada sosialisasi, panitia menjanjikan tanggal 19 Juli penguguman, namun akhirnya diundur pada tanggal 21. Tetapi nyatanya, pengumuman mengaret hingga esoknya pukul setengah satu dini hari.

Momen terakhir ketika panitia mengirimkan surat melalui email kepada para peserta yang tak lulus begitu mengerikan. Saya mendapatkan potongan gambar yang diberikan teman kepada saya, yang bunyinya: Karena banyaknya jumlah pendaftar dan setelah melakukan berbagai proses seleksi, dengan berat hati, kali ini kamu dinyatakan belum lulus. Keputusan ini tentu saja bukan berarti penilaian yang tidak baik terhadap kemampuanmu, tetapi lebih karena keterbatasan jumlah penerima yang ditetapkan di program Kampus Mengajar Angkatan 2 Tahun 2021 ini.

 Saya terenyuh membaca surat balasan tersebut dengan pemaknaan bahwa para peserta yang lolos, terpilih tidak berdasarkan kecakapan dalam mengajar, melainkan rezeki yang cenderung membuat cemas visi misi Kampus Mengajar. Bahkan hal yang paling lucu terjadi ketika seorang teman mengatakan dia terdaftar sebagai peserta dengan mengirimkan data-data yang tak sesuai, yang sesuai penuturannya bahwa ia mendaftar untuk membantu kekasihnya dalam melengkapi berkas yang perlu dipersiapkan.

Pada titik ini, mahasiswa juga akhirnya menjadi objek yang tergerus dalam permasalahan dalam perubahan untuk tantangan pendidikan Indonesia. Akhirnya, sekali lagi, siswa-siswa dikorbankan sebagai tumbal dalam ketidakjelasan program ini, bahkan mulai dari taraf regulasi. Perlakuan tindak culas kampus, ketidaktegasan Kemendikbud, naifnya motivasi mahasiswa mengikuti Kampus Mengajar menjadikan pendidikan makin babak bundas, sebab seturut Unesco (2000), indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun: dari 174 negara, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999) dan menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia serta data The World Economic Forum Swedia, Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia.

 

-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Erchi Yona Br Sinuhaji 1 Article
mahasiswa Akuntansi, Universitas Pamulang

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.