Mengajar Adalah Tarekat

Salah satu pengalaman yang cukup berkesan ketika dulu saya masih berada di Madrasah Muallimin Bahrul Ulum Tambakberas adalah saat salah seorang guru untuk mata pelajaran tasawwuf bercerita di kelas tentang sosok KH Abdul Fattah Hasyim, pendiri Madrasah Mu’allimn Bahrul Ulum.

Ini adalah sebuah kisah yang menjelaskan pada umat islam bahwa tuhan telah menyediakan ribuan jalan untuk mencapai-Nya. Dan apa yang dialami oleh Kyai Fattah bisa jadi akan menjawab banyak pertanyaan yang selama ini berseliweran dalam fikiran santri kebanyakan. Kyai fattah sendiri merupakan sanak famili dengan Kyai Wahab (pendiri NU) dari jalur Ibu. Duet dua kyai ini pula lah yang kemudian mengantarkan Bahrul Ulum berkembang menjadi pesantren sebesar yang sekarang. Selama Kyai Wahab sibuk mengurusi umat lewat NU, maka Kyai Fattah membacking tugas-tugas beliau di pesantren.

Diceritakan, KH Abdul Fattah suatu ketika pernah bertanya kepada KH Abdul Wahab Hasbullah. Dalam bahasa yang sederhana, pertanyaan KH Abd. Fattah adalah begini, “Paman, kakek leluhur saya merupakan orang-orang yang menekuni dalam masalah tarekat, dalam hal ini tarekat Naqsyabandiyah, apakah seharusnya saya juga masuk tarekat ?” kyai Wahab kemudian menjawab, “tidak perlu. Karena mengajarmu itu (karena memang saat itu Kyai Fattah disibukkan dengan kegiatan mengajar) adalah tarekat tersendiri”. Jawaban dari Kyai Wahab ini semakin memantapkan hati Kyai Fattah untuk selalu istiqomah dalam mengajar.

Di kalangan santri Bahrul Ulum memang kyai Fattah dikenal sebagai kyai yang istiqomah dalam mengajar. Beliau, memang tidak seperti kyai lain yang ikut aktif berpolitik, atau suka ceramah dari satu kampung ke kampung lain, beliau lebih suka untuk berdiam diri di tempat guna mengajar, baik santri maupun orang-orang kampung di sekitar rumahnya. Hidupnya dihabiskan untuk mencerdaskan umat. Untuk mengikis kebodohan umat.

Bahkan karena begitu dalamnya pengabdian beliau untuk ilmu pengetahuan, sampai-sampai ada banyak cerita di kalangan santri yang menceritakan tentang keistiqomahan kyai Fattah dalam mengajar. Salah satunya yang sering terdengar di kalangan santri adalah, beliau tidak mau menerima tamu jika sudah masuk jam mengajar. Tamu yang datang akan di stop demi mementingkan keperluan mengajar.

Mengajar sebagai tarekat ini nampaknya pernah dijelaskan oleh al Malibari. Dalam Hidayat al Adzkiya’nya Zainuddin al Malibari menyebutkan,

“walikulli wahidihin thariqun min thuruqin”,

“Yakhtaruhu fayakunu min dza washola”.

“Kajulusihi bain al Anam Murabbiya, wakakatsrat al Aurad ka ash Shaumi Shala …”

“dan setiap individu memiliki jalan (cara) dari berbagai jalan (menuju Tuhan)”

“individu tersebut (silahkan) memilih dari jalan mana ia akan sampai (pada Tuhan)”

“seperti mengajar, memperbanyak wirid seperti puasa, shalat…”

Saya tidak ingin menyimpulkan bahwa kita tidak perlu bertarekat, dalam arti tarekat yang umum kita pahami seperti Naqsyabandiyah, Qadiriyah, Syadziliyah, dan lain sebagainya. Namun, kita juga harus selalu ingat bahwa jalan menuju Tuhan, tidak melulu dicapai dengan cara-cara seperti itu.

Salah satu cara yang bisa dijadikan sebagai tarekat menuju tuhan adalah mengajar. Mengajar, meskipun kelihatanya sederhana namun tidak bisa dianggap sesederhana kelihatanya. Mengajar bisa menjadi salah satu media guna mencapai Tuhan. Tentu harus dibarengi niat yang benar.

Atas dasar ini pulalah, nampaknya, mengapa kyai-kyai di pesantren seringkali menyampaikan pesan pada santri-santrinya untuk mengajar saat sudah pulang dari pesantren. Di Bahrul Ulum, saya pernah mendengar nasehat “nek dijaluk i mulang ojo nolak” (kalau diminta mengajar jangan menolak). Sementara ketika saya kilatan di Lirboyo pernah melihat sebuah pesan dari sesepuh Pesantren yang ditulis dalam kalender pesantren yang intinya, jika pulang dari pesantren nanti, mengajarlah meskipun muridmu hanya satu orang. Sebuah pesan yang saya yakin seringkali disampaikan oleh banyak kyai di pesantren-pesantren salaf.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Hamdani Mubarok 12 Articles
Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.