Muhammad Bagus Ainun Najib Putra seorang petani bawang merah asal Brebes, suka nglayab dan sekarang sedang menempuh magister Pendidikan Bahasa Arab di UIN Maliki Malang.

Mengajarkan Sikap Washatiyah “Moderat” kepada Anak-anak, Mungkinkah?

Muhammad Bagus Ainun Najib 2 min read 1 views

pelajar-papua

[dropcap]F[/dropcap]aham radikalisme dan ekstrimisme yang berkembang di Indonesia menjadi masalah serius yang dapat mengancam orang dewasa bahkan anak-anak. Beberapa anak telah terjangkit wabah radikalisme dan ekstrimisme, akibatnya toleransi dikalangan anak-anak kian menghilang,  mereka kerap bersikap lebih keras, semaunya sendiri, tidak saling menghargai bahkan berani kepada orang yang lebih dewasa.  Masih ingatkah peristiwa pengeboman disejumlah gereja di Surabaya pada bulan mei silam dimana si pelaku adalah anak-anak beserta orang tuanya ? peristiwa tersebut menjadi pelajaran bahwa keterlibatan anak-anak dalam peristiwa bom bunuh diri merupakan korban karena pendidikan yang diajarkan orang tuanya salah. Anak anak pelaku terorisme lebih banyak belajar tentang radikalisme dan intoleransi ketimbang belajar tentang moderatisme, toleransi, kebhinekaan dan nasionalisme sehinga dunia anak-anak yang seharusnya diwarnai keceriaan dalam belajar dan bermain justru dipenuhi dengan sikap dendam dan kebencian. Oleh karenanya pemerintah beserta seluruh elemen masyarakat harus sadar akan bahaya virus radikalisme dan intelorensi serta melakukan berbagai upaya untuk memberangus kedua virus ini dalam dunia pendidikan anak sehingga anak anak diharapkan dapat mempelajari hal positif yang lebih bermanfaat dan berguna.

   Salah satu cara untuk meminimalisir Faham radikalisme dan ekstrimisme di kalangan anak-anak adalah dengan mengajarkan sikap washathiyah atau moderat. Menurut kbbi bahwa moderat adalah selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan ekstrem, berkecerendungan ke arah dimensi atau jalan tengah. Grand Syeikh Al-Azhar Mesir Syeikh Ahmad Thayyib mengatakan bahwa sikap washatiah atau moderat ini sangat sesuai dengan ajaran Islam dimana islam merupakan agama moderat. maka tidak mengherankan jika Allah menyebut umat muslim sebagai “ umat moderat” hal ini sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 143 : “ dan demikian pula kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘ umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”.

   Sikap washatiah atau moderat merupakan gambaran dari rahmat allah dan memiliki banyak keutamaan. Lihatlah bagaimana Rasulullah mengajarkan sikap washatiah kepada para sahabat sehingga umat islam menjadi besar dan terbukti dapat mence tak generasi yang unggul disetiap masa bahkan dengan adanya peran pengajaran sikap moderat ini ajaran islam dapat berinteraksi dengan berbagai bangsa dan kebudayaan.

Wocoen   Bahasa: jembatan intelektualitas dan sosial masyarakat

   Mengajarkan washatiah kepada anak dapat menumbuhkan sikap adil, jujur, percaya diri, menerima perbedaan dan menghargai pendapat orang lain. Keuatamaan lain dari mengajarkan sikap washatiah ini adalah untuk menghindari faham radikalime agama, terorisme, sikap egois dan acuh tak acuh dimana faham ini telah menjangkiti pada sebagian diri anak diberbagai belahan dunia dan mengancam keharmonisan kehidupan. Oleh karenanya sikap washatiah ini menjadi poin utama dan dibutuhkan dalam dunia dunia pendidikan untuk membentuk umat yang beragama dan berperadaban.

   Menurut As’ad Said Ali bahwa sikap washatiah adalah prinsip tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang), tawassuth (tengah-tengah), taawun (saling tolong menolong) dan al-adalah (keadilan). Sikap washatiyah menjadi sempurna jika dibarengi tiga prinsip persaudaraan yaitu al-ukhuwah al-islamiyah (persaudaraan seagama islam), al-ukhuwah al-wathaniyah (persaudaraan sebangsan tanah air) dan al-ukhuwah al-basyariyah (persaudaraan sesame manusia). Ketiga prinsip ini menjadi pedoman bagi anak-anak untuk dipelajari yang diharapkan dapat tercipta lingkungan yang ramah bagi mereka, lalu bagaimana cara mengajarkannya kepada anak anak ?

   Pertama kita memulai di lingkungan keluarga dengan mengenalkan sikap washatiah kepada anak, orang tua juga turut berberan aktif menerapkan sikap moderat ini dalam kehidupan sehari-hari sehingga anak anak dapat menirukan di setiap aktifitasnya, hal ini lantaran keluarga adalah salah satu sumber utama media pembelajaran bagi anak. Kedua adalah dengan mengenalkan sikap washatiah dalam pembelajaran di sekolah sehingga anak-anak dapat bersosialisasi dengan baik dan menerapkannya bersama teman-temann. Yang ketiga adalah menciptakan lingkungan tempat tinggal yang moderat sehingga akan tercipta kehidupan yang haromonis diantara warga.

   Mengajarkan sikap washatiah ini merupakan salah satu upaya deradikalisasi untuk menghindari faham radikalisme dan ekstrimisme yang sekarang sedang marak berkembang. Para orang tua, guru dan warga diharapkan dapat bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi anak-anak sehingga kelak mereka dapat menjadi garda terdepan untuk menjaga bangsa negaranya agar tetap aman dan sejahtera.

Wocoen   Menapaki Jejak Rihlah Tarbawi Ala Imam Syafi’i

Malang, 8 -08 -2018

Sumber :

Teks ceramah As’ad Said Ali dalam forum pertemuan ulama Afghanistan yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama Afghanistan pada 2 desember 2015.

Teks ceramah grand syeikh Al-Azhar dalam konfrensi ulama di Indonesia bersama presiden RI dengan tema “ Moderatisme” pada bulan mei 2018.

Muhammad Bagus Ainun Najib
Muhammad Bagus Ainun Najib Putra seorang petani bawang merah asal Brebes, suka nglayab dan sekarang sedang menempuh magister Pendidikan Bahasa Arab di UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.