Mengantisipasi Beban Ganda pada Perempuan

Dulu sebelum menikah, target usia menikah saya adalah 26 tahun, alasan saya menargetkan usia 26 tahun karena kesiapan dan kematangan diri lebih mampu untuk masuk dalam dinamika rumah tangga yang begitu kompleks serta masih ingin menghirup angin segar dalam diri yang bebas. Namun kenyataannya saya menikah di usia 23 tahun.

Hal pertama sebelum menikah yang saya tekankan pada calon suami saya pada saat itu adalah kesepakatan bersama, salah satu poin pentingnya tidak ingin pekerjaan-pekerjaan domestik hanya dibebankan pada perempuan. Ini efek karena terlalu lama menyelam dan meminum teori-teori yang anti kerja domestik hanya pada perempuan, menurut saya hal tersebut memang objektif dan penting disuarakan karena tidak sedikit perempuan distreotipekan (dilabelkan) pada pekerjaan domestik sehingga mengalami beban kerja berlipat dalam rumah tangga.

Jikapun tidak ada maksud menstreotipekan, namun kelumrahan-kelumrahan yang menjadi kebiasaan bisa membentuk anggapan wajar dan biasa jika pekerjaan domestik hanya diselesaikan oleh seorang perempuan. Padahal laki-laki juga boleh dan wajar melakukan hal-hal domestik.

Saya berfikir, dimana kita menyuarakan dan merealisasikannya jika tidak yg paling dekat dalam diri kita sendiri yakni keluarga. Jika orang yang menikahi kita adalah orang yang mencintai kita, tentu pekerjaan tersebut akan dibantu dan mereka akan menyadari itu. Seberapapun berat beban kita jika dijalani bersama akan terasa ringan dan penuh khidmat terlebih dalam rumah tangga.

Namun dalam prosesnya saya beririsan pada kecenderungan budaya yang patriarki, saya memahami jika hal tersebut tidak mudah untuk pembiasaan pada pekerjaan-pekerjaan domestik. Tentu saja kami berdinamika dalam membangun system rumah tangga serta komunikasi yg stabil.

System kerja bersama terus dievaluasi, komunikasi juga terus dibangun dalam kondisi jatuh bangun menyikapi hal-hal praktis. Namun ada hal yang penting, meskipun jatuh yang paling penting adalah suami kita mau mendengar dan memahami keluh kesah kita untuk selalu menjadi bahan evaluasi.

Diri kita juga harus senantiasa terbuka menyampaikan hambatan-hambatan yang kita alami supaya mendapatkan penyelesaian bersama. karena tidak sedikit perempuan memiliki kecenderungan menyimpan permasalahan, tidak dikomunikasikan dengan baik hingga bertumpuk dan bisa meledak pada satu waktu tertentu.

Menurut saya hal ini kurang baik, karna penyelesaian masalah yang kompleks perlu waktu lama, menjadikan jiwa tidak sehat dengan beban hati. Waktu untuk kami memahami dan membangun system rumah tangga mulai stabil, komunikasi juga terus berjalan sehingga hambatan-hambatan kerja terselesaikan dengan lebih baik.

Ada hal penting lain lagi yakni system kerja bersama, teknisnya adalah membuat system kesepakatan berdasarkan kondisi masing-masing, misalnya mencuci piring bagiannya siapa dan mencuci baju bagiannya siapa, sehingga pekerjaan tersebut tersystem dengan rapi tidak mengalir begitu saja. Mungkin yang ingin menikah atau yang sudah menikah tapi masih berdinamika dalam rumah tangga pada pekerjaan domestik bisa menjadi bahan pertimbangan.

Sebaiknya, sebelum menikah membuat kesepakatan bersama agar ketika menikah jika terjadi beban ganda bisa kita kembalikan pada poin-poin kesepakatan bersama sebelum menikah, apalagi kita hidup dalam budaya yang masih lazim pekerjaan domestik hanya untuk perempuan. Kedua, komunikasi harus senantiaasa terbuka dengan kondisi-kondisi yang ada dan selalu mau memahami dan mendengar keluhan-keluhan bersama. ketiga, membentuk system kerja bersama, siapa bagian kerja ini dan siapa bagian kerja itu.

Kalau komunikasi sudah terjalin dengan baik dan saling memahami, system bisa berjalan dengan fleksibel tidak sekaku ketika masih dalam fase membangun awal. Maka akan tercipta nuansa yang tidak membebani istri.

Dari sekian usaha ini ada hal yg penting yg diusahakan oleh suami saya yakni tazkiyatun nafs (membangun amalan-amalan untuk menundukkan ego). Namun saya tidak bisa membahasnya karena yang berkaitan dengan hal ini adalah suami saya. Meskipun seorang laki-laki tau hal tersebut tidak benar, ada kecenderungan ego untuk Mager. Hehe

Makanya dari sekian hal tersebut titiknya tazykiyatun nafs, menarik pemahaman pada hal-hal praktis. Tidak sedikit orang yang tahu teori namun praktisnya tidak menjalankan, menjalankan saja tidak apalagi peka. Lalu kira-kira apa yang menjadi masalah?

 

Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Ulin Nuha Sakina 1 Article
Seorang alumni sosiologi agama UIN sunan Kalijaga Yogyakarta.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.