Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Mengapa Kita Lebih Memilih Marah?

Neyla Hamadah 2 min read 204 views

Ada video di media sosial menggambarkan tertembaknya seorang pemuda. Konon pemuda itu, salah satu pelaku pemenggal kepala seorang guru yang menunjukkan karikatur nabi kepada murid-muridnya. Banyak netizen yang pro pemuda tersebut menganggapnya mati syahid. Mereka berpendapat pemuda tersebut sudah membela nabi dari penghinaan, dengan berhasil memenggal kepala guru tersebut. Mereka berpikir itu perbuatan impas: antara rasa terhina dengan mengalirnya darah pelaku yang menghina.

Saya tertegun dibuatnya, bagaimana bisa seorang pembunuh dianggap syahid? Saya sungguh tidak habis pikir. Mungkin saya salah, barangkali saya keliru, jika saya tidak setuju pembunuh guru itu disebut syahid. Lebih jauh lagi tentu saya menolak kekerasan atas nama apa pun, di pihak mana pun. Saya lebih sedih lagi ketika tindakan kekerasan main hakim sendiri, didukung demikian rupa atas nama membela agama. Sebab, menurut yang saya ketahui membunuh sesama manusia itu tidak diperbolehkan oleh agama. Kita tidak berhak menghukum dan menghakimi, apalagi membunuh manusia secara zalim.

Saya semakin melenggong, ketika membaca komentar netizen yang pro, berusaha melawan komentar netizen yang kontra. Bahwa perbuatan itu (memenggal kepala), memang sudah semestinya dilakukan demi membela agama, membela nabi yang dihina dan menganggap hal tersebut ada perintahnya. Kemudian netizen yang lain berkomentar “Anda tidak marah nabi dihina??? (dengan karikatur itu)” Banyak komentar yang penuh kemarahan mencaci maki dengan mengatakan netizen yang kontra adalah kafir, liberal dan sebagainya.

Di sisi yang sama, seorang tokoh agama muncul bukan sebagai air yang memadamkan kemarahan, ia memilih menjadi api. Komentarnya provokatif: memancing orang lain untuk marah, sama seperti dirinya. Mengajak orang banyak (sebagai orang yang memiliki jamaah) untuk riuh emosinya supaya suasana bertambah membara. Memburamkan permasalahan, sehingga logika mandek. Untuk diingat bahwa karikatur nabi yang digambar tentulah bukan nabi. Karena, tiada satupun dari kita yang pernah melihat wajah beliau. Mengapa memilih marah menanggapi hal itu?

Seorang ahli hikmah ditanya tentang marah, “Apakah marah itu?” dia menjawab: “Marah adalah hukuman yang kau berikan kepada dirimu sendiri dengan menyalahkan orang lain”
Jika memang ingin membela nabi, hendaknya bukan dengan kemarahan. Tetapi, berselawatlah kepadanya dengan lisan dan perbuatan. Berselawatlah dengan merahmati kehidupan sekitar. Seperti apa yang telah diteladankan beliau. Bagaimana akhlak beliau ketika menyuapi pengemis yahudi yang menghinanya, ketika beliau menjenguk musuhnya, tetap mendoakan dan menghormati kematian orang Quraisy dan tak terhitung lainnya.

Mungkin kita perlu mengingat kembali wasiat Nabi saw. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah r.a., seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw. : “Berilah aku wasiat!” Beliau bersabda: “Janganlah engkau marah!” Laki-laki itu mengulangi kata-katanya, beliau tetap bersabda: “Janganlah engkau marah!”. Apa hikmah Nabi saw., mewasiatkan sesuatu hal yang singkat nan tegas penuh arti?

Nabi saw. adalah manusia yang akhlaknya paling sempurna. Wasiat beliau tentang akhlak: “jangan marah”, tentulah mengandung hikmah yang besar. Menurut pandangan para ulama, hikmah menghindari marah adalah: karena dalam kemarahan terkumpul segala kejelekan. Marah bisa menjadi awal terputusnya silaturahmi, tiadanya manfaat dan menjadikan berkurangnya agama.

Sementara netizen yang marah-marah sambil melaknat orang lain itu merasa sedang membela agama, padahal bobot agama dalam dirinya sendiri berkurang karena kemarahannya. Dan yang jelas nampak terlihat dari reaksi ataupun komentar orang-orang yang marah, kemarahan bisa menghilangkan rasa kemanusiaan. Ke mana rasa kemanusiaannya lenyap? Hingga kezaliman yang terjadi justru membuatnya fakir empati dan merasa puas seolah kemarahannya terwakilkan dan terbalaskan.

Hal ini sering sekali terjadi manakala agama disinggung kemudian orang beragama tersinggung. Keyakinan menjadi berbahaya jika tidak diimbangi dengan rasionalitas dan kemarahan bagaikan sumbu yang menghancurkan rasionalitas. Pampatnya rasionalitas melenyapkan rasa kemanusiaan. Hilangnya rasa kemanusiaan sanggup membuat manusia menjadi zalim. Dan pintu dari semua kerusakan itu adalah rasa marah.

“Walyatalaththaf: berlemah lembut. Sepertinya itu sebuah rumus dari ribuan teka-teki yang menjadi jalan tengah untuk memecahkan problematika kehidupan” (senimannu)

Neyla Hamadah
Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.