Bayu Imantoro Mahasiswa Doktoral Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Dewan Pengawas Syariah Lembaga Keuangan Koperasi tersertifikasi DSN-MUI.

Mengelola Perguruan Tinggi Kini dan Masa Depan Berbasis Hati Nurani

Bayu Imantoro 2 min read 0 views

Kampus_UJ_IGiGP

[dropcap]S[/dropcap]ebagai manusia yang Pancasilais, tidak bisa kita melepaskan diri dari pandangan dan prinsip keTuhanan atau keagamaan dalam penggunaan hati nurani. Tidak terbatas juga pada kehadiran setiap kita yang turut dalam pengelolaan perguruan tinggi, tempat di mana cendekiawan berlomba lomba menebarkan ilmunya.

Dalam pandangan Islam, hati nurani identik dengan konsep takwa yang merujuk pada perbuatan benar, iman, menjaga diri, atau menjaga dari kejahatan (Sachiko Murata & William C. Chittick. The Vision of Islam. Paragon House. New York. 1994).

Allah SWT adalah sumber utama ketakwaan seseorang, yang bukan merupakan hasil sederhana keinginan seorang individu, tetapi harus dimunculkan dengan hidayah dari-Nya (Ames Ambros & Stephan Procházka. A Concise Dictionary of Koranic Arabic. Reichert Verlag 2004).

Allah SWT menyempurnakan ruh dan hati nurani, serta mengajarkan apa-apa yang buruk (fujur) dan yang benar (takwa). Kesadaran akan baik dan buruk sudah inheren di dalam ruh, dan dengan demikian ruh berada di dunia ini untuk diuji secara adil, dan kemudian diadili pada hari kiamat untuk bertanggung jawab terhadap Allah dan seluruh manusia (Azim Nanji. ‘Islamic Ethics’ in Singer P (ed). A Companion to Ethics. Blackwell, Oxford 1995).

Hati nurani adalah koneksi pribadi seseorang dengan Allah SWT yang bersifat dinamis dan ditingkatkan dengan pengetahuan (ilmu), praktik rukun Islam, tindakan iman, pertobatan, disiplin diri, dan ibadah; sebaliknya, hati nurani akan rontok, dan secara metaforis tertutup di bawah kegelapan, dengan tindakan dosa dan kejahatan (John B Noss. Man’s Religions. The Macmillan Company, New York. 1968).

Dalam pandangan Protestan, Yohanes Calvin mengibaratkan hati nurani sebagai sebuah zona perang: “[…] musuh yang bangkit di dalam hati nurani kita, melawan Kerajaan-Nya dan hukum-hukum-Nya, membuktikan bahwa Takhta Tuhan belum benar-benar ajeg di dalamnya.” Banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa menuruti hati nurani sepenting, atau bahkan lebih penting, daripada menuruti otoritas manusia (Calvin. Institutes of the Christian religion. Book 2, chapter 8. Quoted in: Wogaman, J. Pilip (1993) dan Ninian Smart. The World’s Religions: Old Traditions and Modern Transformations. Cambridge University Press. 1989).

Wocoen   Belajar dari Gagasan Pembaruan Pendidikan Islam Perspektif Nurcholish Madjid

Katolik memandang hati nurani sebagai “penilaian praktis terakhir, yang pada saat yang tepat, menarik [seseorang] untuk melakukan hal yang baik dan menolak hal yang buruk” (Catechism of the Catholic Church – English translation (U.S., 2nd edition) (English translation of the Catechism of the Catholic Church: Modifications from the Editio Typica, copyright 1997, United States Catholic Conference, Inc. – Libreria Editrice Vaticana) (Glossary and Index Analyticus, copyright 2000, U.S. Catholic Conference, Inc.).

Pandangan keagamaan tersebut seharusnya menjadi legitimasi yang cukup bagi siapapun pengelola perguruan tinggi untuk mengedepankan hati nurani dalam pembangunan dan pencetakan bibit unggul manusia Indonesia masa depan.

Jika kita sebagai manusia terluput dari hati nurani, maka pengelolaan perguruan tinggi akan kehilangan ruh dan jiwa idealisme nya. Ia semata akan menjadi penyemaian ilmu yang kering bahkan mungkin jauh menyimpang dari kebenaran. Inilah yang pada akhirnya ditemukan banyak fakta di sekitar kita, pendidik yang menggadaikan integritasnya demi kepentingan sesaat yang nisbi. Ijazahnya didapat dengan cara yang tidak dibenarkan hukum. Perguruan tinggi yang kedapatan melakukan praktik jual beli ijazah. Plagiarisme yang menimpa dosen bahkan pimpinan universitas dan yayasan pendidikan hingga permasalahan pelecehan seksual atau perbuatan cabul di perguruan tinggi. Miris dan sedih jika ini terus terjadi di negara Pancasila ini. Seakan hati nurani hanya menjadi bacaan text book di mata kuliah umum seperti Agama dan Pancasila tapi jauh panggang dari implementasi. Seharusnya hati nurani menjadi motor penggerak pengelolaan perguruan tinggi. Karena ia menjadi kawah candradimuka pembentukan karakter Sumber Daya Manusia Indonesia masa yang akan datang.

Jika kita sebagai cendekiawan dan sivitas akademika terus tak peduli dan tenggelam dalam praktik pragmatis pengelolaan perguruan tinggi yang menyingkirkan hati nurani, maka bersiaplah kita akan hancur dilindas zaman.

Wocoen   Menapaki Jalan Baru Pengajian Kitab Kuning Online

Dalam konsep pengelolaan perguruan tinggi yang masih konvensional saja kita terus berkutat dengan kepentingan sesaat jangka pendek tanpa hati nurani, maka bagaimana lagi kita menghadapi era Massive Open Online Courses (MOOC) yang sekarang sudah dikerjakan MIT, Stanford, dan Harvard University (Luthfie Assyaukanie. Runtuhnya Tembok Kampus Kita. 2017).

Mahasiswa tak dibatasi lagi dengan ruang ruang kelas. Tidak lagi kita bicara 10, 30, 50, atau 100 mahasiswa. Namun tak terbatas. Melintasi batas dan sekat yang selama ini kita bangun sendiri.

Pengelolaan perguruan tinggi berbasis hati nurani menemukan relevansinya dalam perkuliahan yang konvensional maupun revolusi pendidikan tinggi MOOC yang sudah di depan mata. Mencetak pendidik dan lulusan (mahasiswa) yang berhati nurani harus dimulai segera, menjadi garda terdepan. Sebelum semuanya terlambat.

Bayu Imantoro
Bayu Imantoro Mahasiswa Doktoral Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Dewan Pengawas Syariah Lembaga Keuangan Koperasi tersertifikasi DSN-MUI.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.