Anwar Ibrahim seorang santri yang dikeluarkan 2 kali dari 1 pondok pesantren yang sama. Berdomisili dan sedang melakukan study abal-abal di kota malang. S1 Hukum tata negara UIN MALIKI Malang.

Mengembalikan Marwah Warung Kopi

Anwar Ibrahim 1 min read 0 views

Jagongan di Warung Kopi

Salah satu anugrah ‘perasaan’ yang diberikan oleh tuhan untuk bangsa Indonesia yang masih ‘ori’ yaitu perasaan ‘nyantai’ atau anak-anak alay biasa menyebutnya: woles. Hal ini ditengarahi karena bangsa Indonesia termasuk dalam daftar negri yang;tuhan memang sengaja memberikan segala kelimpahan alam,kemudahan dalam memetik hasil alam sehingga lahirlah istilah ‘Bangsa yang ternina bobokkan’. Segala kemudahan mungkin sudah menjadi sejarah masa lalu, akan tetapi peninggalan sejarah berupa perasaan ‘nyantai’ tetaplah melekat. Hal ini mungkin menjadi salah satu sebab banyaknya warungkopi-warungkopi sebagai sarana untuk bersantai ria. Tidak dapat dipungkiri hal ini. Para petani didesa bisa menikmati hidup dalam keterbatasan dengan sikap ‘nyantai’ yang diwarisi sejarah. Begitu pula nelayan, dan semua masyarakat yang belum terkontaminasi gaya hidup ‘sepaneng’ ala barat.

Kehadiran dan juga membludaknya warung kopi dewasa ini tentunya tidak bisa dipandang remeh. Terlebih Habernas juga pernah menyinggung sedikit menganai kedai-kedai kopi atau warung kopi untuk mendukung teori ruang publik miliknya. Beliau melacak jauh hingga masa revolusi prancis pada tahun 1789. Dan hasilnya beliau menemukan ada suatu ruang-ruang diskusi didalam kedai-kedai kopi pada masa itu. Kedai kopi dalam masa revolusi prancis ucap Habernas tidak hanya menjadi ruang kongkow-kongkow akan tetapi juga sebagai sarana diskusi  intelektual dan jugasebagai  sarana diskusi mengani perkembangan mengenai revolusi yang terjadi.

Di Indonesia pun juga demikian, banyaknya warung-warung kopi yang tersebar luas. Seharusnya bisa dimaksimalkan dengan baik. Artinya, warung kopi tidak hanya dijadikan sarana ‘jagongan’ semata. Terlebih warung kopi yang terdapat didalam kota yang menjadi basis besar dalam pendidikan. Misalkan: Malang, Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Surabaya yang notabennya dihuni oleh banyak manusia-manusia terpelajar. Hal ini idealnya bisa dijadikan sebagai sarana intelektual,maupun lebih jauh lagi sebagai sarana cheks  and balance. Meskipun kalimat tersebut tidak serta merta bisa terikat langsung dengan masyarakat biasa. Namun yang ditekankan disini, didalam majelis kopi tersebut bisa menjadi wadah dan sarana membahas perkembangan dan situasil sosial-politik teraktual.

Wocoen   Memurnikan Kembali Tujuan Reformasi

Mula-mula masyarakat bisa membahas dengan seksama mengenai situasi yang ada. Lantas membicarakannya dalam ruang-ruang diskusi yang ‘hangat’ dan ‘nyantai’, dari pola kebiasaan seperti ini, tentunya bisa memberikan dampak yang besar jika nantinya masyarakat luas sudah ‘matang’ dan siap mengawal jalannya roda pemerintahan dengan baik. Terlebih, untuk menyuarakan aspirasi yang matang dibutuhkan pembacaan yang matang sehingga keluarlah ‘kemurnian’ dalam bersuara.

Konsep ini mungkin terlalu jauh dan terkesan utopian jika semua warga diharuskan memiliki ‘pola ngopi’ yang seperti ini. Akan tetapi, tidak ada salahnya jika diskusi-diskusi kecil itu dipelopori oleh kaum-kaum mahasiswa yang idealnya ‘terpelajar sejak dalam pikiran’ kata Pramoedya. Kenyataannya tidak demikian, warung kopi banyak dijadikan wadah para gamers yang banyak juga berasal dari golongan siswa,hingga mahasiswa. Marwah warung kopi hilang ditelan kemodernan. Potensi warung kopi sebagai wadah ‘cheks and balance’ dalam tataran masyarakat terabaikan.

Memang men-generalisir bahwa semua warung kopi itu penuh kegiatan yang ‘mubadzir’ itu juga salah. Tapi kenyataan maupun presentase orang yang ngopi ‘berkualitas’ dengan yang tidak itu jauh. Meskipun tidak ada yang pasti mengenai ukuran akan hal tersebut, namun melalui pengamat penulis (dan mungkin juga pengamat pembaca) memang demikian. sudah saatnya para kaum terpelajar dari kalangan manapun  menjadikan warung kopi sebagai ‘kawah condrodimuko’ dan juga sarana ‘ngrasani’ kinerja pemerintah secara masif.  Tidak usah terlalu formal, cukup mengalir saja seperti halnya air dari panci yang dituangkan dalam cangkir sebagai teman nge-game dan kongkow-kongkow  kalian selama ini.

Anwar Ibrahim
Anwar Ibrahim seorang santri yang dikeluarkan 2 kali dari 1 pondok pesantren yang sama. Berdomisili dan sedang melakukan study abal-abal di kota malang. S1 Hukum tata negara UIN MALIKI Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.