Mengenal Budaya Masyarakat Jawa Timur Lewat Warung Kopi

Tahun pertama kuliah di kota malang, saya sering diajak teman untuk nongkrong di warung kopi. Namun ajakan tersebut sering saya tolak. Saya sempat menganggap bahwa berkumpul bersama teman di warkop (singkatan dari warung kopi) hanya membuang waktu saja. Bagi saya orang-orang yang nonkrong di warkop adalah mereka yang kurang kerjaan, nakal, pemalas, dan hanya untuk berfoya-foya. Namun semua anggapan itu luntur Ketika saya menuruti ajakan teman-teman serta menikmati secangkir kopi. Suasana keakraban mulai terasa dan dari warkoplah saya belajar banyak hal, terutama tentang kehidupan dan cerita didalamnya !

(Mengenal warung kopi ala jawa timur )

Dahulu warkop identik dengan tempat berkumpulnya para pekerja kerah biru. Mereka mengunjungi warkop seusai menunaikan pekerjaannya. Ada juga hanya mampir sebelum berangkat ke tempat kerjanya. Baginya nongkrong di warkop adalah solusi untuk melepas penat setelah seharian bekerja.

Semenjak kuliah di kota Malang, Saya sering diajak teman ke warkop dan pada akhirnya saya memiliki hobi baru yaitu “nongkrong di warkop !”. dari sinilah saya mulai menjajaki beberapa macam warkop di kota Malang bersama teman-teman. Dahulu warkop disana hanya ada hitungan jari, dan hanya menjual beberapa jenis kopi saja. Kini sudah menjamur ada dimana mana bagai ruko-ruko yang menjejali jalanan kota Malang yang padat.

Warung kopi di Jawa Timur khususnya memiliki ciri khas tersendiri. Biasanya menyediakan berbagai macam jenis kopi, minuman dingin atau hangat, tak ketinggalan aneka makanan ringanpun memenuhi lapak warkop mulai dari gorengan, snack, roti, dan lain sebagainya. Bahkan kini pelanggan dimanjakan dengan wifi, parkiran, kamar mandi, dan musholla. Siapa yang tak betah berlama lama di warung kopi coba ? sayapun ketagihan duduk berjam jam disana hehehe. di Lamongan dengan hanya harga 7000 saya sudah bisa menikmati secangkir kopi susu, gorengan dua, dan cemilan. Murah banget kan ? . Dari hobi baru itulah saya mengenal jenis jenis kopi khas Jawa Timur, mulai dari kopi dampit, kopi giras, kopi gresikan, kopi tulup, kopi ijo (baca; hijau), kopi ijo susu, dan lain lain.

Saya sempat berfikir kenapa kebanyakan warung kopi di Jawa Timur itu selalu ramai ? Apa yang membuat warkop disana digemari banyak orang ? Sayapun Jarang sekali menemukan warkop di daerah asal saya yaitu Brebes yang seramai pengunjung setiap harinya sebagaimana warkop di Jawa Timur pada umumnya.

Warkop menjadi tempat favorit untuk berkumpul

Warkop menjadi tempat favorit bagi masyarakat untuk berkumpul, bertemu, serta berbagi cerita. Warkop juga menjadi tempat berkumpul yang merakyat lantaran harga makanannya bisa dijangkau dan digemari oleh berbagai kalangan.

Di beberapa daerah di Lamongan, warkop menjadi semacam basecamp bagi para bapak yang bekerja sebagai petani, pedagang, buruh, dan berbagai profesi lainnya. Biasanya mereka berkumpul menikmati kopi pagi membicarakan masalah pekerjaan dan bisnisnya diantara jam jam pagi hingga setelah dhuhur. Tak jarang saya melihat bapak bapak yang membaca koran dan menikmati secangkir kopi di pagi hari. Ini menunjukan bahwa masyarakat disana melek akan informasi. Di daerah Surabaya dan sekitarnya saya sering menyaksikan bahwa sebagian para pekerja mampir ke warung kopi sebelum atau setelah pergi ke tempat kerjanya masing masing. Hal ini semacam menjadi budaya masyarakat Jawa Timur bahwa kopi adalah menu wajib setiap hari. Berbeda dengan di jawa tengah khususnya dikawasan pantura Brebes dan sekitarnya, jika kopi menjadi menu wajib tiap hari bagi masyarakat Jawa Timur, maka menu wajib orang Brebes dan sekitarnya adalah teh hangat.

Menjamurnya warung kopi dibeberapa daerah di Jawa Timur menjadikannya sebagai surga bagi penggemar kopi. Apalagi kalau kita mengunjungi Tulungagung maka kita akan menemukan banyaknya warung kopi yang berdiri disudut sudut kota sehingga kota ini dijuluki sebagai kota 1001 warung kopi.

Kemodernan zaman juga tak membuat warkop menjadi tempat berkumpul yang terpinggirkan dan diabaikan. Justru wakrop kini semakin digandrungi para kawula muda sebagai wadah untuk berkumpul, dan berbagi cerita. Berbagai aktivitaspun mereka lakukan di warkop mulai dari bernyanyi, mengerjakan tugas sekolah / perkuliahan, main game online bareng (atau yang lebih kita kenal dengan singkatan MABAR), bahkan rapat bagi para aktivis mahasiswa. Di kota malang beberapa warung kopi tak hanya sebatas tempat untuk ngopi saja, lebih dari itu warkop menjadi rumah kedua bagi para aktivis, musisi dan pegiat literasi. Hal inilah yang menurut saya bahwa warkop adalah salah satu tempat yang menjadikan kita lebih produktif untuk berkarya dan mengaktualisasikan diri. Masyarakat sana menganggap bahwa warkop menjadi tempat berkumpul yang strategis dan nyaman. anak anak kecilpun tidak kalah ketinggalan nongkrong di warkop walau hanya sebatas menikmati layanan wifi gratis dan bermain game online, sehingga hal inilah yang menjadikan warkop selalu disana ramai setiap harinya.

(warung kopi dan cerita didalamnya)

Semenjak saya hobi nongkrong di warkop, saya sering menyimak berbagai macam kisah kehidupan teman-teman, mulai dari masalah perkuliahan, finansial, hingga asrama. Bagi saya warkop adalah tempat berbagi cerita yang tiada duanya. Disana kita bisa duduk berlama-lama hingga larut malam, bahkan tak jarang mereka yang pulang ke kos atau kontrakan masing masing sebelum subuh.

Ajakan masyarakat Jawa Timur ketika mengajak temannya “ ayok ngopi” maka maknanya bukan hanya sekedar meminum kopi. Kata ini memiliki sangat multitasfir terngantung kondisinya yaitu” ayoo kumpul, ayoo kita ngrumpi ngrumpi, ayoo kita rapat, ayoo kita nugas, dan lain sebagainya”. Tak jarang ketika saya diajak ngopi malah pesan es teh atau atau es lainnya. Hehhehe

Keakraban di warung kopi kian terasa tatkala ditengah obrolan ada celetukan khas Jawa Timuran “cuk… cuk.. awakmu iki piyee (cuk..kamu itu bagaimana) ” atau “ cuk … kok iso ilo ? (cuk.. kok bisa seperti itu)“ dan lain sebagainya. Kata cuk sendiri adalah singkatan dari JANCUK. Kata ini khas masyarakat sana yang memiliki berbagai tafsir sesuai dengan konteks penggunaannya masing-masing. Bisa ditafsiri sebagai sikap kemarahan, saat tertimpa sesuatu, atau panggilan keakraban. Oke dari situlah berbagai macam cerita saya dengar, bahkan terkadang juga saya bercerita tentang keluh kesah masalah kehidupan. hehehe

Dari obrolan di warkop itulah saya beramsumsi bahwa moto hidup kebanyakan masyarakat sana adalah wani dan piker keri. Pertama adalah “Wani” yang berarti berani, yang diambil dari jargon arek suroboyo sebagai sikap untuk berani untuk berbuat, berani mengambil resiko, dan berani untuk melangkah kedepan. Adapun yang kedua adalah piker keri yang bermakna pikir aja nanti. Dua kata ini memiliki hubungan erat satu sama lain. Ketika kita berani untuk berbuat maka apapun resikonya kita pikir belakangan saja nanti. Begitulah mungkin maksudnya. Dan jika kita punya suatu masalah maka solusinya adalah mari kita obrolkan di warung kopi. hehehe

Pada akhirnya anggapan bahwa warkop dulu adalah tempat nongkrong bagi kalangan masyarakat bawah dan terpinggirkan kini mulai berubah. Warkop sekarang menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa Timur dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sana. Dari sinilah warkop menjadi tempat nongkrong khas masyarakat Jawa Timur yang tidak akan pudar dan kian digemari. Semoga keberadaanya tetap abadi dan tak lekang oleh zaman.

Lestari selalu petani kopi dan pedagang warung kopi ~

About Muhammad Bagus Ainun Najib 10 Articles
Guru Madrasah dan Alumni UIN Maliki Malang

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.