Mengenal Tradisi Slametan

Apa yang terlintas dibenak pembaca saat mendengar kata Slametan? Slametan banyak dikenal sebagai sebuah tradisi ritual yang dilakukan oleh masyarakat Jawa.

Sedangkan dalam arti yang lebih luas Slametan mempunyai makna rasa syukur seseorang atas diberikannya suatu kebaikan ataupun sebuah bentuk upaya memohon perlindungan dari marabahaya. Makna lain dari Slametan adalah sebuah wadah masyarakat yang mempertemukan berbagai aspek kehidupan sosial serta pengalaman individual, dengan suatu cara yang memperkecil ketidakpastian, ketegangan konflik atau setidaknya dianggap berbuat demikian.

Slametan diadakan dalam berbagai peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Kelahiran, perkawinan, sihir, kematian, pindah rumah, mimpi buruk, panen, ganti nama, membuka sebuah usaha, sakit, khitan dan lain sebagainya.

Dari semua bentuk slametan yang diadakan tentu memiliki penekanan yang berbeda pula akan tetapi struktur upacara yang mendasarinya tetap saja sama. Misalkan slametan untuk menyambut lahirnya jabang bayi akan berbeda dengan upacara memperingati 7 hari orang yang meninggal mengingat keduanya adalah peristiwa yang memiliki latar belakang yang berbeda.

Pola Slametan

Kebanyakan slametan dilaksanakan setelah matahari terbenam dan sembahyang magrib untuk peristiwa semacam khitanan, peringatan 7 hari kematian ataupun pindah rumah. Akan tetapi apabila menyangkut kelahiran atau kematian maka peristiwa itu sendiri yang menentukan waktunya. Alasan mengapa waktu setelah terbenamnya matahari dipilih sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan ritual slametan dikarenakan pada waktu itulah hampir semua orang telah dianggap selesai melakukan segala aktivitasnya.

Setelah tiba waktunya, setiap tamu mengambil tempat duduk di atas tikar yang telah terbentang di lantai, kemudian duduk dalam posisi bersila. Sedikit demi sedikit ruangan itu dipenuhi semerbak aroma kemenyan (di beberapa daerah yang bercorak santri, kemenyan tidak lagi digunakan), setelah semua undangan datang ritual slametan pun dapat segera dimulai.

Pertama, tuan rumah akan membuka ritual dengan mengucapkan terima kasih atas kehadiran para undangan serta ia pun menganggap mereka sebagai saksi dari keikhlasan serta kesungguhan niatnya melakukan slametan. Kedua, Tuan rumah mengutarakan niatnya (dalam hal ini dapat berbeda sesuai dengan maksud slametan yang diadakan). Kemudian ia menyebut maksud umum acara itu yang dalam hal ini pasti dilakukan dalam setiap upacara yakni agar dirinya, keluarga dan tamu-tamunya memperoleh ketenangan jiwa raga. Dan yang Terakhir adalah permintaan maaf apabila ada tutur kata yang tidak pantas dalam menyampaikan sambutan serta apabila ada kekurangan dalam hidangan yang disuguhkan.
Dari semua rangkaian di atas biasa disebut ujub.

Setelah itu tuan rumah akan meminta salah satu dari tamu yang hadir untuk membacakan doa dalam bahasa Arab (sebenarnya kebanyakan dari mereka tidak tahu bagaimana cara berdoa, tetapi tuan rumah selalu memastikan bahwa seseorang yang bisa membaca doa hadir di situ biasanya tuan rumah akan mengundang modin. Biasanya yang dibaca adalah tahlil, atau doa-doa lainnya). Setelah doa selesai maka seluruh undangan yang hadir akan menerima secangkir teh dan piring dari daun pisang.

Makanan yang dihidangkan jauh lebih baik dari makanan sehari-hari biasanya terdapat beberapa macam daging, ayam atau ikan basah serta berbagai makanan yang terbuat dari beras (dalam berbagai upacara seringkali tuan rumah menguraikan arti tiap hidangan yang disuguhkan sebagai bagian dari pernyataannya melaksanakan upacara slametan). Hidangan tersebut tidak dihidangkan oleh tuan rumah melainkan oleh satu atau dua undangan yang hadir yang maju ke tengah lingkaran untuk mengisi berbagai piring.

Setelah semua piring terisi, tuan rumah mempersilakan pada undangan untuk menyuap hidangan masing-masing. Ini dilakukan dengan tanpa bersuara karena jika dilakukan dengan berbicara dianggap sial.

Setelah setengah hidangan habis satu persatu orang akan berhenti makan. Setelah semuanya berhenti maka para tamu undangan meminta izin kepada tuan rumah untuk meninggalkan rumah. Kebanyakan makanan tidak habis kemudian dibungkus dengan daun pisang untuk dinikmati dengan anak dan isteri di rumah.

Makna Slametan

Menurut beberapa pendapat orang jawa bahwasanya terdapat 2 alasan yang mendasari seseorang melakukan slametan. Pertama, Bila melakukan slametan, tak seorangpun merasa dirinya berbeda dari orang lain dan dengan demikian mereka menginginkan derajat yang sama antara satu sama lain. Kedua, Slametan dapat menjaga dari makhluk halus sehingga mereka tidak mengganggu.

“Dalam Slametan segala jenis makhluk halus duduk bersama kita dan mereka juga ikut menikmati makanan. Karenanya, makanan itulah yang menjadi inti slametan, bukan doanya. Makhluk-Makhluk halus tersebut menyantap bau makanan. Itu sama seperti pisang ini. Saya mencium baunya, tetapi tidak hilang. Itulah mengapa makanan itu masih tertinggal untuk kita setelah makhluk-makhluk halus tersebut memakannya.”

Penjelasan di atas merupakan rangkaian serta maksud adanya slametan pada zaman dahulu. Di era sekarang, Slametan tetap dilakukan terutama oleh masyarakat pedesaan yang masih sangat memegang erat tradisi nenek moyang dengan pengharapan yang sama pula. Akan tetapi pola yang dilakukan sedikit berbeda dengan dulu.

Hal itu berhubungan dengan budaya praktis dan ekonomis. Selain itu, masyarakat masa kini cenderung kurang mengetahui mengenai makna yang terkandung pada setiap upacara slametan yang dilakukan.

Di situlah penting adanya pengetahuan mengenai substansi dan sebab diadakannya Slametan. Selain itu tidak bisa dipungkiri Slametan juga dapat menjadikan seseorang tidak merasa superior di antara yang lain agar senantiasa menimbulkan rasa hormat sesama manusia.

About Riza Ferdiansyah 1 Article
Seorang buruh harian lepas

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.