Sosial Agama

Mengintip Karya Agung KH Wahab Hasbullah

Syaikh Nawawi banten dikenal luas karena karya tulisnya seperti Tafsir Munir, Uqud al Lujayn, Salalim al Fudlala’ dan lain sebagainya. Sementara KH Hasyim Asy’ari memiliki karya tulis Risalah ahl Sunnah wal jamaah, Qonun Asasi, maupun Adab Alim wa al Muta’allim. Dengan cara melihat karya tulis ulama seperti inilah orang-orang pesantren seringkali mengukur kehebatan seorang kyai. Semakin banyak dan berkualitas kitab yang ia tulis, maka semakin hebat pula kyai tersebut. Hal ini telah menjadi semacam kesepakatan umum di kalangan orang-orang pesantren.

Namun tidak adil rasanya jika kita hanya mengukur pengabdian seorang tokoh pesantren hanya dari karya tulisnya. Karena karya tulis, tanpa bermaksud merendahkan semua karya tulis yang pernah dilahirkan oleh peradaban, hanyalah satu dari ribuan bahkan mungkin jutaan cara mengabdi yang bisa dilakukan. Dalam bahasa Zainuddin al Malibari  setiap orang memiliki “thariqun min Thuruqin” (caranya sendiri-sendiri) untuk mencapai Tuhan. Begitu juga dalam mengabdi pada umat, seseorang pasti memiliki “thariqun” sendiri-sendiri. Dan setiap thariqun memiliki ukuranya masing-masing.

Dalam menilai KH Wahab Hasbullah, mungkin akan ada banyak orang yang memandang remeh kualitas keilmuan serta pengabdianya untuk umat jika yang di jadikan barometer hanyalah karya tulis. Tidak seperti kyai-kyai besar pada umumnya, karena hingga kyai Wahab wafat, ia tidak memiliki sama sekali karya kitab yang bisa diwarisi oleh santri-santrinya.

Sebagai orang pesantren, KH Wahab Hasbullah memiliki cara pandang yang luas dan di luar kebiasaan orang pesantren pada zamanya. Ketika orang-orang pesantren kerapkali mengukur keberhasilan pendidikan pesantrenya dari karya tulis ataupun keberhasilan mendirikan pesantren, KH Wahab justru keluar dari kedua pakem tersebut. Kyai Wahab seperti tidak mau patuh pada hukum adat kaum pesantren dalam hal ukuran prestasi dan pengabdian.

Wocoen   Agama dalam Budaya Pertelevisian Kita

Selain mengasuh pesantren yang telah didirikan oleh kakek buyutnya (KH Abdus Salam), KH Wahab Hasbullah juga memiliki sebuah karya agung yang berpengaruh besar terhadap keberagamaan umat Islam di Indonesia sampai hari ini. Bukan hanya di Indonesia, bahkan mungkin juga di dunia. Nahdlatul Ulama (NU).

Sampai saat ini, tidak ada orang yang bisa menyangkal tentang pengaruh besar NU di tengah praktik keberagamaan di Indonesia. Keberhasilan Indonesia dalam menangkal persebaran paham radikal yang semakin berkembang tentu tidak bisa dilepaskan dari NU yang mengusung konsep tasamuh, tawazun, i’tidal.

Karya agung Kyai Wahab dimulai ketika dia mendirikan Nahdlatul Wathan pada tahun 1916, tashwirul Afkar (1918) dan Nahdlatut Tujjar (1918) di Surabaya. Kyai Wahab paham betul bahwa di tengah umat Islam yang sedang dijajah oleh kolonial, rasa nasionalisme harus ditumbuhkan, karena itulah kemudian ia mendirikan Nahdlatul wathan. Selain mendidik pemuda, Nahdlatul wathan pada zamaan itu juga bertuga suntuk menumbuhkan rasa nasionalisme umat Islam yang saat itu sedang dijajah oleh kolonial. Mars ya lal wathon menjadi lagu wajib siswa-siswa di Nahdlatul Wathan pada masa itu. Mars yang hingga kini masih lantang dinyanyikan oleh orang-orang NU adalah salah satu bentuk pembangunan rasa nasionalisme yang berusaha ia tumbuhkan.

Sementara itu, disaat yang sama ia juga sadar bahwa masalah umat Islam pada zaman itu bukan hanya tentang Nasionalisme, tapi juga masalah ekonomi. Maka dari itu untuk menguatkan perekonomian umat Islam, ia tak ragu untuk mendirikan Nahdlatut Tujjar. Hal ini dia gunakan untuk mengkosolidasikan kekuatan ekonomi umat Islam yang tercecer dan “kelabakan” daalam menghadapi ekspansi VOC masa itu.

Nahlatul Ulama hanyalah puncak dari karya agung kyai wahab. Setelah berkecimpung dengan dunia modernisme, ia kembali ke pesantren, menawarkan wadah besar yang bisa dijadikan alat perjuangan oleh kyai-kyai pesantren. Perlu waktu bertahun-tahun bagi kyai Wahab untuk “merayu” dan meyakinkan kyai-kyai pesantren untuk menerima wadah ini. Bahkan, KH Hasyim Asy’ari, guru yang sangat ia hormati pada awalnya menolak ide anti-mainstream kyai Wahab ini, sebelum akhirnya dengan segala kegigihanya, kyai Wahab berhasil mengumpulkan tokoh-tokoh pesantren untuk mendirikan NU di rumahnya pada tanggaal 31 Januari 1926.

Wocoen   Haji

Sekarang, setelah empat puluh tujuh tahun sejak kewafatanya, masih ada berbagai masalah umat Islam dan bangsa ini yang belum terselesaikan. Masalah radikalisme, polarisasi keagamaan, serta ekonomi umat Islam nampaknya masih menjadi pekerjaan rumah para penerus kyai Wahab untuk memperjuangkanya. Keberanian, inovasi serta cara berfikir yang diluar mainstream ala kyai Wahab nampaknya perlu ditumbuhkan oleh para penerusnya agar cita-cita kyai Wahab tidak berhenti hanya samapai batas usianya. Semoga.

Tags

Hamdani Mubarok

Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close