Menjadikan Kedai Kopi Sebagai Alternatif Basis Intelektual Selain Kampus dan Pesantren

Kita mungkin setuju bahwa keberadaan kedai kopi belakangan semakin fundamental bagi masyarakat urban sebagai ruang publik dalam pelampiasan mereka setelah menjalani kehidupan yang semakin industrialistik. Munculnya kedai-kedai kopi juga merupakan oasis di tengah semakin sedikitnya ruang publik untuk mengekspresikan pendapat dan celoteh masyarakat, maupun meletakkan sejenak beban kehidupan industrial.

Kita boleh menganggap bahwa kampus adalah salah satu ruang publik yang dimiliki oleh pelajar dan masyarakat akademik yang baik bagi kehidupan intelektual. Atau pesantren yang karena sebagai subkultur kemudian para santri dapat mempraktikkan kerja-kerja bermasyarakat, belajar dan berpendapat.

Namun keduanya tidak menawarkan kebebasan dari dominasi struktur kelas. Ekspresi keintelektualan mahasiswa atau pelajar kadang tidak benar-benar independen dari intervensi struktur di kampus. Dan dalam konteks pesantren, bagaimanapun juga kiai adalah kendali bagi roda aktivitas para santri. Sehingga kedai-kedai kopilah yang kemudian menjadi alternatif ruang publik tanpa dominasi kelas yang dimaksud.

Dalam perjalanannya, kedai kopi mengalami perubahan seiring berubahnya zaman. Kedai kopi, terutama yang berada di kampung-kampung, yang dulu dijadikan sebagai tempat nonggo (bertetangga) atau bertemu dengan tetangga sambil ngobrol dan basa-basi barang sejenak, sekarang bergeser fungsi menjadi lebih luas sebagai tempat diskusi dengan teman sesama pelajar, rekan kerja, bermain game online, hingga anyang-anyangan. Ehm.

Memang inilah yang dimaksud ruang publik. Suatu ruang-ruang mikro yang bebas secara administratif dari kepentingan pasar maupun struktur birokratif dan kekuasaan negara.

Perihal ruang publik dan warung kopi dalam perspektif sejarah, Brian Cowan pernah menulis sebuah buku menarik yang berjudul The Social Life of Coffee: The Emergence of British Coffeehouse. Dijelaskan bahwa masuknya kopi dari daerah Timur ke Inggris yang diperkenalkan oleh kekaisaran Ottoman diiringi dengan kemunculan kedai-kedai kopi. Kopi yang sejatinya hanya dikenal oleh para pengelana Inggris kini berubah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat secara global.

Yang dimaksud ruang publik berbeda dengan tempat. Anthony Giddens, membedakan antara tempat (place) dan ruang (space). Tempat merupakan suatu yang nyata dan riil, dapat disebut ruangan atau apa saja yang bisa ditempati. Kampus, pesantren dan kedai kopi adalah tempat. Sedangkan ruang bersifat abstrak. Ruang merupakan suatu wadah berkumpulnya pemikiran dan ideologi.

Kampus mungkin bisa menjadi tempat yang menyediakan kenyamanan untuk diskusi dan bertukar pikiran dengan fasilitas dan infrastruktur lengkap. Akan tetapi kampus belum tentu menyediakan ruang kebebasan berpikir, menuangkan gagasan dan jual beli pendapat. Karena kampus tidak independen, yang secara administratif terikat dengan kekuasaan civitas akademik. Sehingga orang-orang di lingkungan kampus bisa jadi tidak berdaulat atas intelektualnya sendiri.

Selain daripada itu eksistensi kedai kopi sebagai ruang publik dalam arti abstrak akan kurang “kafah” jika hanya diperuntukkan bagi aktivitas gaming dan pelarian dari masalah-masalah sosial. Yang dikehendaki dari keberadaan kedai-kedai kopi adalah juga sebagai basis intelektual dan belajar, serta mengekspresikan ide-ide dan karya.

Kesadaran ini agaknya juga mulai dirasakan para pemilik kedai-kedai kopi. Di beberapa daerah di perkotaan kadang kita temui kedai kopi berbasis literasi dengan menyediakan buku-buku bacaan, mengadakan diskusi-diskusi kecil bersama pelanggan dengan mendatangkan memandu diskusi dari kalangan cendekiawan maupun budayawan, acara bedah buku dan film-film edukasi, bahkan mengadakan pembacaan selawat bersama sebelum masa pandemi. Apalagi di kota-kota dengan basis pelajar seperti Yogyakarta, Malang dan lain sebagainya, tidak akan sulit kita temui kedai kopi dengan nuansa idealisme tersebut.

Apalagi jika menengok kembali pada awal eksistensi kedai-kedai kopi di dunia Barat lebih kepada difungsikan sebagai basis gerakan intelektual, menjadikannya tempat memunculkan solidaritas masyarakat guna melakukan perlawanan terhadap hegemoni kekuasan dan juga kapital di tengah kehidupan masyarakat proletar. Dan tentu saja kedai-kedai kopi tersebut adalah ruang yang independen, tidak terikat dengan kekuasaan negara dan juga pasar.

Idealitas kedai-kedai kopi perlu agak digeser kembali kepada seperti awal kemunculannya di Barat tersebut. Atau paling tidak seperti kedai kopi di pelosok-pelosok kampung, sebagai tempat seseorang bebas bertemu, bersosialisasi dengan tulus tanpa kepentingan praktis, sebagai ruang belajar, berdikusi dan membangun opini perihal masalah kehidupan mereka. Dan yang paling penting ialah bahwa kedai kopi tetap terbebas dari intervensi dan kepentingan kelompok yang tunduk kepada kepentingan kekuatan besar dan oligarkhi.

Selain fokus kepada profit, bila pemilik kedai kopi juga merasa perlu memberikan nuansa edukasi seperti aktivitas-aktivitas idealisme tersebut di atas untuk konsumsi komunitas-komunitasnya sebagai pelanggan, bukan tidak mungkin kedai kopi akan menjadi tempat alternatif yang ideal bagi aktivitas intelektual dan belajar masyarakat selain kampus, pesantren, bahkan masjid sekalipun. Namun di luar idealisme tersebut, melihat dinamika zaman, fungsi kedai kopi yang juga sebagai tempat nge-game atau ayang-ayangan tetaplah tidak dapat digeser. Hehe.

Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Hanif N. Isa 17 Articles
Mas-mas biasa.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.