Menyikapi Sebuah Pertengkaran

Menyikapi Serbuah Pertengkaran
Sumber : orami.co.id

[dropcap]D[/dropcap]alam dunia pertengkaran, ada berjuta alasan kenapa seseorang harus atau terpaksa bertengkar. Tapi alasan-alasan itu tidak lah begitu penting, jika dibandingkan dengan pertanyaan “respon apa yang harus kita berikan ketika melihat ada orang yang bertengkar”. Apakah membela salah satunya? Atau harus memusui keduanya? Atau mungkin kita boleh cuwek saja? Atau tindakan apa?

Setiap masa dan zaman pasti tidak akan terlepas dari apa yang dinamakan pertengkaran, maka tidak asing di telinga kita pertengkaran habil dan qobil, perang anu, atau cekcok antara si A dan si D, dan lain sebagainya. menariknya, dalam setiap pertengkaran (minimal) selalu ada dua kubu. (mungkin, beberapa dari anda ada yang sempat menyaksikan keajaiban alam berupa pertengkaran tunggal, tanpa lawan, jika ada silahkan di share :v). Sedangkan kedua kubu ini pun pasti merasa dirinya benar dan si lawan salah. Tentu orang lain yang mendengarkan penjelasan salah satu dari kubu tersebut tentang benar dan salah akan cenderung untuk memihak salah satu dari kedua kubu. Bisa kita lihat fenomena dewasa ini, ada subuah pertengkaran kecil lalu tiba-tiba jadi pertengkaran sekala nasional, antara kubu ahoker melawan kubu anti ahok.

Miris sekali memang jika melihat respon yang diberikan masyarakat luas terhadap pertengkaran antara kubu cebong dan kampret. Bangsa yang katanya lebih terpelajar dan lebih maju dibandingkan masa lalunya, malah memberikan respon yang mengecewakan. Ada banyak yang malah membela salah satu dari kubu, dan ini lah yang membikin masalah jadi semakin besar. Atau sebagian yang lain malah cuwek melihat pertengkaran yang sudah terlanjur hebat ini. Apa memang seperti itu respon yang harusnya diberikan oleh manusia yang terpelajar terhadap sebuah pertengkaran???

Jika ada seorang ibu melihat kedua anaknya bertengkar, apa harusnya dilakukan ibu itu? apakah membela? atau seperti apa? Saya kira ibu itu tidak akan banyak bicara, yang dia lakukan yang pertama tentu adalah memisah kedua anaknya yang sedang bertengkar. Lalu menanyai keduanya apa sebenarnya yang terjadi, jika kedua sama-sama merasa benar maka ibu itu akan meminta salah satu dari keduanya untuk mengalah, “wes-wes seng gede ngalah” atau “wes-wes seng pinter ngalah” dan lain sebagainya. Dan jika tidak ada yang mau mengalah, tindakan yang diambil selanjutnya adalah memisahkan keduanya, si A akan dikunci di kamar ini, dan si B akan dikunci di kamar itu. Tindakan seperti ibu inilah yang saya kira harusnya dilakukan oleh bangsa ini. Jangan malah membela salah satu atau cuwek.

About Muhamad Isbah Habibii 44 Articles
Seorang petani asal Jombang, alumni Tambakberas, Ponpes Gasek dan Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.