Muhammad Bagus Ainun Najib Guru Madrasah dan Alumni UIN Maliki Malang

Merayakan Kembali Hari Bahasa Arab Sedunia

Muhammad Bagus Ainun Najib 3 min read 73 views

Ditetapkannya Bahasa Arab pada tanggal 18 Desember sebagai bahasa resmi internasional ke-6 oleh UNESCO menjadi suatu kebanggaan bagi umat muslim sedunia. Oleh karenanya setiap tanggal 18 Desember banyak lembaga pendidikan berlomba-lomba merayakannya dengan mengadakan berbagai macam kegiatan mulai dari pawai bahasa, perlombaan, seminar, hingga meramaikannya di media massa. Hal tersebut tentu menjadi sisi positif bagi pengajar dan pembelajar Bahasa Arab yang membuatnya semakin optimis bahwa Bahasa Arab di tanah air tak akan mati. Ia akan tetap hidup selama pegiat Bahasa Arab masih terus aktif dalam menyebarkan Bahasa Al-Quran tersebut.

Namun, penyebaran Bahasa Arab di Indonesia nampaknya belum bisa menarik hati sebagian besar masyarakat lantaran adanya persepsi bahwa Bahasa Arab adalah bahasa yang sulit untuk dipelajari. Masyarakat Indonesia pada umumnya lebih menyukai bahasa asing lain ketimbang Bahasa Arab misalnya Bahasa Inggris, Jepang, Korea dan lain sebagainya. Dr. Halimi Zuhdi (Dosen Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang) dalam kolom facebooknya mengatakan “Bahasa Arab semakin berkembang pesat terutama dari aspek studi keagamaan dan kajian keislaman. Tetapi ia masih tertinggal dari 4 bahasa lainnya, dalam beberapa aspek, terutama dalam penguasaan sains dan teknologi”.

Saya pun mengakui bahwa kemampuan Bahasa Arab saya masih sangat lemah. Bahkan kualitas saya dalam berbicara, dan menulis Bahasa Arab terbilang sangat memalukan. Saya sendiri sebagai guru Bahasa Arab di suatu madrasah merasa tidak mampu berbahasa arab dengan baik dan benar. Dr. Ahmad Sarwat (pendiri Rumah Fiqih Indonesia) mengatakan “Karakteristik orang Arab kalau bicara Bahasa Arab itu cepat dan keras. Tidak seperti kita yang lemot dan lola. Coba saja tonton film-film Mesir yang kalimatnya panjang sekali atau tonton siaran tv Al-Jazeera, Al-Arabiyah dan lainnya, mereka kalau bicara kaya kereta api, tidak pakai mikir”.

Wocoen   Tidak Paham Kok Sok Berkomentar

Beliau menambahkan, “Salah satu kegagalan Bahasa Arab di negeri kita, entah itu pesantren atau madrasah adalah faktor pengajar. Selama pengajarnya bukan orang arab betulan yang sangat menguasai bahasa tersebut, maka belajar Bahasa Arab semacam formalitas belaka. Cuma buat pantes-pantes”.

Dari sinilah saya menyadari bahwa selama ini ada yang salah pada diri saya dalam belajar Bahasa Arab. Saya merasa kemampuaan Bahasa arab yang selama dipelajari dari jenjang madrasah ibtidaiyyah, pondok pesantren, hingga perguruan tinggi belum bisa mencapai titik mahir atau profesional. Tanggal 18 Desember ini bagi saya adalah sebuah refleksi apakah saya sudah benar belajar Bahasa Arab selama ini? Kalau belum nampaknya kita butuh inovasi dalam pembelajaran Bahasa Arab sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Prof. Sumanto Al-Qurtuby (Dosen Universitas King Fahd Arab Saudi) di facebooknya menggambarkan bahwa dewasa ini masyarakat Arab teluk sana lebih gemar mempelajari Bahasa Inggris dan mengkomunikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka banyak yang disekolahkan di negera barat lantaran telah bergesernya nilai budaya masyarakat tersebut. Tak hanya itu, jika kita amati budaya masyarakat Arab Maroko dan Al-jazair maka mereka lebih bangga menggunakan Bahasa Prancis dari pada Bahasa Arab. Hal inilah yang membuat kita sebagai pembelajar Bahasa Arab merasa bingung. Bagaimana bisa kita belajar bahasa mereka (Bahasa Arab) sedangkan mereka malah lebih bangga menggunakan bahasa asing lainnya?

Lalu apa makna perayaan hari Bahasa Arab sedunia ini? Bagi saya makna perayaan ini adalah sebuah refleksi bahwa Bahasa Arab yang kita pelajari tak akan pernah selesai alias khatam. Memang benar bahwa Bahasa Arab sulit. Namun sudah suharusnya kita terus mempelajarinya karena Bahasa Arab sangat luas dan keilmuan di dalamnya tak akan pernah habis untuk digali. Asumsi bahwa Bahasa Arab itu sulit akan luntur jika kita istikamah mempelajarinya. Dalam buku ” سؤال عن اللغة العربيه100 (soal tanya jawab dalam Bahasa Arab) bahwa kunci utama dalam mempelajari Bahasa Arab adalah konsisten melatih kemampuan berbicara maupun tulis-menulis, memiliki tekad yang kuat untuk mempelajarinya, serta rela meluangkan waktu yang relatif lama untuk mendalaminya.

Wocoen   Alam dan Kita

Lalu bagaimana masa depan Bahasa Arab? Saya meyakini bahwa masa depan Bahasa Arab masih memiliki harapan untuk berkembang lebih pesat. Hal ini jika dilihat dari usaha para pegiat Bahasa Arab serta banyaknya lembaga pendidikan yang turut serta berlomba lomba menghidupkan kembali Bahasa Arab. Tak hanya itu, banyaknya peminat masyarakat tanah air terhadap studi di Timur Tengah, traveling bahkan haji dan umrah menjadikan Bahasa Arab semakin banyak dilirik. Semangat masyarakat muslim kota dalam mempraktikkan bahasa campuran antara Arab dan Indonesia dalam komukasi sehari-hari menjadi tanda bahwa Bahasa Arab kian diminati sebagian masyarakat. Prof Ibnu Burdah dalam situs Sastra Arab yang ditayangkan pada 18 Desember 2020 menjelaskan bahwa, “Kemampuan Bahasa Arab masih cukup kuat di Indonesia. Hal ini terutama bertumpu pada alasan keagamaan, yakni kegiatan studi keislaman termasuk haji dan umrah. Tak hanya itu, produksi minyak yang ada di kawasan Timur Tengah menumbuhkan kerjasama dan daya tarik tersendiri bagi dunia manapun. Tentu untuk kepentingan ini diperlukan Bahasa Arab yang komunikatif, serta Bahasa Arab khusus misalnya Bahasa Arab diplomasi, pelayanan kesehatan, perminyakan dan lain sebagainya”.

Dalam buku ” 100 سؤال عن اللغة العربية” (100 soal tanya jawab dalam Bahasa Arab) Bahasa Arab juga menempati posisi ke-4 sebagai bahasa yang paling banyak digunakan di dunia. Hal ini lantaran Bahasa Arab adalah bahasa bagi dua kebudayaan yaitu kebudayaan arab dan umat muslim. Kini banyak berdiri lembaga pendidikan yang mengadakan program pembelajaran Bahasa Arab baik di Indonesia maupun di luar negeri. Maraknya program kursus, seminar, maupun berlombaan Bahasa Arab di tanah air menunjukan bahwa Bahasa Arab kini mulai bangkit. Salah satu stasiun TV di Cina “CCTV Arabic” bahkan menayangkan beritanya dengan Bahasa Arab. Hal ini tidak lepas dari pengaruh ekonomi dan perdagangan yang dilakukan oleh pemerintah Cina dengan negara-negara Timur Tengah sehingga membutuhkan diplomasi budaya agar kerja sama di antara dua negara tersebut berjalan dengan baik.

Wocoen   Menapaki Jalan Baru Pengajian Kitab Kuning Online

Belajar Bahasa Arab juga membutuhkan proses yang sangat lama tidak asal-asalan dan secepat kilat. Kini berbagai platform media pun menyediakan layanan pembelajaran Bahasa Arab secara cuma-cuma. Kita bisa mempelajarinya mulai dari tingkatan dasar hingga tingkatan tinggi. Semua itu tinggal kita manfaatkan dengan baik serta konsisten dalam mempelajarinya. Dalam buku ” 100 سؤال عن اللغة العربية” (100 soal tanya jawab dalam Bahasa Arab) dalam belajar Bahasa Arab membutuhkan usaha dan proses. Seseorang yang belajar bahasa tersebut harus memiliki tekad yang kuat, bersugguh-sungguh, meluangkan waktu serta konsisten dalam melatih kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Hal inilah yang menjadikan seseorang dapat memahami Bahasa Arab serta dapat mengkomunikasikannya dengan baik.

Pada akhirnya, dari semua itu dapat kita simpulkan bahwa Bahasa Arab kian berkembang baik di Indonesia maupun di negara-negara non-Arab. Para pegiat dan guru Bahasa Arab diharapkan mampu mewarnai khazanah bahasa ini sehingga bisa membawanya menjadi salah satu bahasa yang disegani dan diminati oleh masyarakat dunia.

Muhammad Bagus Ainun Najib
Muhammad Bagus Ainun Najib Guru Madrasah dan Alumni UIN Maliki Malang

One Reply to “Merayakan Kembali Hari Bahasa Arab Sedunia”

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.