Fathullah Kader Pondok_bukan Pesantren Islam Keadaan Nologaten Yogyakarta

Merindukan Pluralisme Cak Nur

Fathullah 2 min read 0 views

Nurcholish-Madjid

(Catatan atas Haul ke 13 Nurcholish Madjid)

[dropcap]T[/dropcap]idak terasa sudah tiga belas tahun Cak Nur (Nurcholish Madjid) meninggalkan kita. Guru Bangsa asal Jombang ini telah banyak memberi pelajaran berharga kepada Bangsa Indonesia. Pelajaran tentang pluralisme serta keindonesiaan. Apa yang dikampanyekan oleh cak Nur sejak ia masih berada di bangku kuliah hingga detik-detik kematianya nampak hingga kini masih relevan untuk diamalkan. Namun, kita sepertinya dilarang untuk terlalu berharap pada Bangsa ini untuk bisa mengamalkan apa yang diajarkan oleh Cak Nur. Bukan karena gagasanya dianggap telah usang, atau kurang relevan dengan keadaan Bangsa Indonesia saat ini. Pemikiran cak Nur terasa terlalu dewasa untuk diamalkan oleh Bangsa Indonesia yang diakui atau tidak, masih terlalu kekanak-kanakan.

Kita harus jujur, serta dengan sangat sedih mengakui bahwa sampai hari ini hanya ada segelintir orang yang benar-benar bisa memahami apa yang menjadi gagasan Cak Nur. Pemuda-pemuda bangsa ini jauh lebih fasih membaca media sosial daripada karya-karya monumental Cak Nur. Jangankan untuk membacanya, ada banyak mahasiswa yang tidak mengenal Nurcholish Madjid. ketika nama Cak Nur dan pluralisme disebut, banyak teman kuliah saya yang kaget. Mereka banyak yang tidak percaya bahwa Cak Nur pernah punya gagasan tentang pluralisme. Hingga akhirnya saya sadar, ternyata Cak Nur yang mereka kenal adalah aktivis Youtube yang seringkali menyampaikan pendapatnya tentang keadaan Negeri ini dengan pendapat-pendapat yang saya yakin sering bertentangan dengan gagasan Cak Nur yang saya kenal, terutama perihal kebangsaan.

Ironis memang, guru Bangsa sekelas Cak Nur kini mulai ditinggalkaan oleh anak-anak muda Indonesia. Panggilan cak Nur kini banyak mengarah bukan pada guru Bangsa yang memiliki pembawaan kalem ini. Padahal, saya yakin bahwa setiap orang yang memakai nama Cak Nur, karena mereka ingin meminjam ketenaran Cak Nur di zaman dulu.

Cak Nur (Nurcholish Madjid) lahir dari pasangan Abdul Madjid dan Ny. Fathanah pada tanggal 17 Maret 1939. Ia dibesarkan di lingkungan kyai desa di daerah Jombang. Meskipun terlahir dari keluarga yang dekat dengan kalangan ulama tradisionalis, Abdul Madjid lebih memilih memondokkan Cak Nur di tempat yang khas dengan pendidikan modern, Gontor. Setelah tamat dari Gontor Cak Nur sempat melanjutkan studinya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebelum ia menuntaskan dahaga keilmuanya di Universitas Chicago. Latar belakang pendidikan yang malang melintang inilah yang di kemudian hari membentuk Cak Nur menjadi pribadi yang sangat akrab dengan perbedaan. Dan dari perbedaan-perbedaan itulah muncul idenya, pluralisme.

Salah satu gagasan yang diwariskan oleh Cak Nur untuk Bangsa ini adalah tentang pluralisme. Menurut Cak Nur, pluralisme, kemajemukan adalah sunnatullah, karena itulah setiap manusia kemudian dituntut untuk menghormati setiap perbedaan yang ada di sekeliling hidupnya. Bagaimanapun, hidup akan selalu ada perbedaan, mulai dari warna kulit, bahasa, budaya hingga keyakinan. Perbedaan-perbedaan ini tidak bisa untuk dihindarkan. Karena itulah umat manusia kemudian memiliki kewajiban untuk bukan hanya sekedar menerimanya namun juga untuk dalam bahasa al Qur’an lita’arafu (mengenalnya), lebih-lebih juga untuk meghormati perbedaan tersebut.

Namun sayang, perbedaan ini masih kerapkali disikapi oleh Bangsa Indonesia dengan cara yang tidak seharusnya. Kasus Meliana adalah contohnya. Perempuan asal Tanjung Balai, Sumatera Utara yang divonis 18 bui karena mengeluhkan kerasnya suara adzan menjadi gambaran nyata keadaan Bangsa ini yang sedang tidak sehat. Seandainya saja Cak Nur masih hidup dan melihat kasus yang menimpa Meliana sekarang ini, mungkin ia akan berteriak keras-keras mengutuk orang-orang yang mengutuk Meliana sambil membuktikan dengan dalil-dalil agama serta rasionalitas yang kuat bahwa tindakan mengutuk Meliana bukanlah ajaran Islam.

Apa yang terjadi pada Meliana, merupakan sebagian kecil kejadian yang sebenarnya telah sejak lama dikhawatirkan oleh Cak Nur. Gagasan pluralisme Cak Nur memang sejak awal dimaksudkan untuk mengantisipasi penyakit-penyakit di tengah perkembangan Bangsa yang begitu cepat seperti kasus yang menimpa Meliana. Dinamika perubahan yang begitu cepat, seperti ungkapan Airlangga Pribadi, membuat masyarakat bersikap lari dari kebebasan. Mereka cenderung membangun kultur defensif dan bersikap eksklusif serta di saat yang sama, curiga terhadap segala yang liyan sebagai sesuatu yang dianggap mengancam. Inilah yang sekarang sedang terjadi. Ada kelompok Islam eksklusif yang sedang merasa terancam. Satu orang perempuan yang mengeluhkan kerasnya suara adzan bukanya dijadikan untuk introspeksi malah dianggap sebagai ancaman. Kejadian yang semakin menyadarkan kita bahwa gagasan Cak Nur masih belum banyak diterapkan.

Dieter Senghaas, seorang sosiolog asal Jerman dalam bukunya The Clash Within Civilization: Coming To Term With Cultural Coflict menyatakan bahwa penghormatan terhadaap pluralisme bukanlah sesuatu yang tumbuh dari langit ataupun karakter kultural yang dimiliki oleh suatu peradaaban tertentu. Ia adalah suatu yang harus dibentuk usaha yang keras dan dalam waktu yang tidak sementara. Jika kita ingin tumbuh damai di tengah Bangsa yang bermacam-macam suku ini, maka harus ada sebuah usaha yang tak kenal lelah untuk membangun kesadaran pluralisme.

Saat melihat keadaan Bangsa Indonesia yang sekarang banyak terjadi kekerasan beragama, tidak adanya sikap saling menghormati antar satu kelompok dengan kelompok lain, eksklusifisme hingga yang sekarang berkembang sangat pesat, politik identitas, nampak terasa Bangsa ini merindukan sosok Nurcholish Madjid. guru Bangsa yang gigih serta istiqomah dalam menyebarkan paham pluralismenya. Cak Nur, kami merindukanmu.

Fathullah
Fathullah Kader Pondok_bukan Pesantren Islam Keadaan Nologaten Yogyakarta

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.