M. Abdul Kholid Seorang santri yang mengabdi dan mengaji di Ponpes Gasek sembari mencari pasangan hidup.

Kondisi Diperbolehkannya Gibah

M. Abdul Kholid 1 min read 1 views

Gibah atau yang sering disebut dengan menggunjing yaitu membicarakan kekurangan orang lain di belakang orang tersebut. Asal mula hukum gibah adalah haram berdasarkan dalil-dalil yang tegas melarangnya.

Namun demikian, Imam Nawawi dan ulama-ulama lain juga menuturkan kondisi-kondisi yang memperbolehkan seseorang menggunjing, karena bertujuan yang dilegalkan syarak yang tidak mungkin dilakukan perbaikan kecuali tanpa melakukan gibah. Kondisi tersebut ialah:

1.  Teraniaya

Diperbolehkan bagi orang yang teraniaya mengadukan penganiayanya kepada penguasa, hakim, dan orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk menghentikan penganiayaannya dengan menyebut langsung nama pelakunya, misalnya “Si Anu telah melakukan tindakan ini kepadaku”, atau “Si Fulan mengambil sesuatu dariku”, dan sebagainya.

2. Mengubah kemungkaran dan kemaksiatan kepada kebenaran

Dengan menyebut nama pembuat kemungkaran serta kemaksiatan kepada seseorang yang diharapkan mampu mengubahnya dengan berkata “Si Fulan telah melakukan tindakan ini, maka cegahlah!” dengan tujuan menghilangkan kemungkaran. Bila tidak, maka menggunjingnya hukumnya haram.

3. Karena meminta saran atau nasihat

Misalkan seseorang yang mengatakan: “Ayahku atau Saudaraku atau Si Fulan menganiaya diriku, apa tindakan tersebut berhak ia lakukan? Bagaimana caraku keluar dari masalah ini? Bagaimana aku dapat memperoleh hak-hakku?” dan sebagainya.

Yang demikian itu diperbolehkan karena ada kepentingan menggunjingnya. Namun, untuk berhati-hati sebaiknya dalam rangka meminta saran ini tidak dikatakan pelakunya secara langsung. Semisal dengan pernyataan: “Bagaimana pendapat Anda tentang seorang lelaki yang melakukan semacam ini?”, “Bagaimana pendapat Anda tentang seorang suami atau istri yang melakukan semacam ini?” dan semacamnya.

Karena tujuan meminta saran dengan perkataan semacam inipun bisa ia dapatkan. Meskipun penyebutan pelaku secara langsung juga diperbolehkan berdasarkan hadis dari Hindun r.a. saat ia meminta saran dari Nabi shallallaahu alaihi wasallam dengan berkata “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan lelaki pelit —dan seterusnya.” dan Nabi pun tidak melarangnya.

4. Memberi peringatan kepada kaum muslimin

Menurut Imam Nawawi, dalam permasalahan ini terdapat 5 gambaran:

a. Menerangkan atau menyebutkan cacatnya nama seseorang dalam sebuah riwayat hadis atau saksi. Kebolehan gibah dalam hal ini disepakati ulama dalam rangka kemurnian syariat.

b. Membicarakan seseorang karena musyawarah semisal hendak mengikat tali perkawinan.

c. Saat melihat seseorang yang hendak membeli suatu barang dengan ciri yang tidak ia ketahui, untuk memberi petunjuk kepadanya bukan karena menghina atau merusak citra.

d. Saat melihat seseorang yang hendak belajar agama dan ragu atas dua pilihan, agar tidak tersesat pada orang fasik dan ahli bidah, maka boleh bagi seseorang memberi nasihat kepadanya.

e. Mengadukan seorang pimpinan kepada atasannya atas ketidakprofesionalannya atau kefasikannya agar diketahui dan segera diganti, supaya tidak tertipu dan dilanggengkan kepemimpinannya.

5. Kekurangan yang ia lakukan terang-terangan

Bila seseorang terang-terangan menjalani kefasikan atau kebidahannya, maka boleh menyebutkan cela yang secara jelas ia lakukan dan haram menyebutkan lainnya kecuali bila ada hal yang memperbolehkan penyebutan lainnya.

6. Penamaan

Boleh menyebutkan kekurangan orang lain bila justru ia lebih dikenal dan diberi julukan dengan kekurangannya seperti “Si Rabun, Si Pincang, Si Jereng, Si Cebol, Si Buta, Si Buntung”, dan sebagainya. Asalkan tidak bertujuan merendahkan kekurangannya dan bila masih memungkinkan penamaan dengan selain kekurangannya tentu lebih utama dan bijaksana.

M. Abdul Kholid
M. Abdul Kholid Seorang santri yang mengabdi dan mengaji di Ponpes Gasek sembari mencari pasangan hidup.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.