Mondok Sampek Rabi, Ngaji Sampek Mati

“Mondok sampek rabi, ngaji sampek mati”, Kata-kata itu sering terdengar dan buming di kalangan para santri, khususnya santri zaman now. Tidak sedikit santri yang menuliskan kata tersebut di media sosialnya. Bagaimana hukumnya ?, tentunya tidak apa-apa menulis tagline itu asal tidak dijadikan dalih terus menerus untuk menikmati kejombloannya.. hehe.

Kalau zaman dulu santri bisa boyong jika kyai menyuruhnya boyong, namun sekarang banyak santri yang ibarat “ datang tak dijemput, pulang tak diantar”, maksudnya ada juga santri yang hanya pakaiannya saja yang ada di pondok, namun orangnya ntah pergi kemana, ada juga santri yang sekarang baru berangkat ke pondok, eh.. besok pagi sudah boyong dari pondok. Begitu beragamnya santri zaman sekarang menandakan bahwa tagline tersebut harus dibumingkan sebanyak-banyaknya.

Tagline tersebut tidak hanya susunan kata-kata yang indah, namun mengandung makna filosofis di dalamnya, “ Mondok Sampek Rabi” maksudnya seorang santri tinggal di pesantren sampai dia mendapatkan calon untuk dinikahi, bahkan ada juga karena saking cintanya dengan pondok pesantren sampai-sampai sudah menikah masih tinggal di pondok pesantren.

Hal ini menggambarkan bahwa dalam belajar di pondok pesantren tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar agar mendapatkan ilmu yang mumpuni. Hal ini sesuai denga isi nadhom kitab “ Alala “, yang mana salah satu syarat seseorang untuk mendapatkan ilmu adalah dengan “dowone mongso ( Lamanya waktu belajar)”. Untuk mendapatkan ilmu yang mumpuni tentu tidak hanya diperbanyak tura-turune (Tidurnya) atau ngopa – ngopine (Meminum kopi), bahkan cungkrak-cangkruke (Nganggurnya) di pondok, namun ngajinya juga harus diperbanyak.

Tidak hanya belajar ilmu agama saja, namun juga harus belajar ilmu sosial, sebab nantinya seorang santri akan terjun di masyarakat yang mempunyai karakter berbeda-beda. Kalau sudah sedari awal mondok belajar ilmu sosial, maka nanti ketika terjun di masyarakat tidak akan gampang kagetan.

Setelah dirasa cukup untuk menimba ilmu di pesantren, tentu harus ke langkah selanjutnya, yakni memboyong calon untuk dinikahi. Ketika sudah menikah maka harus menerapkan tagline yang kedua, “ Ngaji Sampek Mati”. Maksudnya, meskipun sudah tidak berada di pesantren maka wajib bagi santri untuk ngaji (belajar) sampai akhir hayatnya, baik itu mutholaah terhadap kitab-kitab yang pernah dikaji, atau mengajarkan ilmu yang telah diperoleh.

Seorang santri harus menanamkan pada dirinya untuk tidak ada kata berhenti dan libur dalam belajar sebab itu adalah ciri khas santri. Selain itu, karakter santri adalah mengajar, ntah itu mengajar al-quran adek-adek TPQ bahkan mengajar kitab-kitab kuning (Turats). Intinya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat tersebut dan diri sendiri. Oleh sebab itu, ayo mondok sampek rabi tapi ora ngelalekne ngajine.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muhammad Tareh Aziz 15 Articles
Muhammad Tareh Aziz seorang jomblowan yang berstatus santri. Lahir di Gresik pada 5 september 1995. Beralamatkan di Bedanten Bungah Gresik.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.