Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Mudik

Muhamad Isbah Habibii 1 min read 33 views

Mudik atau menuju ke udik, atau pulang kampung adalah sebuah tradisi yang masih banyak dijalankan oleh manusia-manusia Indonesia. Tujuan utamanya adalah menyambung silaturrahim, tapi tujuan tidak utama juga banyak.

Ada yang memiliki tujuan pamer dan ingin dipuji atas pencapaiannya selama di perantauan. Ada juga yang tujuannya sekedar mencari amplop dari nenek, bude dan paman.

Tujuan melepas kerinduan hanya bagi orang-orang yang lahir dan besar di kampung. Sedangkan bagi anak-anak yang lahir di kota, mudik bukanlah pulang dan melepas kerinduan, tapi mudik adalah berkunjung dan berkenalan dengan keluarga dari orang tua.

Selain perkara rindu dan pamer, pulang kampung adalah ritual napak tilas. Ia ritual sakral dimana kita meresapi setiap kenangan-kenangan di kampung halaman. Hingga seharusnya para pemudik bisa mengingat kembali bahwa dirinya juga manusia.

Mengingat bahwa dirinya adalah manusia yang pernah memiliki kekonyolan, yang lemah terhadap kerinduan, yang pernah kecil dan kelak juga akan jadi tua renta. Lalu saat tua renta itulah pemudik tadi tidak lagi mudik, ia lah yang akan jadi objek dari ritual mudik.

Mengingat bahwa manusia pernah kecil dan kelak akan jadi tua renta, juga berarti mendekati sebuah kesadaran bahwa manusia diawali oleh ketiadaan dan kelak akan diakhiri oleh ketiadaan. Dari asalnya kampung lalu kembali ke kampung, dari yang asalnya tidak ada, lalu ada, dan kelak akan kembali tidak ada.

Dengan demikian, bila kerinduan terhalang untuk dipuaskan (dengan adanya larangan mudik misalnya), maka masih ada lusa dan lain hari untuk sebuah pertemuan. Lagi pula ada teknologi yang bisa sekedar memperingan kerinduan, walaupun hanya bisa menyapa dengan wasilah sinyal.

Silahkan baca juga   Mencari-cari Kesalahan

Sedangkan, bila mudik adalah urusan napak tilas, maka selama hidup masih terus berjalan, akan selalu ada waktu untuk menengok kebelakang. Selalu ada waktu merenungkan asal usul kita dan menapaki tilas tidak pernah terhalang oleh sekat-sekat ruang.

Demi kemaslahatan yang lebih luas, tidak mudik secara fisik pun tidak mengapa. Yang penting kondangan yang sesuai protokol kesehatan masih boleh diselenggarakan.

Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.