Mural, Riwayatmu Kini

Mari kita berbicara tentang mural. Beberapa hari ini, kosakata tersebut tampaknya menjadi trending di beberapa media sosial lantaran peristiwa penghapusan oleh aparat keamanan.

Dalihnya beragam: ada yang mengatakan itu tindakan melanggar hukum, ada yang menganggap itu tindakan penghinaan terhadap lambang negara, kesewenang-wenangan, serta banyak alasan lainnya. Persis ketika seorang cewek ogah diajak makan malam.

Tetapi lupakan soal makan malam. Mari sejenak kita fokus kepada bagaimana kita menyikapi fenomena mural ini. Ini penting agar kita tak lekas menghukumi seperti Faldo Maldini (bukan nama samaran).

Saya tak akan membahas soal dasar-dasar hukum. Tugas ini, biar politikus saja yang mengurus. Saya lebih ingin mengacu kepada sikap yang harusnya ditunjukkan oleh pemerintah, aparat keamanan, para birokrat, atau siapa pun yang menjadi sasaran dari mural tersebut.

Kepada mereka saya ingin berpesan: Tuan dan Puan yang terhormat, menghapus mural hanya membuat gambar hilang. Tetapi tidak akan melenyapkan pesan yang dibawa. Bahkan mungkin tindakan penghapusan itu akan membuat pesan semakin bergema.

Lagipula, apakah di antara banyak aparat keamanan serta para politikus itu, tak ada secuil pemikiran yang muncul bahwa fenomena kritik lewat mural adalah efek logis dari ketiadaan wadah (atau mungkin kengerian) masyarakat untuk mengkritik? Ini logika sederhana, lho.

Kita, para masyarakat, boleh saja heran, mengapa di antara banyak sekali pilihan tindakan, menghapus mural dipilih sebagai respon? Tak bisakah respon tersebut digeser sedikit ke tindakan yang lebih substansial? Misalnya, menelaah pesan-pesan yang terdapat dalam mural-mural tersebut daripada hanya “fafifu” mengumbar dasar-dasar hukum.

Saya tak anti hukum. Tetapi jika dasar hukum hanya dijadikan dalih untuk memburamkan konteks, demi Neptunus, itu menjengkelkan.

Tapi kita sebagai masyarakat tak boleh kaget. Sebab jauh sebelum mural “Jokowi 404: not found”, “Tuhan Aku Lapar!”, atau “Dipaksa Sehat di Negara yang sakit” jadi viral, Iwan Fals sudah mewanti-wanti bahwa:

Coretan di dinding membuat resah

Resah hati pencoret mungkin ingin tampil

Tepi lebih resah pembaca coretannya

Sebab coretan dinding

Adalah pemberontakan kucing hitam

Yang terpojok di tiap tempat sampah

Di tiap kota” (dinukil dari lagu Iwan Fals – Coretan Dinding)

Selamanya coretan di dinding akan membuat para pembacanya bergidik. Terutama mereka yang menjadi objek kritik. Respon memoles ulang mural atas dasar melawan kesewenang-wenangan adalah alasan paling menggelikan, sekaligus menegaskan bahwa si objek kritik ketakutan.

Eka Kurniawan melalui cerpennya yang bertajuk “Corat-coret di Toilet” juga mengingatkan, bahwa selain pekikan teriak paling lantang serta lembar koran paling laris, dinding atau tembok adalah media kritik yang gurih dan mudah saat semua media kritik sukar diakses.

Belum lagi ancaman banned akun jika kritik pakai medsos, atau popor senapan jika kita berani aksi terang-terangan. Jadi wajar saja jika tembok jadi salah satu harapan.

Kemudian alasan mengapa mural dilarang karena merusak keindahan tembok, plis deh, jangan dipakai lagi. Karena jujur saja, sebagai orang yang memiliki selera seni cukup rendah, saya sudah bisa menilai bahwa gambar mural yang ditutup jauh lebih estetik daripada polesan cat aparat keamananan yang, ahhhh sudahlahh

Kalau saya boleh asal, eh usul maksudnya, jika memoles ulang mural atas dasar merusak keindahan, saya kira baliho politikus yang bertebaran sampai Bikini Bottom itu jauh lebih mengganggu penglihatan deh. Jadi mengapa tak itu saja yang dipoles ulang jadi baliho promosi rental PS5, misalnya.

Sekian. (Bung)

 

Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Fauzan Nur Ilahi 1 Article
Mahasiswa yang bercita-cita menjadi anaknya Raffi Ahmad biar bisa banyak sedekah

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.