Nasi Berkat itu Halal

Dalam pandangan Islam, hewan yang disembelih atas nama Allah oleh orang yang Islam sudah cukup memenuhi kriteria halal. Dengan menggunakan alat yang tajam serta berhasil melukai urat nafas dan kerongkongan, sudah dianggap memenuhi sembelihan yang sah.

Pun begitu, nasi berkat dari kenduri atau dari tahlilan juga terdiri dari makanan-makanan halal. Bila berupa daging, maka dari daging binatang halal dengan sembelihan yang sah. Bila bukan daging-dagingan pun diolah dengan bahan dan peralatan yang suci. Tidak pernah masakan untuk berkat itu dicampuri minyak babi, ataupun ditaburi suwiran daging garangan.

Kehalalan berkat selepas prosesi tahlilan, manaqiban, diba’an, dll, itu bisa dipertanggungjawabkan. Semua bahannya pun bukan hasil curian. Jadi tidak perlu lah seseorang takut-takut mengkonsumsinya.

Oleh sebab itu aneh bila ada orang Islam yang anti terhadap makanan berkat. Menganggapnya seolah sama dengan makanan yang haram, hanya sebab ia menganggap ritual tahlilan, diba’an, manaqiban, dll adalah ritual sesat dan tidak diajarkan dalam Islam.

Padahal, pembagian nasi berkat ini dengan acara tahlilan adalah dua hal yang berbeda. Yang satu adalah amal yang berupa berdoa, dzikir dan sholawat, sedangkan yang satunya adalah amal yang berupa sedekah.

Bila menganggap bahwa ritual sesat juga menyebabkan haramnya yang dihasilkan oleh ritual itu, maka saya bisa menjelaskan bahwa ritual yang dianggap sesat ini tidak ada hubungannya dengan makanan berkat. Ritual ini tidak menghasilkan makanan berkat, makanan berkat di masak di waktu yang berbeda, dan ritual yang dianggap sesat tadi bukanlah ritual masak memasak, jadi tidak bisa menghasilkan nasi berkat.

Pun masakan berkat ini tidak memiliki daya magis yang bisa memperdaya orang yang memakannya jadi pro terhadap ritual-ritual seperti tahlilan dan kawan-kawannya. Kalau memang bisa sesakti itu efek dari nasi berkat, maka para ulama tidak perlu lagi bersusah-susah menyusun dalil-dalil dari tradisi baik NU.

Jadi alangkah baiknya, jika walaupun tidak turut menganggap bahwa tradisi seperti kenduri, tahlilan, dll merupakan tradisi yang baik, maka jangan sampai seseorang itu mengharamkan sesuatu yang nyata-nyata halal. Meskipun, resikonya kalau mau memakan makanan berkat ini bisa menyebabkan seseorang untuk mendapatkan gojlokan “gelem berkate, gak gelem tahlilan e”.

About Muhamad Isbah Habibii 44 Articles
Seorang petani asal Jombang, alumni Tambakberas, Ponpes Gasek dan Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.