Nasi Kucing

Aku memesan seporsi nasi kucing
di sebuah warung angkringan. Maklum,
perutku sudah lapar, tetapi dompetku juga
sama laparnya.

Seporsi nasi kucing akhirnya berguling
di hadapanku. Begitu kubuka bungkusnya,
terdengarlah teriakan “Meong! Meong!”
yang menyentakku seketika.

Seporsi nasi kucing pun kukembalikan
kepada si penjual. Dengan setengah berlari,
kulangkahkan kaki menuju rumah demi melihat
kucing-kucing kesayanganku.

Sesampainya di rumah, ternyata kucing-kucingku
juga sama laparnya. Pada akhirnya, aku, dompet,
dan para kucing pun bersama-sama melewati
malam sembari memegang perut masing-masing.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Bintang Ramadhana Andyanto 6 Articles
Saat ini saya berusia 19 tahun. Saya mulai menyukai dunia sastra sejak menginjak bangku kelas XII. Awal mula ketertarikan saya terjadi karena saya membaca sebuah novel karya Fiersa Besari yang berjudul “Konspirasi Alam Semesta”. Sejak itu, saya telah jatuh cinta pada dunia tulis-menulis.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.