Nasib Mahasiswa Tingkat Akhir, Antara Jurnal atau Skripsi?

Mahasiswa tingkat akhir gimana kabarnya? Semoga selalu diberikan kesehatan jasmani rohani, dan kewarasan berpikir. Apalagi di kampus merdeka tingkat swasta. Sebagai mahasiswa sudah sepantasnya tahu akan isu-isu pendidikan yang katanya mahasiswa itu agen perubahan, agen sosial atau apapun cita-citamu kelak.

Kita punya tanggung jawab moral dan sosial yang pastinya kelak dibutuhkan di tengah masyarakat. Sejumlah mahasiswa sewajarnya sudah bisa menilai bentuk tugas akhir mahasiswa seperti menulis artikel pengganti skripsi di tengah eskalasi wabah pandemi saat ini. Dan antara kebijakan pemerintah dengan kampus perlu disesuaikan.

Permintaan tersebut dilatari terhambatnya penyelesaian tugas akhir karena kebijakan physical distancing maupun protokol lain. Bentuk-bentuk hambatan kita alami dalam penyelesaian tugas akhir seperti jurnal yang dirasakan mahasiswa seperti sulitnya mendapatkan literatur pendukung di lapangan dan akses ke narasumber yang terbatas.

Mahasiswa pun harus merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan literatur pendukung yang seharusnya bisa didapatkan di perpustakaan kampus. Pergerakan mahasiswa dalam menyusun jurnal pun terhambat karena kebijakan physical distancing yang diterapkan di banyak wilayah.

Untuk tugas akhir skripsi sebaiknya bisa diganti dengan tugas sederajat seperti artikel jurnal ilmiah. Kemendikbud yang kini bergabung dengan Dikti, kampus merdeka, juga mengarahkan bentuk tugas akhir yang konkret dan bisa dijalankan mahasiswa kepada pihak kampus di masa wabah seperti ini.

Mahasiswa seharusnya diberikan opsi dalam menyuarakan pendapat dan berharap tugas akhir mirip skripsi juga bisa digantikan dengan kegiatan sosial atau kursus-kursus online tentang kependidikan dan dukungan riset. Skripsi sebagai tugas akhir bisa juga diganti kegiatan sosial kalau bisa seperti relawan Covid-19, menyebarkan awareness di media kampus maupun organisasi mahasiswa. Saya sendiri terhambat untuk menyusun tugas akhir dalam hal wawancara narasumber. Saya harus membatalkan segala janji bertemu langsung untuk wawancara.

Perguruan tinggi diharapkan berikan kemudahan. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Plt Dirjen Dikti Kemendikbud), Nizam mengimbau agar perguruan tinggi dapat memudahkan atau tidak mempersulit pembelajaran selama darurat Covid-19. “Untuk karya tulis tugas akhir tidak harus berupa pengumpulan data primer di lapangan atau laboratorium. Metode dan waktunya bisa beragam dan fleksibel sesuai bimbingan dari dosen pembimbing,” terangnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com. Kemendikbud ,atau kini Kemendikbudristek memberikan kesempatan perguruan tinggi untuk mengatur kembali jadwal dan metode ujian dengan memerhatikan situasi dan kondisi di kampus. Yang penting didasarkan pada learning outcome atau capaian pembelajaran yang diharapkan. Jadwal praktik bisa digeser, akhir semester bisa digeser, kalender akademik bisa disesuaikan. Yang tidak boleh dikompromikan adalah dari hasil kualitas pembelajarannya.

Sekelas kampus swasta pun sesuaikan dengan kebijakan. Rektor bidang Akademik Universitas KH A.Wahab Hasbullah (Unwaha) saat ini sedang melaksanakan pola tugas akhir untuk mahasiswa semester 8 dan 6. Hal ini dampak dari pandemi korona yang terjadi di Indonesia. Unwaha juga menyarankan kepada mahasiswa untuk mengganti jenis tugas akhir jika prosesnya membutuhkan banyak interaksi dengan orang lain.

Tidak menutup pilihan mahasiswanya mau bikin tugas akhir untuk tetap melakukannya, sepanjang prosesnya aman. Situasi keberpihakan perlu dalam melaksanakan kebijakan kampus.

Mahasiswa lebih memilih tugas akhir daripada skripsi atau tugas karya sebelum wabah korona merebak. Toh pemilihan tugas akhir disesuaikan dengan disiplin ilmu yang dipilih mahasiswa.

Dari banyaknya pilihan jurnal di Unwaha yang notabene baru dilegalkan, luar sana ada definisi jurnal abal-abal, sebutan lain bermunculan: jurnal bodong, jurnal gurem, atau jurnal fiktif. Intinya, jurnal tersebut diragukan kadar ilmiah atau keprofesionalan dalam pengelolaannya. Jika diperlukan, pemerintah pun sampai melakukan validasi untuk mengetahui alamat resmi pengelola jurnal, mengunjungi websitenya, mengkaji susunan dewan redaksi, bahkan sampai meminta konfirmasi ke reviewernya secara personal. Jumlah edisi dan siapa saja penulisnya pun dicermati untuk mengetahui “kalibernya”.

Lalu bagaimana caranya melakukan seleksi jurnal atau mengetahui atau membuktikan apakah sebuah jurnal tersebut dianggap abal-abal? Pertama, belajar mereview artikel yang sudah dipublikasikan di jurnal sasaran. Para pakar melakukan evaluasi terhadap mutu artikel tersebut sesuai dengan bidang fakultatif masing-masing. Cara ini digunakan oleh dirjen DIKTI untuk menilai artikel yang digunakan untuk kenaikan pangkat dosen.

Harus diakui ada perbedaan mutu jurnal yang diajukan oleh dosen atau mahasiswanya. Rasanya sebagian dosen tidaklah mungkin menjadi penemu yang bijak. Sebaiknya cara ini harus disertai klasifikasi mutu yang sesuai dengan tingkat kepangkatan dosen di kampus.

Penilaian lainnya bisa dilakukan dengan menilai tingkat kemiripan sebuah artikel dengan tujuan menemukan indikasi plagiat dari artikel yang sudah dipublikasikan. Jurnal baru, bisa belajar melakukan semacam “eksperimen” yaitu dengan membuat contoh paper, lalu dikirim ke jurnal sasaran. Paper tersebut dibuat sedemikian rupa sebagai paper asal-asalan, misalnya hasil jiplakan atau dibuat “ala kadarnya” tanpa mematuhi kaidah ilmiah. Jika hasil reviewnya memutuskan bahwa artikel tersebut diterima tanpa ada saran atau perbaikan yang substansial, jelas penyelenggara jurnalnya patut dipertanyakan.

Salah satu indikator tersebut adalah citation index. Kita percayakan saja informasi tersebut selama kita tidak bisa membuat indikator tandingan yang obyektif dan diterima secara luas. Di kalangan akademisi memang ukuran tersebut tidaklah mutlak karena jurnal sekelas IEEE atau Elsevier pun pernah kecolongan –jumlah kasusnya relatif kecil – dengan lolosnya artikel ilmiah yang sempat diterbitkan, walaupun akhirnya dianulir dan penulisnya masuk dalam daftar hitam. Saya sih setuju-setuju saja dengan pengetatan pengurusan jurnal ilmiah tingkat kampus swasta. Toh, sudah diambil kesepakatan atau berbagai kebijakan terkait dari pemerintah yang sering membuat dunia kampus terkaget-kaget.

Menjalani profesi nantinya menjadi dosen maupun pendidik tidak hanya dengan mengandalkan gelar akademis yang sekedar label saja. Kalau toh suatu saat menyandangnya, apresiasi itu menjadi amanah yang teramat berat.

Kesimpulannya, entah skripsi atau jurnal ilmiah filter pertama adalah pada diri sendiri karena kita sendirilah yang paling mengetahui apakah artikel merupakan hasil karya sendiri, paling tidak ya ndak melanggar kaidah ilmiah atau norma akademik. Motif menulis, apakah demi mengejar gelar? atau berbagi ilmu, bisa disikapi berbeda-beda antar masing masing personal mahasiswa maupun pemegang kebijakan.Namun yang patut direnungkan, gelar itu bukanlah jaminan harkat martabat mahasiswa sehabis lulus. Itulah yang berat karena kinerja dalam semua profesi, guru maupun dosen bukan hanya diukur dengan jumlah artikel ilmiah semata. Tetap belajar, lanjutkan hidup dan tunjukkan semangatmu. Wallahu a’lam bisshowwab.

About Sholeh Abdul Baqi 3 Articles
Menulis adalah kata lain dari hidup. Aktif di pastibisabungkus.blogspot.com. Lahir 26 Juli 1998 di Banyumas, Jawa Tengah. Mempunyai moto "urip iku urup mugi tansah manfaat"

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.