Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Nerimo Ing Pandum

Muhamad Isbah Habibii 1 min read 0 views

Nerimo ing pandum

[dropcap]P[/dropcap]ernah suatu ketika guru penulis menerangkan saat pelajaran tasawwuf, bahwa yang dinamakan qona’ah adalah ridlo dengan sesuatu yang diterima, orang jawa biasa mengenalnya dengan istilah “nerimo ing pandum”. Dalam kitab kifayatul atskiyak yang dinamakan qona’ah adalah ridlo bil yasiri minal ‘atho’, ridlo dengan sesuatu yang sedikit dari pemberian Allah. Kalau diberi sepuluh yaa diterima, diberi lima puluh ya diterima, tidak pernah mengeluh, protes, kecewa, dan menganggap bahwa Tuhan itu tidak adil. Semua dia terima dengan hati legowo, dan penuh syukur serta terimakasih kepada Tuhannya.

Masyarakat pedesaan khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, kebanyakan terdiri dari masyarakat yang masih di bawah kelas menengah. Pengangguran di mana-mana, pelacuran masih ada, mengamen dan mengemis masih dianggap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Begitu indahnya negeri ini, sadar tidak sadar, percaya tidak percaya, masyarakat itu memiliki sifat qona’ah yang begitu besar. Ini tidak lepas dari pengaruh mekanisme hidup masyarakat itu sendiri. Dalam kitab kifayatul atskiya’ diterangkan bahwa, untuk bisa qona’ah kita diharuskan menghindari hal-hal yang disenanginya dan menghindari untuk berbangga diri. Dan penulis lihat, masyarakat kita itu benar-benar mengahayati syarat qona’ah ini. Karena yang namanya masyarakat miskin, itu tidak sempat memikirkan hal-hal yang disenangi, untuk kebutuhan hidup saja sudah susah apa lagi memikirkan kesenangan. Ditambah lagi selama tiga ratus tahun masyarakat dijajah, diperkosa hak-haknya, dirampas hartanya oleh para penjajah. Maka hidup seperti ini saja sudah senang dan bersyukur.

Dan untuk urusan berbangga, masyarakat tidak pernah diberi kesempatan untuk berbangga, negeri yang bagaikan kolam susu dan tanah surga ini, hancur oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sepak bola yang disenangi hampir oleh banyak kalangan, tidak pernah menang. Bulu tangkis yang diperhitungkan oleh dunia, kini juga mulai terombang-ambing. Apa yang mau dibanggakan oleh negeri ini?

Wocoen   Melihat "Pacaran" dengan Lebih Mendalam

Maka jangan heran jika masyarakat kita, “ditempa” dan “diasah” menjadi masyrakat yang qona’ah. Sampai-sampai, jalan yang rusak berat dibiarkan saja (tidak diprotes), pungli yang dilakukan oleh oknum pejabat desa pun juga tidak protes,  pendidikan yang telah lama koma diterima  apa adanya, harga barang-barang yang tidak jelas dan tidak terkendali dibiarkan begitu saja, supermarket, swalayan, minimarket dll. Yang menghancurkan usaha kecil masyarakat dibiarkan juga, impor yang tidak jelas dibutuhkan atau tidak dan malah merusak pasaran industri dalam negri juga dibiarkan. Karena pada dasarnya semua itu sudah dibagi dan takar oleh Tuhan, menurut kadarnya masing-masing.

Begitulah para wali bertindak, diperlakukan bagaimanapun tetap diambil hikmahnya. Seperti perti kisah Abu Nawas yang diceritakan oleh Cak Nun, saat ada pencuri yang diam-diam masuk rumahnya, dia malah sembunyi. Dan saat ditanya, “yaa syaikh kenapa anda malah bersembunyi, padahal di rumah anda sedang ada pencuri?”, dia menjawab “saya malu dengan pencuri itu, mau mencuri apa maling itu, wong saya ndak punya apa-apa.”

                                                                                                Jombang, 14 januari 2015

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.