Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Ngaji Pasanan di Kampung-kampung

Muhamad Isbah Habibii 2 min read 0 views

Ngaji pasanan, pengajian yang menggunakan kitab kuning atau kitab-kitab klasik di bulan puasa, nyatanya bukan hanya milik pesantren saja. Di kampung saya, mungkin juga di beberapa kampung yang lain, juga memiliki tradisi ngaji di bulan puasa.

Tentu ngaji pasanan di kampung memiliki coraknya tersendiri, berbeda dengan yang sudah mapan dan langgeng di pesantren-pesantren itu. Bila ngaji pasanan di pesantren bertujuan mengkhatamkan satu kitab tertentu, ngaji pasanan di kampung lebih “pilih-pilih” tema tertentu yang dirasa cocok dan dibutuhkan bagi masyarakat setempat.

Ngaji pasanan di kampung seringkali memilih waktu-waktu tertentu, misalnya waktu menjelang berbuka. Namun kadang waktu selepas salat Subuh juga menjadi pilihan. Hal ini berbeda dengan ngaji pasanan yang ada di pesantren dan perkotaan. Pesantren melaksanakan pengajian di banyak waktu, seperti setelah Subuh, Duha, Zuhur, Asar, Magrib, dan setelah Tarawih. Sedangkan untuk di kota, pengajian pasanan banyak di lakukan di waktu yang sekiranya pendengar memiliki waktu luang, biasanya selepas Tarawih.

Pada suasana pandemi ini banyak hal yang harus ditiadakan, namun tidak bagi ngaji pasanan di perkampungan. Tentu dengan prosedur yang terpaksa harus disesuaikan dengan anjuran-anjuran pemerintah demi menjaga kesehatan. Jika biasanya saat mengaji ada beberapa orang yang menjadi audiens di masjid dan banyak orang hanya mendengarkan dari rumah, maka pada situasi seperti ini, audien hampir semuanya berada di rumah, dan hanya ada satu dua orang yang ada di masjid. Hal ini semata demi menghindari kerumanan yang dapat memberikan potensi penularan Covid-19.

Ngaji Pasanan sebagai Upaya Pencerdasan Masyarakat Awam

Banyak ulama kekinian yang memiliki banyak pengikut, baik itu di dunia nyata, ataupun di jagat maya. Istilah kerennya “ustaz berjuta subscribers”. Pengajiannya dengan model tematik, tanpa perlu mengkaji satu kitab tertentu, lalu pengajiannya dipungkasi dengan sesi tanya-jawab.

Wocoen   Belajar dari Kiai Salman Tambakberas, dari Istikamah Hingga Kesahajaan

Karenanya ulama kekinian gemar melahirkan fatwa-fatwa yang praktis, serta umat-umat “manja” yang merasa semuanya perlu ditanyakan kepada ustaznya seolah si umat tadi tidak mampu memikirkan jawabannya sendiri. Kajiannya pun tidak memiliki ujung, karena tidak pernah ada habisnya. Berbeda dengan ngaji kitab, tentu memiliki jangka waktu, karena kitab yang dikaji memiliki batas, alias dapat dikhatamkan.

Sebab itu, pengajian kitab di pesantren-pesantren dan di perkotaan memiliki pasar tersendiri. Banyak orang terpelajar yang menggemari pengajian kitab ala-ala pesantren ini, karena kita ngaji kitab itu ibarat orang yang diberikan pancing. Urusan mencari ikan urusan dia, yang penting ia sudah diberi kailnya. Sedang ngaji tematik ibarat orang yang dimanja dengan pemberian berupa ikan-ikan siap santap saja.

Nah, mungkin menimbang hal-hal di atas, pengajian pasanan di kampung memiliki gayanya tersendiri. Tetap menggunakan kitab seperti di pesantren atau di perkotaan, namun bukan bertujuan untuk mengkhatamkan satu kitab utuh, akan tetapi dipilihlah judul atau pembahasan yang sesuai kebutuhan masyarakat. Ibaratnya, memang tidak diberi ikan siap makan, tapi diberi kail dan dipilihkan kolamnya.

Tentu hal ini memiliki dampak yang baik bagi kondisi beragama masyarakat. Orang jadi tidak gampang tercuci otak dan fanatik berlebihan. Bahkan pandangannya tentang agama tidak lagi “menurut ustaz ini”, namun sudah pada tahap “menurut kitab ini”.

Ngaji di Kampung dengan Sifat Lokalnya

Pada Ramadan tahun ini, musim pandemi melahirkan gaya baru dalam ngaji kitab. Banyak yang dulunya menolak pengajian via online, kini mereka terpaksa harus rela ngaji secara online.

Dampaknya banyak channel YouTube baru yang menggelar pengajian pasanan. Banyak pesantren atau ustaz yang pada Ramadan kali ini memiliki channel YouTube mereka sendiri, yang mereka isi dengan pengajian-pengajian kitab.

Wocoen   Menapaki Jalan Baru Pengajian Kitab Kuning Online

Gaya ini rupanya juga menular terhadap pengajian di kampung saya. Sebenarnya tidak perlu juga untuk di-online-kan, karena toa masjid pun masih mampu memenuhi kebutuhannya di tengah keterbatasan yang disebabkan pandemi ini.

Memang bagus, pengajian-pengajian yang entah itu di pelosok kampung ataupun yang ada di pesantren akhirnya “go internasional” dengan pengajian yang di-online-kan. Namun pengajian-pengajian ini masih membawa tabir, yang menghalangi khalayak selain komunitasnya untuk memahami isi dari pengajian itu sendiri.

Bahasa pengantarnyalah yang menjadi tabir penghalang bagi netizen yang tidak menguasai bahasa daerah dalam memahami pengajian tadi. Walaupun pengajian bisa diakses oleh pengguna internet dari berbagai belahan dunia, namun tetap saja yang dapat memahaminya hanyalah orang lokal saja. Pada akhirnya, pengajian online hanya sebatas menjadi gaya-gayaan saja, dan tidak mampu membuatnya melewati sekat-sekat sifat lokalnya.

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.