Muhammad Bagus Ainun Najib Putra seorang petani bawang merah asal Brebes, suka nglayab dan sekarang sedang menempuh magister Pendidikan Bahasa Arab di UIN Maliki Malang.

NU VS Ideologi Islam Transnasional

Muhammad Bagus Ainun Najib 5 min read 1 views

Nahdlatul Ulama

[dropcap]S[/dropcap]ebenarnya tema tentang “NU VS IDEOLOGI ISLAM TRANSNASIONAL” sudah dikupas tuntas di era kepemimpinan KH. Ahmad Muzadi (Allah yarhamuh) ketika beliau menjabat sebagai ketua umum PBNU bahkan telah didokumentasikan serara tersusun di perpustaskaan PBNU Jakarta. Namun dalam hal ini penulis ingin mengangkat kembali tentang perlawanan sengit antara ideologi islam sunni asli nusantara (Red; NU) dengan ideologi transnasional yang akhir-akhir ini menjadi perhatian khusus bagi kaum Nahdhiyin mengingat maraknya kampanye, sosialisasi bahkan doktrin ideologi impor yang sangat membahayakan bagi kesatuan bangsa dan bernegara.

A. RINGKASAN SEJARAH BERDIRINYA NAHDLATUL ULAMA

     Salah satu tujuan awal dibentuknya Nahdlatul Ulama adalah untuk menghadang faham wahabisme yang pada saat itu  Muhammad Ibn Abdul Wahab dan Abd Al-Aziz Ibnu Saud adalah peletak dasar kerajaan Saudi Arabiya serta menyebarkan faham wahabisme diseluruh Jazirah Arab. Diantara upaya yang dilakukan oleh kaum wahabisme ini adalah melarang praktik ibadah yang tidak sepaham dengannya, membongkar situs-situs sejarah islam, dan hal yang membuat cemas para kyai pesantren adalah bahwa maqam Rasul Muhammad SAW akan dibongkar. Pernyataan ini tentu membuat para kyai berfikir keras untuk mengkritik faham wahabi yang sangat bertentangan dengan faham Ahlu Sunnah Waljamaah, lantas ketika itu dibentuklah komite Hijaz namun belum ada wadah organisasi, maka dibentuklah Nahdlatul Oelama sebagai wadah untuk memperhatankan islam Aswaja yang sesuai dengan ajaran wali songo, ulama sunni dan tentu selaras dengan ajaran kanjeng Rasul.

     Sejak awal berdirinya NU, ideologi islam transnasional kurang mendapat angin segar di negara ini, tak hanya itu pemerintahan orde lama nampaknya sangat loyal kepada ormas NU ini sehingga setiap kebijakan yang disuarakan oleh NU maka akan didukung. Semua ini karena adanya  kesadaran serta kirprah para ulama dalam mempertahankan faham Ahlu Sunnah wal Jamaah dan memperkuat ukhuwah wathaniyah, tak hanya itu NU juga merupakan salah satu ormas yang terlibat langsung dalam memerdekakan bangsa ini oleh karenanya layak menjadi ‘pemegang saham” republik Indonesia.

B. NASIB NU & IDIOLOGI ISLAM TRANSNASIONAL DI ERA ORDE BARU

     Pada era orde baru ini kaum nahdhiyihn mendapat tekanan dari pemerintah, NU tidak bisa leluasa menjalankan agendanya secara maksimal bahkan untuk merangsek ke sektor pemerintah dan birokrasipun sangat susah. Tak hanya itu setiap pergerakan NU akan selalu diawasi oleh bayang-bayang pemerintahan orde baru. Maka tak heran jika gus mus mengatakan bahwa pada era ini NU selalu didhalimi ditindas dan mendapat kecaman dari berbagai pihak. Namun para kyai dan intelektual NU mampu menembus gelombang tekanan Orba ini sehingga perjuangan NU dari mulai berdirinya hingga sekarang selalu eksis mengawal paham ahlu Sunnah dan NKRI. Berbeda dengan ideologi transnasional yang pada saat itu belum ada tokoh yang mampu mengomandoi dengan baik, sehingga perjuangannyapun selalu digebuk oleh orde baru karena dianggap mengancam pemerintahan.

Wocoen   Hakikat Ilmu Selamat

C. IDEOLOGI TRANSANASIONAL DAN PASCA DIBUKANYA PINTU DEMOKRASI

     Setelah jatuhnya rezim orde baru maka demokrasi dibuka selebar-lebarnya, semua peraturan yang dahulu sangat mengekang masyakarat kini telah longgar sehingga setiap orangpun berhak untuk menyuarakan haknya masing-masing. dampak dari semua ini adalah demokrasi tanpa batas. Ideologi Transnasionalpun mendapat ruang untuk bergerak bebas menyebarkan ideologi mereka ditanah air, maka tidak heran jika penyebaran ideologi imporan ini dikampanyekan secara terstruktur dan massif pasca era millennium sehingga munculah serangan terorisme secara beruntutan mulai dari bom bali 1, bom bali 2, bom Hotel Jw Mariot Jakarta, dan lain sebagainya. Tak hanya itu harmonisasi kehidupan bermasyarakatpun kian meredup lantaran hampir setiap hari para pengusung ideologi transnasional ini tak henti-hentinya menyebarkan propaganda yang bisa mengancam keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia. KH. Dr. Ghazali Said penulis buku “Ideologi  Kaum Fundamentalis Trans Pakistan Mesir” mengatakan bahwa “Ideologi Islam TransNasional merupakan gerakan Islam yang berada di tanah air tetapi yang mengendalikan dari luar misalnya Ikhwanul Muslimin, suatu contoh, ini pengendali utamanya dari mesir, jadi kedudukan al-mursyid al-aam di Mesir”. Tak hanya Ikhwanul Muslimin di Mesir, Hizbu Tahrir yang didirikan oleh Syekh Taqiyuddin An-Nabhani serta Wahabisme yang dicetuskan oleh Muhammad Ibn Abdul Wahab menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan faham Aswaja di tanah air. Bahkan promosi Hizbu Tahrir akan khilafahnyapun sangat mengkhawatirkan bagi NKRI.

    Tidak sedikit warga Indonesia yang terjebak dalam doktrin islam modern ala wahabi maupun kampanye khilafah ini. Mereka digiring dalam pemahaman konsep khilafah agar dapat mendirikan negera Islam di bumi Indonesia. Padahal kekhalifahan itu hanyalah mimpi belaka, bahkan pendiri HT Syekh Taqiyuddin An-Nabhani sampai akhir hayatnya tidak mampu merealisasikan gagasannya lantaran ditolak diberbagai negara. Jargon Khalifah yang digaungkan oleh HTpun bukan  murni agama tetapi sarat akan unsur politik bahkan cenderung sekuler. Rasulullah dalam riwayat sirah nabawiyah tidak pernah mendeklarasikan Negara Islam namun beliau mendirikan Negara Madinah sehingga kaum Yahudi, Nasrani dan Islam dapat hidup berdampingan.

    Kini perkembangan Ideologi Islam Transnasional di negeri ini kian tak terbendung, hampir disetiap sudut kota, kampus, masjid kita menemukan kegiatan yang diusung oleh kaum islam transnasional ini. Mereka sudah berani secara terang-terang dan lantang dalam menyebarkan doktrinnya yang sewaktu-waktu dapat memicu api peperangan antar tunas bangsa. Jika NU, Muhammadiyah dan seluruh elemen bangsa tidak sadar akan bahaya ideologi ini lantas siapa yang mau peduli ?

Wocoen   Saya dan Banyak Orang Mungkin Pernah Bersikap Humblebragging

D. UPAYA NU DALAM MENGHADANG IDEOLOGI TRANSNASIONAL DI ERA MILENIUM

    Setelah pergerakan Ideologi Islam Transnasional kian nampak di permukaan, NU kini mulai sadar akan bahaya ideologi luar ini, sehingga para kyai dan intelektual NU mulai menggalakan pentingnya faham Aswaja dan Hubbul wathan. KH. Nuril Huda selaku mantan ketua PP LDNU Mengatakan “bahwa sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia yang berfaham Aswaja, NU merasa perlu untuk segera melakukan gerakan-gerakan nyata dalam rangka penyelematan terhadap paham yang sudah diyakini kebenarannya selama ini. Jika tidak, katanya, tidak ada jaminan sepuluh tahun mendatang  ajaran moderat yang terkandung dalam Aswaja akan hilang dan tergantikan oleh paham lain”. perkataan KH. Nuril Huda memang benar bahwa untuk membendung ideologi Islam Transnasional perlu gerakan nyata, namun jika gerakan ini hanya dilakukan oleh kaum nahdhiyin semata maka akan sangat berat. Oleh karenanya perlu dukungan dari pemerintah dan masyarakat. NU dan Muhammadiyah jangan sampai terjatuh dalam lubang masalah furu’iyah yang sebenarnya masalah ini sudah dibahas tuntas oleh lembaga Bathsul Masail maupun Majlis Tarjih. Kedua Ormas ini harus saling bahu – membahu mengawal Indonesia dari gempuran faham Islam Transnasional maupun Islam Radikal lantaran NU dan Muhammadiyah merupakan salah satu Fouding Father negeri ini.

     Perkataan KH. Nuril Huda diatas dikuatkan oleh As’ad Said Aly dalam bukunya Ideologi gerakan pasca reformasi mengatakan bahwa “sekalipun NU tradisi dan pemikiran politiknya selalu berubah sesuai tantangan yang dihadapi, namun pandangan dasarnya adalah tetap, bahwa prinsipnya negara dan pemerintah wajib ditaati dengan catatan sepanjang syariah dijamin dan kekufuran dicegah. Hal ini berbeda dengan ideologi transnasional yang selalu bertentangan dengan undang undang dasar pemerintahan bahkan sangat jauh dari nilai nilai islam yang melekat pada masyarakat indonesia umumnya”. Hal ini dapat disimpulkan bahwa dari awal mula berdirinya NKRI NU selalu mendukung akan UUD 45 dan Pancasila sebagai filsafat negera, serta menolak mentah-mentah model pemerintahan ala islam, maka tak mengherankan jika salah satu keputusan Muktamar NU di Situbondo pada tahun 1984 menyatakan bahwa NKRI dianggap final, bagi NU Indonesia bukanlah negara Sekuler serta bukan pula negara Agama.

E. MENDUNIAKAN NAHDLATUL ULAMA SEBAGAI SALAH SATU STRATEGI MELAWAN IDEOLOGI TRANSNASIONAL

     Ideologi Islam Transnasional rupanya berkembang sangat pesat sejak awal era millennium hingga sekarang lantaran pemerintah membiarkan penyebarannya sehingga kian menjamur hampir disebagian kota di Indonesia. Apalagi setelah mucul kasus dugaan penistaan agama pada 2016 silam oleh gubernur petahana basuki cahaya purnama, Para pengusung ideologi impor ini mendapat ruang yang luas bahkan menunjukan taring mereka. Tak sedikit dari Kyai NU dan kaum Nahdhiyin mendapat cemoohan dari mereka bahkan hingga membidahkan amalan kaum Nahdhiyin. Para pengusung ideologi impor ini terjangkit amnesia bahwa NU senantiasa mengawal bangsa yang besar ini dari awal kemerdekaan hingga kini.

Wocoen   Menakar Rasa Cinta Tanah Air

    Fenoma menjamurnya Ideologi Islam Transnasional ini membuat NU siap menabuh genderang perangnya. Namun NU tidak pernah melancarkan serangan terhadap musuhnya dengan kebencian dan menyulut api peperangan. Bukan NU namanya kalau tidak pandai memainkan strategi perang nan cantik mulai dari memecah belah barisan musuh dan mempromosikan wajah islam nan damai dan sejuk. Maka tidak heran sejak Almarhum KH. Ahmad Hasyim Muzadi menjadi Sekjen ICIS (International Conference of Islamic Scholars), beliaulah yang tak henti-hentinya menyerukan perdamaian dan pentingya kerukunan umat beragama bahkan mengenalkannya dari satu negara ke negara yang lain. Inilah sebenarnya visi NU dalam menyebarkan Islam Rahmatan Lil Alamin ke seluruh dunia, hal inipun termaktub dalam Al-Quran

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ

 عَلَيْكُمْ شَهِيدًا (سورة البقرة : 142)

dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu” (QS : Al-Baqarah ; 142)

     As’as Said Ali menegaskan bahwa yang Termasuk dalam sikap Wasathiyah adalah prinsip Tasamuh, Tawazun, dan Tawasuth, dan Al-adalah serta Ta’awun. Para ulama juga mengajarkan tiga prinsip persaudaraan yakni Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniyah, Ukhuwah Basyariyah. Inilah sebeneranya konsep dakwah yang disebarkan NU kepada masyarakat yaitu dengan melalui jalan damai tanpa adanya peperangan maupun permusuhan, sehingga tak sedikit dari negara timur tengah bahkan Negara-negara eropa yang tertarik dengan gagasan ala NU. Selama prinsip dan gagasan NU tidak melanggar konstistusi negara maka patut kita dukung, lebih-lebih malah membawa maslahat bagi keutuhan bangsa dan negara. Oleh karenanya tidak mengherankan jika Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari menegaskan : “ Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama, dan keduanya saling menguatkan”. Semua prinsip dan gagasan tersebut tidak akan mampu menciptakan Wajah Islam nan sejuk jika tidak didukung oleh kaum Nahdiyin, Muhammadiyah, pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Semoga allah senantiasa menjaga negeri ini dan menjadikannya sebagai Baldatun Thoyyibatun sehingga semua umat beragama dapat hidup rukun dan damai.

Refrensi :

Muhammad Bagus Ainun Najib
Muhammad Bagus Ainun Najib Putra seorang petani bawang merah asal Brebes, suka nglayab dan sekarang sedang menempuh magister Pendidikan Bahasa Arab di UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.