Nuansa Pendidikan

Warna warni pendidikan di negara kita tercinta ini layak untuk dijadikan sebagai bahan diskusi bersama. Menurut Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan kita, mengutarakan bahwa pendidikan adalah suatu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya ialah bahwa pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik agar sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya.

Sedangkan arti pendidikan dalam KBBI, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Namun implementasi kurikulum pendidikan kita, belum ada ciri-ciri setelah menjadi insan yang berpendidikan kita akan selamat dan bahagia seperti kata Bapak Pendidikan. Pun kita masih belum bisa didewasakan oleh pendidikan sebagaimana menurut KBBI.

Sejarah kurikulum pendidikan kita berawal pada tahun 1947 dengan istilah Rentjana Pendidikan hingga kini menjadi Kurikulum K 13. Hampir setiap 5 tahun sekali atau pergantian kepemimpinan kurikulum pendidikan berubah.

Sebagai contoh sistem pendidikan di negara-negara maju. Contohnya sistem pendidikan di Jepang memiliki kemiripan dengan sistem pendidikan di negara kita yang jenjang pendidikannya melalui 4 tahap secara umum, yaitu 6-3-3-4.

Artinya siswa harus melewati 6 tahun untuk tahap pendidikan dasar, 3 tahun Sekolah Menengah Pertama, 3 tahun Sekolah Menengah Atas, dan 4 tahun Perguruan Tinggi. Sistem pendidikan ini diterapkan pada tahun 1947 setelah perang Dunia II berakhir, lalu terbit kebijakan pendidikan di Jepang (Japan educational Law).

Sedangkan untuk kurikulum yang dipakai di negara Jepang sama halnya seperti negara kita. Ada perubahan-perubahan kurikulum untuk menyesuaikan dengan keadaan zaman.

Salah satu kurikulum pendidikan Jepang yang menarik di tahun 2001 Kementerian Pendidikan Jepang mengeluarkan rencana reformasi pendidikan di Jepang yang disebut sebagai ”Rainbow Plan”. Isi Rainbow Plan meliputi mendorong pengembangan kepribadian, menjadikan lingkungan belajar yang menyenangkan dan jauh dari tekanan, menjadikan sekolah atau perguruan tinggi sebagai tempat belajar yang dipercaya oleh orang tua peserta didik dan melatih dewan pengajar untuk menjadi guru atau dosen yang profesional.

Sistem yang hampir sama antara pendidikan Jepang dan Indonesia namun tidak pada kurikulumnya. Di negara kita ini memfokuskan pada logika dan penilaian pelajaran sebagai hasil final pendidikan atau kelulusan peserta didik.

Sedangkan di Jepang lebih difokuskan pada pengembangan watak kepribadian dalam kaitannya terhadap kehidupan sehari-hari dan penilaian ditentukan oleh guru atau dosen kelas dengan melihat kinerja belajar siswa sehari-hari sebagai penentu kelulusan.

Sistem pendidikan Jepang jika dikaitkan dengan pendidikan versi Ki Hajar Dewantara sangat relevan. Sebagai contoh tujuan pendidikan Bapak Pendidikan kita adalah sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya, selamat dan bahagia.

Kepribadian kita misalnya dalam kemampuan menjaga hubungan sosial, humanis, kiranya bisa menjadi modal kita membangun titik-titik jaringan untuk bergerak melanjutkan alur kehidupan. Watak jika diartikan adalah batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, budi pekerti, atau tabiat.

Dari analisis di atas bisa disimpulkan bahwasanya pendidikan kita hanya terpaku pada nilai dan logika, menjadi PR tersendiri bagi kita kaum terpelajar ketika masa menduduki posisi dalam pemerintahan nanti. Kita bisa berkaca kepada sistem pendidikan negara-negara maju yang bisa diterapkan di negara tercinta kita ini.

About Muhammad Abdul Rohman 1 Article
Seorang mahasiswa unwaha yang lahir di Lampung pada 9 Juli 1999 dan beralamat di Jombang

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.