Dedi Mumtazul Umam Seorang mahasiswa di Yogyakarta yang berasal jombang.

Ospek Kok Bentak-Bentak? Gak Zaman!

Dedi Mumtazul Umam 2 min read 11 views

Beberapa hari ini saat saya scrolling medsos, entah itu Instagram, Twitter, dan media sosial lainnya, hampir selalu menemukan trending topic yang sedang dibahas para warganet. Saya yakin kalian juga pasti tahu apa topik itu. Tidak lain lagi yang dibahas adalah tentang ospek. Memang tidak salah kalau akhir-akhir ini warganet sedang marak membahasnya. Sampai menjadi trending kesekian di Twitter karena sekarang ini memang sedang musim masuknya para mahasiswa baru (maba) di berbagai universitas di Indonesia.

Postingan feed Instagram biasanya yang ramai saat musim ospek seperti ini. Mulai dari postingan twibbon dari masing-masing universitas, fakultas, serta jurusan mereka. Lalu juga ada feed tentang tugas video yang isinya tentang perkenalan, alasan masuk di jurusan tersebut, dan juga tentang hal lain yang berkaitan dengan itu.

Namun ada yang berbeda ospek pada tahun ini jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya tidak lain lagi karena adanya pandemi Covid-19 yang sudah beberapa bulan ini melanda berbagai kawasan di dunia. Khususnya di negara kita Indonesia yang sampai detik ini masih belum reda juga sehingga beberapa kegiatan yang diadakan masyarakat juga akan berbeda dengan saat sebelum terjadi pandemi ini. Salah satunya yaitu kegiatan ospek ini. Karena pemerintah masih mengimbau untuk melakukan physical distancing, juga selalu menaati protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Mau tidak mau kegiatan ospek yang biasanya dilakukan secara tatap muka kali ini harus dilaksanakan secara online.

Ospek biasanya menjadi acara yang mendebarkan bagi para maba. Salah satu konsep yang terkenal di kalangan mahasiswa dari kegiatan tersebut adalah ‘uji mental’ yang diberikan kating atau panitia ospek. Kalau dipikir-pikir sudah tidak mungkin seperti itu terjadi karena dilaksanakan secara online. Namun, ternyata ada juga ospek online dari suatu universitas itu masih tetap dilaksanakan dengan konsep tersebut dengan berbagai cara. Salah satunya adalah membentak para maba yang ‘dianggap’ melanggar peraturan pada acara tersebut.

Wocoen   Mengelola Perguruan Tinggi Kini dan Masa Depan Berbasis Hati Nurani

Ada juga suatu kejadian pada saat ospek online yang kemarin hari viral di medsos, yaitu seorang maba yang dibentak oleh panitia ospek dikarenakan tidak mengenakan ikat pinggang. Panitia tersebut juga menuduh maba tersebut tidak membaca peraturan yang telah dibuat oleh panitia. Padahal, setelah diteliti lagi ada ketentuan mengenai ikat pinggang di peraturan ospek tersebut bahwa mengenakan ikat pinggang pada waktu ospek online tidak diwajibkan. Nah, sekarang yang gak baca peraturan siapa tuh?

Coba kita ingat-ingat kembali. Sebenarnya, tujuan diadakannya ospek kepada para mahasiswa baru untuk apa sih? Kalian semua pasti tahu tujuan diadakannya ospek itu apa. Bahkan yang belum pernah kuliah pun tahu bahwa tujuan diadakannya ospek adalah sebagai pengenalan. Baik itu pengenalan universitas, kampus, jurusan, maupun dunia perkuliahan. Lantas, mengapa ada pembentakan yang ‘disisipkan’ di dalamnya? Ada dari oknum-oknum tersebut yang beralasan bahwa hal tersebut bertujuan untuk menguji mental para maba. Ada juga yang berdalih untuk menjadikan mereka lebih disiplin dan bertanggung jawab.

Padahal jika kita pikir lagi, masih banyak hal lain yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut dengan cara yang jauh lebih baik, bermanfaat dan lebih dapat diterima oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Misalnya, untuk membentuk kedisiplinan para maba dengan memberikan mereka tugas yang tidak terlalu berat, namun dengan memberikan deadline tertentu. Kemudian jika ingin membentuk rasa tanggung jawab mereka misalnya dengan memberikan projek berkelompok atau menugaskan mereka membuat suatu acara yang panitianya itu dari mereka. Dengan menjadi seorang panitia pasti di situ banyak pelajaran dan manfaat yang dapat mereka peroleh. Salah satunya adalah terbentuknya rasa tanggung jawab.

Wocoen   Hubungan Dunia Akademisi dengan Tradisi Menuangkan Ilmu

Budaya semacam ‘pembentakan’ tersebut alangkah baiknya tidak dilanjutkan sampai turun-temurun. Jika kalian sebagai kakak tingkat tidak mau memutus atau mengubah budaya tersebut, siapa lagi yang akan membuat perubahan? Jika kalian masih memendam dendam atau rasa tidak terima atas perlakuan kakak tingkat kalian dahulu, mau sampai kapan setiap maba menerima akibat itu? Kalian pasti lebih dewasa dari para maba yang baru masuk itu. Baik dari segi pemikiran dan aspek-aspek lain. Jadi, pasti tahu mana yang baik dan mana yang lebih baik lagi. Maka, ajarkan hal yang baik kepada adik tingkat kalian, agar nantinya adik tingkat itu juga akan mengajarkan hal yang baik kepada maba selanjutnya.

Dedi Mumtazul Umam
Dedi Mumtazul Umam Seorang mahasiswa di Yogyakarta yang berasal jombang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.