Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Paksaan dalam Pendidikan

Muhamad Isbah Habibii 2 min read 12 views

Kenapa banyak sekolah di Indonesia yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap “pemaksaan” anak didiknya? Hingga paksaan itu beradaptasi sedemikian rupa sampai tidak lagi disebut sebagai “kekerasan”, demi terus sesuai dengan zamannya.

Jawaban pertama adalah, tidak adanya rasa butuh dari anak didik itu sendiri terhadap belajar. Rasa butuh dan ingin belajar itu justru datang dari orang lain, yang lalu rasa butuh dan ingin tadi “dipaksakan” kepada anak tadi.

Ketidakjelasan makna sekolah itu sendiri di mata anak juga menjadi penyebab kenapa anak tidak memiliki keinginan untuk belajar. Karena banyak anak yang berpikiran bahwa yang dinamakan bersekolah adalah datang ke sekolah itu sendiri. Bahkan, aktivitas belajar tidak dianggapnya sebagai esensi dari bersekolah.

Kesalahpahaman akan konsep bersekolah yang dimiliki oleh anak didik inilah yang membuat ia kelak akan kecewa. Karena berbedanya realitas dengan angan dia selama ini.

Konsep yang salah ini pula yang membuat anak didik merasa bahwa ia suka bersekolah namun tidak suka jika ada jam pelajaran. Kesenangan akan jam kosong menunjukkan bahwa keinginan belajar tidak datang dari dalam anak didik tersebut.

Orang tua dan guru di jenjang paling bawah lah yang memiliki tanggung jawab ini. Tanggung jawab dalam mengenalkan apa makna dibalik konsep bersekolah. Juga tanggung jawab dalam meluruskan kesalahpahaman dalam konsep bersekolah.

Sedangkan tanggung jawab terberat adalah merawat rasa penasaran alami yang dimiliki oleh setiap anak didik. Hingga rasa penasaran inilah yang akan menjadi pondasi dari rasa butuh dan ingin belajar yang benar-benar murni datang dari anak didik itu sendiri.

Ketika rasa butuh sudah benar-benar ada dan dimiliki oleh anak didik, maka pemaksaan sendiri pun sudah tidak diperlukan. Sebab rasa butuh, ingin dan perlu itu sendiri lah yang akan membuat anak didik aktif dalam kegiatan belajar. Tugas guru selanjutnya hanya mengingatkan saja ketika anak tadi lupa bahwa ia lah yang butuh akan kegiatan belajar ini.

Jawaban kedua, sekolah atau guru terlalu termakan ambisi dalam usaha mengajari anak didiknya. Ambisi ini bisa dipicu oleh paksaan dari sistem sekolah yang tujuannya untuk mencetak “orang pintar” tanpa mau peduli anak didiknya tertekan atau tidak. Bisa juga ambisi ini lahir dari rasa egois si guru agar si guru ini dapat turut panjat sosial ketika kelak semua muridnya berhasil menjadi orang yang pintar.

Termakan ambisi inilah yang lalu membuat si guru jadi terburu-buru dalam menggapai ambisinya. Jalan-jalan pintas akhirnya jadi pilihan yang menggiurkan, dan pemaksaan lah jalan pintas itu.

Ujungnya, anak didik lah menjadi korban, hingga pemaksaan-pemaksaan itu begitu dirasakan. Hingga nuansa belajar jadi penuh keterpaksaan. Bahkan bagi mereka yang tidak tahan ketika dipaksa, akhirnya memberontak dengan sengaja tidak ikut serta dalam proses belajar.

Jawaban ketiga, adanya rasa terpaksa yang juga dirasakan oleh penyelenggara pendidikan dan pembelajaran itu sendiri. Pihak sekolah yang memiliki rasa terpaksa, menyebabkan guru menjadi memiliki rasa terpaksa, guru yang merasa terpaksa menyebabkan anak didik pun juga merasa terpaksa.

Lingkaran setan keterpaksaan ini akan terus berlanjut hingga ujung tertinggi dalam hierarki politik pendidikan memiliki kesadaran bahwa pendidikan bukan soal pemaksaan. Pendidikan harusnya menjadi ajang untuk memanusiakan manusia. Untuk memanusiakan manusia adalah memenuhi hak-haknya, salah satu hak dari masing-masing manusia adalah mendapatkan pendidikan yang layak.

Jadi, dalam memenuhi hak-hak manusia yang berupa pembelajaran dan pendidikan ini tentu tidak benar jika diwarnai dengan pemaksaan. Sebab itu, ketulusan perlu dibentuk mulai dari hierarki teratas pendidikan, yang lalu disusul oleh mereka yang berada di tingkatan-tingkatan di bawahnya.

Tujuan dari hilangnya keterpaksaan dalam dunia pembelajaran dan pendidikan adalah pendidikan dan pembelajaran yang tidak lagi menakutkan. Lucu dan menarik tidak lagi dipaksa jadi esensi dari kegiatan mengajar dan mendidik. Rasa terpaksa pun tidak pernah dimiliki lagi oleh anak didik hingga ia tidak lagi pernah merasa terbebani dan tertekan.

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.