Pencinta Sepak Bola

“Besok, aku akan pulang. Apa kau ada pesanan?” tanyamu, dari sebuah negara yang jauh di seberang sana, lewat sambungan telepon, kemarin.

“Tak usah repot-repot. Yang penting, kau sampai di sini dengan selamat,” balasku, dengan sesungguh-sungguhnya.

Kau lantas mendengkus. “Sebutkanlah apa yang kau mau. Jangan sungkan-sungkan. Mumpung aku ada di sini.”

Dalam sejenak, aku pun menimbang-nimbang desakan tawaranmu. Tetapi akhirnya, aku hanya membalas seperti biasa, “Asal kau bawa oleh-oleh saja. Terserah. Tak perlu yang mewah-mewah.”

Kau lalu tertawa pendek. “Baiklah kalau begitu.”
Demikianlah selalu bentuk sikapmu terhadapku.
Selama ini, kau memang sangat memerhatikan diriku sebagai adikmu. Kau seolah merasa tidak bahagia jikalau aku tidak bahagia. Karena itu, kau selalu berusaha menyenangkan perasaanku, termasuk dengan membawa beragam oleh-oleh untukku setiap kali kau pulang dari tempat kerjamu di kota seberang, atau ketika kau pulang selepas melaksanakan tugas perusahaanmu di luar negeri.

Tentu saja aku merasa sangat beruntung memiliki kakak sepertimu. Kau mampu mengesankan kepadaku bahwa keadaan kita yang hanya dua bersaudara, di tengah kedua orang tua kita yang telah meninggal, sama sekali tak patut membuatku merasa terasing. Kau senantiasa memastikan kehadiranmu sebagai tempat peraduan bagiku, di tengah kenyataan hidupku yang malang.

Kita memang berbeda dalam soal nasib. Kau berhasil menjadi seorang sarjana ekonomi, sebab waktu itu, ayah kita masih hidup dan menjamin biaya kuliahmu. Karena itulah, kau berhasil menjadi karyawan di sebuah perusahaan otomotif. Sedangkan sebaliknya, aku hanya tamatan SMA, sebab ayah kita meninggal, menyusul ibu kita, ketika aku masih kelas II SMA. Sebab itulah, sampai kini, aku hanya fokus menjaga sepetak kebun peninggalan orang tua kita yang sempit.

Namun soal nasib penghidupan kita yang berbeda, bukan saja karena faktor pendidikan, tetapi juga karena faktor keadaan fisik. Sedari dahulu, aku hanya punya dua cita-cita: menjadi seorang tentara, atau menjadi seorang pemain sepak bola. Keduanya bisa kugapai tanpa harus menjadi seorang sarjana. Tetapi akhirnya, aku tak berhasil juga pada keduanya. Itu karena langkah kakiku tak lagi normal setelah aku terjatuh dari ketinggian.

Peristiwa mengenaskan yang menutup jalan mimpiku itu, terjadi sepuluh tahun yang lalu, saat aku duduk di bangku kelas VI SD. Kala itu, aku tengah berada di atas puncak tangga bambu untuk memetik buah cengkih di kebun orang tua kita. Lalu tiba-tiba saja, aku kehilangan konsentrasi, dan terjatuh. Sisi kaki kananku mendarat keras lebih dahulu, hingga pergelangan kakiku terkilir hebat.

Nahasnya, pada saat itu, aku tak segera mendapatkan penanganan medis kerena puskesmas atau rumah sakit jauh dari perkampungan. Aku hanya mendapatkan pengobatan dari seorang tukang urut yang berusaha mengatasi persoalan persendian kakiku dengan cara tradisional. Akibatnya, permasalahan kakiku tidak teratasi dengan baik, sehingga langkahku pun jadi tidak normal lagi.

Tetapi kecelakaanku itu akhirnya membuatmu iba dan merasa bersalah kepadaku. Pasalnya, peristiwa itu terjadi sebagai buntut dari sikapmu yang otoriter sebagai seorang kakak. Kau memerintahkanku memanjat tangga cengkih pemindahanmu, agar kau bisa pergi memanen dan memakan buah langsat. Aku mencoba menolak, tetapi kau mendesak dan mengancam. Karena takut pada hardikanmu yang lebih keras, aku pun menunaikannya, hingga aku menuai celaka.

Akhirnya, atas kenyataan itu, kau merasa punya andil besar terhadap jalan hidupku yang memprihatinkan. Kau menyalahkan dirimu atas diriku yang berjalan berjengket-jengket dan kehilangan harapan untuk menjadi seorang tentara atau pesepak bola. Karena itulah, sepanjang waktu setelah kejadian itu, kau senantiasa berupaya membuatku senang, seolah-olah kau memiliki kesalahan besar kepadaku, yang terus berusaha engkau impaskan.

Namun di balik tabir rahasia, kau tak sepantasnya merasa begitu bersalah atas kenyataan hidupku. Akulah yang sepatutnya menyalahkan diriku sendiri. Itu karena petaka tersebut terjadi akibat keisengan dan keteledoranku juga. Di luar pemantauanmu, aku yang ogah-ogahan melaksanakan perintah, nekat bergelantungan dengan sarung, sembari asyik menonton rekaman permainan sepak bola yang dilakoni tim dan pemain idolaku di layar ponsel. Sampai akhirnya, tanpa kukira, kaitan sarung ayunanku lucut dari anak tangga, hingga aku terjatuh.

Tetapi sampai saat ini, aku tak pernah mengungkapkan kepadamu atau kepada siapa pun perihal sebab musabab di balik kejatuhanku itu. Pada awalnya, aku sengaja menutupinya, agar aku yang celaka, tidak malah disalahkan. Namun pada waktu-waktu kemudian, aku tak sanggup lagi untuk mengubah kesaksian awalku. Sampai akhirnya, kau dan orang-orang tetap percaya bahwa aku terjatuh karena berusaha menggapai buah cengkih yang jauh di sisi sampingku, hingga dengan begitu saja, pegangan tanganku dan kaitan sarungku terlepas dari tangga.

Atas pemelintiranku terhadap fakta yang sesungguhnya, diam-diam, aku pun merasa bersalah kepadamu. Apalagi, di awal kejadian itu, hingga waktu yang panjang setelahnya, kau terus disalahkan oleh orang tua kita, sebab mereka menilai bahwa kau telah salah memerintahkanku mengerjakan pekerjaanmu. Dan sebaliknya, aku malah terus mendapatkan perhatian mereka, sebab mereka menilai aku sebagai korban kesemena-menaanmu.

Kenyataan itu tentu membuatku merasa berdosa kepadamu. Aku merasa telah menzalimimu. Tetapi sampai kini, aku berpikir sebaiknya tetap merahasiakan cerita yang sesungguhnya. Itu karena aku merasa sudah sangat terlambat untuk mengungkapkan versi yang benar perihal kronologi kecelakaanku. Terlebih, atas rahasia itu, aku merasa bahwa kau akan punya ikatan yang erat terhadapku. Kau akan merasa bertanggung jawab untuk selalu menyayangiku.

Meski begitu, aku tidak bermaksud untuk memperdaya dan mamperalatmu. Aku sama sekali tak punya niat untuk membebanimu. Aku bahkan sudah sering memesankan agar kau berhenti menyalahkan dirimu dan berhenti mencemaskan diriku. Tetapi yang kuinginkan dari rahasia itu adalah kita tetap saling menyayangi dan mengasihi sebagai kakak-adik, meski landasannya termasuk karena ikatan emosional di balik peristiwa kecelakaanku itu.

Akhirnya, atas rahasia besarku itu, aku berharap kita tetap saling mengasihi dan menyayangi bukan karena perbedaan nasib hidup kita semata. Dengan begitu saja, aku berharap kita tetap saling berbagi kebahagiaan kerena kita memang harus saling membahagiakan sebagai kakak-adik, entah dengan atau tanpa perkara kesuksesan hidupmu dan kegagalan hidupku.

Dan kini, di tengah menunganku tentang kita, saat menjelang sore, penantianku atas kerinduanku pun bersambut. Kau akhirnya muncul dari balik pintu dengan rupa yang cukup berubah selepas perpisahan kita selama hampir setahun. Kau datang sembari membawa sebuah koper yang kutaksir berisi oleh-oleh yang menyenangkan untukku, seperti sebelum-sebelumnya.

Sesaat kemudian, setelah kita berbagi cerita perihal kehidupan kita masing-masing di sepanjang waktu perpisahan, kau akhirnya membuka koper bawaanmu. Kau kemudian mengeluarkan sekotak ponsel pintar dengan merek ternama, lalu menyodorkannya kepadaku, “Ini ponsel baru untukmu. Aku kira, kau perlu mengganti ponselmu.”

Aku lantas menerima pemberianmu dengan perasaan senang. “Terima kasih.”

Kau mengangguk dan tersenyum. “Itu ponsel versi mutakhir yang sangat cocok untuk bermain gim. Kau masih suka bermain gim sepak bola, kan?”

Aku pun mengagguk keras. “Tentu saja.”

Dalam beberapa saat, kau terus mengurai oleh-oleh yang lain untukku. Ada beragam camilan, beberapa buah cendera mata, serta pakaian-pakaian bermerek. Hingga akhirnya, kau pun mengeluarkan satu seragam sepak bola milik klub andalanku sedari dahulu. “Ini spesial untukmu.”

Aku sontak menyambut sodoranmu dengan perasaan gembira. “Terima kasih.”

“Pakailah,” pintamu.

Dengan penuh ketakjuban, aku pun lekas mengurai lipatan baju seragam pemberianmu. Lalu seketika, aku melihat nama pemain andalanku tercetak di sisi punggungnya. Dan seketika pula, aku mendapati sebuah tanda tangan di bawah sisi namanya. Sebuah tanda tangan yang kutafsir sebagai bubuhan asli dari sang pemain jagoanku sedari dahulu, yang sungguh kugilai, hingga aku menuai petaka yang membuat langkahku pincang.

“Aku menemuinya secara langsung, untukmu, di tengah perjalananku,” terangmu.

Dengan begitu saja, aku menangis dan memelukmu erat-erat. “Terima kasih,” balasku.***

 

Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Ramli Lahaping 1 Article
Lahir di Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.