Hamdani Mubarok Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Pendekatan Fikih dan Konsekuensi Keulamaan Kita

Hamdani Mubarok 2 min read 36 views

Dalam beberapa tahun terakhir, ulama-ulama kita seringkali sibuk berdebat perihal fikih (syari’at). Perdebatan tersebut, terutama berkaitan perihal masalah khilafiyah. Pada akhir bulan Desember, perdebatan keagamaan kita seringkali berkutat masalah boleh tidaknya seorang muslim mengucapkan selamat natal. Pada awal tahun baru perdebatan kita seringkali berkutat perihal boleh tidaknya merayakan tahun baru. Pada pertengahan bulan Februari perdebatan kita berkisar boleh tidaknya umat Islam merayakan valentine.

Sebenarnya perdebatan Fikih sah-sah saja. Ulama-ulama kita sejak lama sudah terbiasa dengan perdebatan fikih. Perdebatan ini bahkan berlangsung dengan disaksikan banyak orang, dalam forum-forum ilmiah yang elegan. Disaksikan oleh penguasa setempat. Dalam berbagai kasus, perdebatan ini biasanya sampai menghasilkan berjilid-jilid buku yang berisi saling kritik antara satu ulama dengan ulama lain.

Meskipun perdebatan mereka berbasis fikih, ulama-ulama dulu tidak pernah sampai pada titik tidak saling menghormati. Sebuah perdebatan fikih mungkin dilakukan dengan sangat keras, namun seringkali perdebatan tersebut juga dibumbuhi sikap saling menghargai pendapat satu ulama dengan ulama lain. Dalam bahasa yang umum, mereka berdebat dan tetap berakhlak. Sebuah sikap yang hilang dalam perdebatan fikih zaman sekarang.
Fikih seringkali dipandang sebagai hal yang berada jauh dengan akhlak. Fiqh ya fiqh, akhlak ya akhlak. Umat Islam masa kini seringkali terlalu permisif untuk melihat orang-orang ahli fikih yang tidak memiliki akhlak yang cukup. Termasuk untuk tetap menjadi pengikut setia mereka yang ahli fikih, tapi kurang berakhlak sebagai ulama.

Perhatian utama umat Islam pada hukum fikih ini kemudian seringkali menjebak kita untuk selalu melayani perdebatan fikih yang mereka tawarkan. Dan demi menjaga “keunggulan” ulama-ulama pesantren dalam dunia dakwah Islam di Indonesia, ulama pesantren seringkali terbawa arus fikih yang sedang mengalir deras. Perdebatan-perdebatan fikih yang banyak terjadi diantara masyarakat kita ini kemudian memaksa kita untuk ikut merubah tolak ukur keulamaan yang selama ini telah dipegang ketat oleh kyai-kyai pesantren.

Jika sebelumnya pengertian ulama selalu mensyaratkan akhlak dan kemanfaatan bagi sekitar, maka kini definisi ulama bergeser menjadi yang paling banyak menghafal dalil agama, yang paling bagus retorika keagamaannya, atau, yang paling parah, yang paling banyak pengikutnya. Dengan kecenderungan untuk melihat semuanya dari sudut fikih, kita kemudian dipaksa untuk memetakan kira-kira ada berapa banyak dalil fikih yang dihafal oleh ulama-ulama kita.

Pendekatan ini, memaksa banyak dari kita untuk repot-repot mencari bukti tentang jumlah penguasaan dalil keagamaan ulama-ulama pesantren. Dalam beberapa kesempatan, saya pernah mendengar muballigh NU menunjukkan kualitas penguasaan dalil yang dikuasai ulama pesantren. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan tingkat keulamaan kyai-kyai di pesantren. Lagi-lagi, ini demi “melayani” serangan dari sudut fikih yang biasa dilakukan orang-orang Islam baru.

Tolak ukur fikih ini, tanpa disadari telah “menyingkirkan” ulama-ulama kita yang jarang menunjukkan kualitas hafalan dalilnya. Hal ini juga telah menyingkirkan banyak ulama yang sebenarnya menjadi tidak kurang dianggap sebagai ulama. Mereka adalah kyai-kyai kampung yang pengetahuan keagamaannya, maaf, mungkin tidak sedalam para alumni perguruan tinggi di Timur Tengah namun mereka memiliki akhlak yang agung serta kemanfaatan yang terasa diantara jamaah di sekitar mereka.

Mereka yang telah bertahun-tahun mengajar anak-anak cara melafazkan alfatihah dengan benar. Mereka yang memperkenalkan dua puluh sifat wajib dan mustahil bagi Allah, mereka yang telah memperkenalkan empat sifat wajib dan mustahil bagi Rasul, dengan pendekatan fikih ini, mereka dengan sendirinya berada di luar dari kategori ulama yang kini digandrungi oleh umat Islam.

Kegandrungan akan fikih ini kemudian seringkali menjebak kita untuk selalu menanyakan apa dalilnya. Setiap amalan agama yang tidak memenuhi standard fikih kemudian disingkirkan. Setiap pengamal yang tidak memiliki dasar fikih yang kuat disesat-sesatkan. Yang jauh lebih ironi, cara menerima dalil pun kerapkali hanya sepotong-sepotong. Kegandrungan akan fikih ini juga membuat umat Islam semakin mencintai simbol-simbol fikih lalu menganggapnya sebagai satu-satunya tolak ukur agama. hingga memunculkan anggapan yang seakan-akan yang tidak fikih berarti tidak Islam. Termasuk dalam bernegara.

Tolak ukur fikih ini, meskipun tidak bisa dianggap salah, namun perlu untuk tidak dianggap sebagai satu-satunya. Saat ulama-ulama kita hanya terpaku pada melayani perdebatan fikih, maka bukan sangat tidak mungkin kedepannya santri-santri kita akan lupa bahwa tolak ukur utama keulamaan seseorang bukan hanya fikih. Jika kita sudah terjebak dalam cara berpikir hanya sebatas fikih, maka bukan sangat tidak mungkin akhlak hanya akan menjadi sebatas cerita ulama-ulama masa lalu. Diceritakan, tapi tidak pernah ditiru. Na’uzubillah.

Pengalaman Islam yang telah melewati beratus-ratus tahun di Indonesia telah mengukuhkan pemahaman kita bahwa, ukuran keulamaan bukan diukur dari banyak sedikitnya dalil keagamaan yang dihafal. Ukuran keulamaan justru lebih pas jika diukur dari kemanfaatan mereka. Itulah mengapa para wali songo lebih suka menyampaikan ajaran Islam melalui kebudayaan daripada pengumpulan berbagai macam dalil, meski para wali songo itu telah menghafalnya. Mereka lebih banyak memakai tembang daripada menyebutkan dalil-dalil. Sulit bagi kita untuk membayangkan apa jadinya nasib Islam di Indonesia jika sejak awal tolak ukur keulamaan hanya diukur dari banyak sedikitnya dalil yang dihafal. Mungkin Islam di Indonesia tidak akan berkembang sepesat sekarang.

Karena itulah, penting bagi kita untuk tidak terlalu jatuh dalam pendekatan fikih, agar umat Islam di masa depan tidak “terjebak” dalam pendefinisian ulama yang hanya sebatas ahli fikih.

Hamdani Mubarok
Hamdani Mubarok Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.