Muhammad Bagus Ainun Najib Putra seorang petani bawang merah asal Brebes, suka nglayab dan sekarang sedang menempuh magister Pendidikan Bahasa Arab di UIN Maliki Malang.

Pendidikan Islam: Sebuah Upaya untuk Memperbaiki Moral Bangsa

Muhammad Bagus Ainun Najib 2 min read 0 views

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia dan negara dengan tingkat kelahiran yang tinggi, oleh karenanya Indonesia memiliki generasi muda yang melimpah sebagai harapan untuk membangun bangsa. Masyakat Indonesia sebagai bangsa timur sangat menjunjung sopan santun dalam berkomunikasi dan bertindak, namun kemajuan teknologi dan perubahan zaman mengubah cara berfirkir masyarakatnya, sehingga tak sedikit dari mereka meninggalkan adat ketimuran, akibatnya terjadilah dekadansi moral, maraknya tindak kriminal, dan menjamurnya korupsi. Maka Pendidikan sangat dibutuhkan untuk dapat mengimbangi era tinggal landas ini.

   Pendidikan menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Dengan adanya sistem pendidikan yang bagus maka dapat mencetak generasi emas yang berguna bagi bangsanya. Namun apakah pendidikan di Indonesia sudah sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat kita ?.

   Memang betul bahwa pemerintah sudah memperbaiki sarana dan fasilitas serta membenahi sistem pendidikan, namun out put pendidikan kita nampaknya masih jauh dari harapan. Pendidikan moral yang seharusnya menjadi ciri khas bangsa timur justru malah semakin diabaikan, akibatnya  kita tahu bahwa pendidikan yang ada pada saat ini hanya  bisa mencetak generasi yang pandai namun tidak dapat mencetak generasi yang bermoral dan beretika, sehingga munculah beberapa para elit politik maupun ekonomi yang berbuat sewenang-wenang bahkan tak sedikit dari mereka yang menindas rakyat kecil hanya untuk kepentingannya semata. KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam wawancaranya di NuOnline mengatakan “ konsep pendidikan kita ini dikaburkan pertama kalinya oleh kolonialis barat. Bukan hanya rakyatnya saja tapi juga menginjak-injak sistem pendidikan kita,”, Beliau menambahkan tentang hilangnya nilai pendidikan di Indonesia “ bahwa akhlaqul karimah dinilai tidak penting, sebab nilainya diabaikan tak seteliti saat guru menilai pelajaran umum”. Penulis berpendapat bahwa globalisasi mempengarahui gaya hidup dan cara pandang masyarakat Indonesia, hal ini tentu berdampak pada dunia pendidikan dimana masyarakat lebih memilih pendidikan umum untuk anaknya ketimbang pendidikan agama yang syarat nilai moral.

Wocoen   Islam Adalah Agama Cinta Kasih

   Syeikh Mustafa al-ghalayini memiliki pandangan untuk menjawab tantangan pendidikan di era milenial. Beliau menulis dalam kitabnya yang berjudul “ Idzatun Nasyi’in (wejangan untuk tunas bangsa)” pada halaman 184 bahwa “ Pendidikan adalah menanamkan moral dan etika yang baik pada jiwa tunas muda, serta mendidiknya dalam naungan cinta dan kasih sehingga ia menjadi pribadi yang kuat dan berguna bagi bangsanya” . pengertian Pendidikan yang disampaikan oleh Mustafa al-ghalayaini selaras apa yang dikatakan Ki Hajar Dewantara, beliau menegaskan bahwa “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan, batin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya”.

   Maka dapat disimpulkan bahwa inti dari Pendidikan itu sendiri adalah akhlak, etika, dan budi pekerti. Apa yang diungkapkan oleh Mustafa al-ghalayini dan Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan juga merupakan ciri dari Pendidikan Islam dimana Islam sangat menjunjung tinggi nilai akhlak, etika dan moral, sebagaimana ditulis oleh Lembaga Fatwa Mesir dalam situsnya bahwa “Pendidikan Islam adalah metode Pendidikan yang bertujuan untuk mendidik tunas muda yang berakhlak dan teguh serta berguna bagi agama dan bangsanya”.

   Mustafa al-ghalayini memiliki formula untuk dapat mencetak generasi unggul dan beretika, beliau mengatakan bahwa pendidikan harus mengedepankan semanngat etos, progresifitas, kedermawanan, kesabaran, ikhlas, mendahulukan maslahat umum, kemulyaan, moral etika, dan beragama. Formula ini pada hakikatnya sudah menjadi ciri khas masyarakat timur yang telah diterapkan sejak berabad-abad lalu, dan menjadi identitas bangsa yang luhur dengan menjunjung tinggi nilai etika dan moral.

   Islam sendiri identik dengan akhlak, sehingga setiap kali kita membicarakan pendidikan Islam maka akan tertuju pada akhlak atau moral. KH Hasyim Asyari telah membahas tentang pendidikan islam dalam kitabnya Adabul Alim Wal Mutaalim yang intinya bahwa akhlak merupakan konsep utama dalam pendidikan.  Lalu bagaimana wajah pendidikan Islam yang sesuai untuk diterapkan di era modern ini ?.

Wocoen   Perempuan, Berpikir Aja Dulu

   Kita sebagai umat muslim wajib menunjukan bahwa pendidikan Islam dapat mewarnai dunia. Pendidikan islam tidak rigid namun bersifat dinamis sehingga dapat menerima akulturasi budaya dan perkembangan sains serta teknologi, maka dengan ini akan tercipta pendidikan Islam modern yang diharapkan oleh masyarakat milenial. Prof Azumardi Azra dalam wawancaranya yang tertulis dalam situs tirto.id mengatakan bahwa tujuan adanya pendidikan Islam modern adalah “orang yang didalam dirinya terintegrasi keislaman, keindonesiaan, dan kemanuisaan”.  Ketiga prinsip ini tidak boleh hilang salah satunya, jika salah satu prinsip ini hilang maka akan pincang. Prinsip ini (Keislaman- Keindonesiaan dan kemanuisaan) menjadi sebuah jembatan dalam dunia pendidikan di Indonesia dimana ketiganya saling berhubungan sehingga diharapkan dapat melahirkan generasi berkahlakul karimah yang dapat membangun bangsanya.

   Pendidikan Islam tidak dipandang sebelah mata sebagai pendidikan konvensional yang kaku dan tertinggal, namun kini menjadi pilihan masyarakat Indonesia dimana hampir di setiap kota terdapat ribuan madrasah yang tersebar diseluruh penjuru negeri. Masyarakat sadar bahwa pendidikan Islam memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang berguna untuk bangsa, oleh karenanya bisakah kita menunjukan pendidikan Islam agar tetap eksis dan dapat berkompetensi dengan dunia Internasional ? atau akankah kita hanya menjadi penonton melihat nasib pendidikan Islam terseok-seok tak diperhatikan oleh umat dan pemerintah ?

Muhammad Bagus Ainun Najib
Muhammad Bagus Ainun Najib Putra seorang petani bawang merah asal Brebes, suka nglayab dan sekarang sedang menempuh magister Pendidikan Bahasa Arab di UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.