HomePendidikanPendidikan Nalar di Pesantren
Newspaper Theme

Related Posts

Featured Artist

Kaleb Black

Painter

Kaleb started this adventure 7 years ago, when there was no real voice protecting the environment. His masterpieces promote saving the Earth.

Pendidikan Nalar di Pesantren

Pendidikan pesantren merupakan pendidikan yang cukup banyak diminati oleh masyarakat Indonesia dengan kekhasannya yakni mempunyai lulusan yang berkarakter. Namun seiring berkembangnya waktu tentunya seorang santri selain memiliki karakter yang baik juga harus mempunyai nalar yang berkembang dan cara berpikir yang logis dan benar, sehingga para santri bisa menunjukkan kompetensi keilmuannya di masyarakat. Lantas bagaimana pendidikan nalar di pesantren?

Pendidikan nalar di pesantren terkenal dengan istilah ilmu Mantiq. Ilmu ini banyak dipelajari di pondok pesantren seluruh Indonesia. Mantiq secara terminologi sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpikir yang salah. Khazanah keilmuan ini menempatkan sebuah logika untuk memutuskan suatu perkara dengan proses nalar yang logis dan benar yang sesuai dengan fakta bukan sebuah perasan.

Namun tidak dapat dimungkiri, bahwa akal pikiran manusia sangatlah terbatas. Seperti perkataan Ibnu Khaldun, bahwa akal adalah sebuah timbangan yang cermat, yang hasilnya adalah pasti dan bisa dipercaya. Tetapi dalam mempergunakan akal untuk menimbang persoalan yang berhubungan dengan keesaan Allah atau hidup di akhirat kelak, hakikat kenabian (nubuwwah), hakikat sifat-sifat ketuhanan atau yang lainnya yang terletak di luar kesanggupan akal, adalah sama saja dengan mencoba mempergunakan timbangan tukang emas untuk menimbang gunung. Ini tidaklah berarti bahwa timbangan itu sendiri tidak boleh dipertanya.

Dari pendapat tersebut dapat diketahui bahwa batasan nalar adalah terbatas pada ciptaan Allah, bukan pada dzat-Nya, hal ini sesuai dengan hadis Nabi Sallallahu alaihi wa sallam:
تفكروا في خلق الله ولا تفكروا في ذات الله
Artinya: “Berfikirlah kalian semua tentang ciptaan Allah, dan jangan memikirkan Dzat Allah. “

Dengan pendidikan nalar yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu Mantiq, maka akan dapat memperkecil terjadinya kengawuran dalam berpikir.

Dapat kita temui pendidikan nalar di pesantren tidak hanya sebatas teori saja, banyak dari kegiatan-kegiatan mereka yang orientasinya kepada pendidikan nalar. Misalnya musyawarah kitab kuning atau dalam dunia pendidikan terkenal dengan diskusi dan Bahtsul Masail. Pada kegiatan tersebut akan membentuk seorang santri untuk mempunyai nalar yang bagus, terstruktur dan logis, sebab di situ pasti akan terjadi proses pemikiran para santri dengan mempertimbangkan dari berbagai aspek sehingga akan dapat menarik kesimpulan secara valid. Di sana mereka dilatih untuk berpikir bebas yang tidak ngawur dan bebas dalam mengungkapkan pendapat secara sopan dan santun.

Begitu pentingnya ilmu nalar bagi santri di pesantren akan melahirkan karya-karya tulis yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Seperti halnya kitab monumental Imam Al-Ghozali yakni Ihya Ulumuddin. Kitab tersebut dikarang beliau selain merujuk kepada nash Al-Quran dan hadis juga beliau tulis dengan sangat logis untuk dipahami. Di sisi lain para santri yang umumnya kurang mengerti berita-berita di luar pesantren, maka dengan pendidikan nalar, para santri bisa menyaring sebuah informasi secara benar dan tidak mudah termakan isu-isu yang kurang benar.

Dengan kebebasan para santri dalam berpikir dan mengungkapkan pendapat, lantas akankah dengan pendidikan nalar tersebut membuat para santri krisis akhlak dan mengurangi sam’an watho’atan kepada kiai? Tentunya pertanyaan ini sangat kontradiksi dengan kaidah-kaidah ilmu nalar tersebut. Karena ketika santri mengetahui dasar-dasar ilmu nalar tersebut tentunya akan sam’an watho’atan kepada kiai. Misal pun ada perbedaan pendapat antara keduanya, tentu keduanya tersebut akan tetap juga saling menghormati dan menghargai perbedaan tersebut.

Menurut Imam Al Ghozali metode penarikan kesimpulan yang paling valid dalam pendidikan nalar adalah dengan qiyas.Dalam golongan ahlus sunnah wal jamaah metode tersebut digunakan setelah tidak ada dalil dari Al-Quran dan hadis serta ijma dari para sahabat. Dari metode penarikan kesimpulan tersebut, tentu tidak mungkin bagi seorang santri yang belajar ilmu Mantiq akan terkikis akhlaknya dan mengurangi sam’an watho’atan kepada kiai. Apalagi jika perintahnya hanya untuk tidak lama-lama dalam membujang.

Wallahu a’lam bisshowab

-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini-

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Latest Posts